Ad imageAd image

Puluhan Mahasiswa UPGRIS Diwisuda Tanpa Skripsi dan KKN, Begini Cerita dari Gesy yang Buat Karya Tulis Ilmiah Sinta 4

Dickri Tifani
By Dickri Tifani 972 Views
5 Min Read
Puluhan mahasiswa UPGRIS lulus tanpa skripsi dan KKN, Rabu (29/5/2024). (Foto: Dickri Tifani Badi)

INDORAYA – Kelulusan mahasiswa di perguruan tinggi baik negeri maupun swasta biasanya harus menyelesaikan penyusunan skripsi yang sudah diujikan oleh dosen hingga dinyatakan lulus.

Namun rupanya itu sudah tidak diberlakukan di salah satu perguruan tinggi swasta (PTS) di Kota Semarang, Jawa Tengah (Jateng), yakni Universitas PGRI Semarang (UPGRIS).

Kini, mahasiswa di kampus swasta tersebut syarat kelulusan bisa digantikan dengan membuat karya tulis ilmiah di jurnal sinta maupun internasional bereputasi.

Hal itu terlihat saat prosesi wisuda UPGRIS ke-77 di Gedung Balairung kampus tersebut, Jalan Dr Cipto Nomor 24, Kota Semarang, Rabu (29/5/2024).

Wisuda tahun ini, ada sebanyak 526 mahasiswa yang diwisuda. Dari ratusan itu, 45 orang di antaranya adalah mahasiswa yang lulus tanpa skripsi dan tidak mengikuti kuliah kerja nyata (KKN).

“Ada yang baru di Universitas PGRI Semarang, kami wisudakan 526 mahasiswa dan 45 mahasiswa di antaranya lulus tanpa skripsi. Mereka menyusun karya tulis ilmiah yang sudah dipublish jurnal bereputasi itu cukup dan nggak perlu skripsi lagi,” ujar Sri Suciati kepada wartawan, Rabu pagi.

BACA JUGA:   Polrestabes Semarang Selidiki Kasus Bapak Aniaya Anak hingga Tewas di Mijen

Menurut Rektor UPGRIS, kampusnya menerapkan mahasiswa tidak diwajibkan untuk tidak menulis skripsi itu sejak pandemi Covid-19 melanda. Kala itu, para mahasiswanya menyampaikan aspirasinya soal kesulitan dalam penelitian di lapangan saat wabah tersebut melanda.

Dari situlah, pihaknya memberikan alternatif kepada mahasiswa akhir untuk tidak menyusun skripsi dengan digantikan membuat artikel ilmiah yang dipublikasikan di jurnal bereputasi. Lebih lanjut, Sri Suciati mengatakan setelah artikel ilmiah dipublish, kemudian dosen pembimbing untuk melakukan pengujian hasil karya ilmiah yang dibuat mahasiswa.

Penerapan kelulusan tanpa skripsi itu lebih kuat ketika regulasi dari pemerintah terkait hal itu keluar. Aturan itu termaktub dalam Peraturan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Permendikbudristek) Nomor 53 Tahun 2023 tentang penjaminan mutu pendidikan tinggi.

“Kami sudah menerapkan di semua prodi untuk tidak menyusun skripsi. Awalnya itu Covid-19 dulu, karena banyaknya mahasiswa kesulitan penelitian di lapangan. Akhirnya, boleh tidak melakukan penelitian tetapi membuat karya konseptual, membuat karya ilmiah yang kemudian diujikan. Seiiring berjalannya waktu, regulasi (pemerintah) muncul pada tahun 2023, sehingga kita bisa betul-betul di semua lembaga tinggi saat ini boleh tidak menyusun skripsi,” tuturnya.

BACA JUGA:   Sepekan, Ngaliyan Semarang Alami Kekeringan Air Bersih

Bahkan tidak hanya lulus tanpa skripsi saja, Sri Suciati bilang mahasiswanya juga ada yang tidak ikut kuliah kerja nyata (KKN) bisa lulus.

“Ada juga yang tanpa KKN, karena mereka konversikan ke mata kuliah tertentu,” ucapnya.

Bukan hanya itu saja, sebanyak 526 mahasiswa yang diwisudakan pada hari ini, yakni sudah dibekali kompetensi dari Lembaga Sertifikasi Profesi Pihak Pertama (LSPP-1) UPGRIS.

“Selain itu, calon wisudawan ini dibekali dengan persiapan masuk dunia kerja, seperti pelatihan membuat surat lamaran pekerjaan, cara menghadapi wawancara dan lain-lain. Mudah-mudahan para lulusan kami semakin siap menghadapi dunia kerja,” beber Sri Suciati.

Salah satu mahasiswa yang lulus tanpa skripsi dan KKN di UPGRIS, Gesy Lutfiah Rosidah Oktaviana mengaku pembuatan artikel ilmiah ada enak dan tidak enaknya.

Tidak enaknya, kata dia, program lulus tanpa skripsi ini terbilang baru di kampusnya yang membuat dirinya ragu-ragu saat proses pembuatan artikel ilmiah. Sebab saat itu, kebijakan dari pemerintah sudah turun tetapi masih ada pro dan kontra.

BACA JUGA:   Gelaran Semarang 10K Sukses Digelar, Wali Kota Semarang: Pengaruhi Pertumbuhan Ekonomi Wilayahnya

“Nggak enaknya, program baru ada pro kontranya dan dulu yang membuat kepikiran bisa lulus atau tidak dengan cara itu. Dan akhirnya, kebijakan tanpa skripsi sudah dikeluarkan baik pemerintah maupun kampusnya,” katanya.

Gesy merupakan mahasiswa angkatan 2020 dan diwisuda pada 29 Mei 2024, akhirnya berhasil menjadi wisudawan yang lulus tercepat untuk jenjang S-1.

Dia berhasil menyelesaikan pendidikan S-1 hanya dalam waktu 3,5 tahun tanpa mengikuti skripsi dan KKN.

Meskipun sibuk organisasi dan menjadi reporter di salah satu televisi lokal di Yogyakarta, Gesy mampu menyelesaikan artikel ilmiah hingga dipublish hanya membutuhkan enam bulan.

Adapun artikel yang dibuat oleh dirinya yakni mengangkat tentang upacara adat pernikahan Jawa yang diupload di jurnal sinta 4 bereputasi.

“Iya membuat artikel nasional sinta 4 yang mengangkat upacara adat pernikahan Jawa, kebetulan seirama dengan prodi saya (Pendidikan Bahasa Jawa). Saya sudah nyusun sejak semester 6 dan 7, sekitar 6 bulan sudah selesai sampai dipublish,” paparnya.

Share this Article