INDORAYA – Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan agar perlambatan ekonomi nasional tidak selalu dikaitkan dengan ketidakpastian global. Ia menilai perekonomian Indonesia lebih banyak digerakkan oleh permintaan dalam negeri dibanding faktor eksternal.
Pernyataan itu disampaikan Purbaya dalam sebuah seminar di Thamrin Nine Ballroom, Selasa (27/1/2026). Ia menyoroti narasi lama yang kerap menjadikan kondisi global sebagai alasan utama melemahnya ekonomi domestik.
“Kalau sebelumnya selalu kita bilang apa? Ekonomi global gelap maka ekonomi Indonesia jadi morat marit. Padahal 90% ekonomi Indonesia Indonesia dipengaruhi oleh domestic demand,” ujarnya.
Menurutnya, menyalahkan kondisi global justru menjadi bentuk pembenaran atas ketidakmampuan mengelola ekonomi dalam negeri secara optimal.
“Itu saya bisa simpulkan itu mencari excuse ketika kita gak becus ngurus ekonomi dalam negeri,” ujarnya.
Mantan Ketua Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) itu juga menyinggung proyeksi Dana Moneter Internasional (IMF) terhadap ekonomi dunia pada 2025 yang awalnya diperkirakan 3% lalu direvisi menjadi 3,2%. Di sisi lain, ia menilai suasana di dalam negeri justru kerap dibangun dengan nada pesimistis.
Padahal, menurutnya, perekonomian Indonesia masih mampu mencatat pertumbuhan di atas 5%, dengan ekspor menjadi salah satu penopang utama. Ia pun mengkritik prediksi lembaga internasional yang dinilai tidak selalu akurat.
“Jadi IMF juga kadang-kadang ngawur,” tegasnya.
Purbaya menekankan pentingnya membangun optimisme agar aktivitas ekonomi dalam negeri tetap bergerak. Ia menilai kekuatan utama Indonesia tetap berada pada konsumsi dan permintaan domestik.
“Saya gak peduli dengan global economy. Selama saya bisa jaga domestic demand, ekonomi kita masih bisa akan tumbuh. Jadi teman-teman gak usah takut menteri yang sekarang agak pinter dikit. Tapi kalau global demand-nya bagus ya itu bagus juga buat kita,” pungkasnya.


