Ad imageAd image

Puluhan Jurnalis Jateng Diajak Membangun Iklim Kondusif Mewujudkan Pilkada Damai 2024

Athok Mahfud
By Athok Mahfud 965 Views
2 Min Read
Diskusi "Jurnalisme Positif: Membangun Pilkada Damai 2024" di Aula Kantor Kesbangpol Jateng, Kota Semarang, Senin (10/6/2024). (Foto: Athok Mahfud/Indoraya)

INDORAYA – Puluhan jurnalis dari berbagai media di Jawa Tengah (Jateng) diajak membangun iklim politik yang kondusif guna mewujudkan Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) 2024 yang damai dengan praktik dan penerapan jurnalisme positif.

Jurnalisme positif bukan hanya tentang memberitakan suatu isu secara faktual dan berimbang, melainkan menyampaikan informasi yang membangun optimisme. Dalam memotret konflik atau situasi, jurnalis memiliki pilihan untuk menyorot sisi positif dan memberikan resolusi yang konstruktif.

Hal ini disampaikan oleh Ketua Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI) Jawa Tengah, Teguh Hadiprayitno dalam diskusi “Jurnalisme Positif: Membangun Pilkada Damai 2024” di Aula Kantor Kesbangpol Jateng, Kota Semarang, Senin (10/6/2024).

BACA JUGA:   Kecewa Tak Diikutkan Rapat Pengupahan, Serikat Buruh Minta Pj Gubernur Jateng Copot Kepala Disnakertrans

Menurutnya, di berbagai daerah seperti Jawa Tengah, penerapan jurnalisme positif belum sepenuhnya terasa, namun di Papua, pendekatan ini telah menunjukkan dampak yang signifikan.

“Dalam konteks konflik etnis atau antar kelompok masyarakat, jurnalisme positif dapat berperan penting dalam membangun kehidupan berbangsa dan bernegara yang lebih harmonis,” kata Teguh.

Dia menegaskan, jurnalisme positif tetap harus kritis sesuai dengan amanat Undang-Undang Pers Nomor 40 Tahun 1999, yang menggariskan bahwa pers memiliki empat fungsi. Termasuk fungsi sebagai media pendidikan dan kontrol sosial.

BACA JUGA:   Pati Kebanjiran, Belasan Desa Terdampak¬†

Menurutnya, tantangan terbesar datang dari media sosial, di mana informasi seringkali tidak terverifikasi hingga memicu kesalahpahaman. Masyarakat seringkali kesulitan membedakan antara informasi yang disajikan oleh media massa dan media sosial.

“Oleh karena itu, media massa yang terverifikasi harus tetap menjadi rujukan utama bagi masyarakat,” tegas Teguh.

Wakil Ketua Komisi A DPRD Jateng, Fuad Hidayat berkata, potensi konflik berbasis SARA dalam Pilkada perlu diwaspadai. Media arus utama memiliki peran penting dalam menyebarkan informasi yang sehat dan faktual serta membangun optimisme masyarakat.

BACA JUGA:   Petugas KPPS Dianggap Tak Profesional, 24 TPS di Jateng Pemungutan Suara Ulang

Di tengah derasnya informasi yang belum jelas kebenarannya dari media sosial, informasi faktual dari media arus utama tetap dibutuhkan. Sehingga Pilkada Jateng 2024 dapat berjalan dengan kondusif.

“Pilkada menjadi nyaman ketika masyarakat mendapatkan informasi tidak hanya cepat. Mari membangun komunitas media yang menjadi kompas masyarakat,” ucap politikus Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) tersebut.

Share this Article