Indoraya NewsIndoraya NewsIndoraya News
Notification Show More
Font ResizerAa
  • BERITA
    • HUKUM KRIMINAL
    • PENDIDIKAN
    • EKONOMI
    • KESEHATAN
    • PARLEMEN
  • NASIONAL
  • PERISTIWA
  • POLITIK
  • JATENG
    • DAERAH
  • SEMARANG
  • RAGAM
    • GAYA HIDUP
    • TEKNOLOGI
    • OLAHRAGA
    • HIBURAN
    • OTOMOTIF
  • OPINI
  • KIRIM TULISAN
Cari
  • PEDOMAN MEDIA SIBER
  • KODE ETIK JURNALISTIK
  • STANDAR PERLINDUNGAN WARTAWAN
  • TENTANG KAMI
  • DISCLAIMER
Copyright © 2023 - Indoraya News
Reading: Puluhan Anak Lintas Agama di Semarang Belajar Nilai Keberagaman Lewat Sapta Darma
Font ResizerAa
Indoraya NewsIndoraya News
  • BERITA
  • NASIONAL
  • PERISTIWA
  • POLITIK
  • JATENG
  • SEMARANG
  • RAGAM
  • OPINI
  • KIRIM TULISAN
Cari
  • BERITA
    • HUKUM KRIMINAL
    • PENDIDIKAN
    • EKONOMI
    • KESEHATAN
    • PARLEMEN
  • NASIONAL
  • PERISTIWA
  • POLITIK
  • JATENG
    • DAERAH
  • SEMARANG
  • RAGAM
    • GAYA HIDUP
    • TEKNOLOGI
    • OLAHRAGA
    • HIBURAN
    • OTOMOTIF
  • OPINI
  • KIRIM TULISAN
Have an existing account? Sign In
  • PEDOMAN MEDIA SIBER
  • KODE ETIK JURNALISTIK
  • STANDAR PERLINDUNGAN WARTAWAN
  • TENTANG KAMI
  • DISCLAIMER
(c) 2024 Indo Raya News
Semarang

Puluhan Anak Lintas Agama di Semarang Belajar Nilai Keberagaman Lewat Sapta Darma

By Lu'luil Maknun
Minggu, 11 Jan 2026
Share
3 Min Read
Puluhan anak usia 10–13 tahun dari berbagai agama di Kota Semarang mengikuti kegiatan Anak Semarang Damai (Semai) #5 di Desa Wisata Srumbung, Bandungan, Kabupaten Semarang, Minggu (11/1/2026)
SHARE

INDORAYA – Puluhan anak usia 10–13 tahun dari berbagai agama di Kota Semarang mengikuti kegiatan Anak Semarang Damai (Semai) #5 di Desa Wisata Srumbung, Bandungan, Kabupaten Semarang, Minggu (11/1/2026).

Di sana, anak-anak belajar langsung sejarah dan nilai luhur ajaran kerohanian Sapta Darma melalui pengalaman interaktif. Peserta datang dari latar belakang Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Buddha, Konghucu, hingga penghayat kepercayaan.

“Kami percaya, tidak ada anak yang terlahir membawa prasangka. Prasangka itu dipelajari. Dan karena ia dipelajari, ia juga bisa dilepaskan,” ujar Direktur Eksekutif EIN Institute, Ellen Nugroho.

Ia menambahkan, kegiatan ini dirancang agar anak-anak pra-remaja dapat belajar sambil berinteraksi, berdiskusi, dan mengenal perbedaan satu sama lain dengan cara menyenangkan.

“Lewat Semai, anak-anak kami ajak berjumpa langsung, belajar dari sumbernya, dan membangun empati terhadap kelompok yang selama ini jarang dikenalkan, bahkan kerap distigmatisasi,” kata Ellen.

Koordinator Persaudaraan Lintas Agama (Pelita) Setyawan Budy menjelaskan, pada kegiatan ini, anak-anak diajak menyimak sejarah Sapta Darma, menyusun linimasa, dan mengikuti delapan pos pembelajaran yang membahas nilai-nilai Wewarah Pitu dan Sesanti.

“Belajar tentang Sapta Darma bukan hanya soal mengenal satu ajaran, tetapi juga tentang belajar menghargai cara-cara manusia Indonesia beriman kepada Tuhan Yang Maha Esa,” kata Setyawan.

Para peserta diajarkan untuk menerapkan prinsip-prinsip moral ini dalam kehidupan sehari-hari, mulai dari kejujuran, kesabaran, hingga saling menghormati.

“Dengan mengalami sendiri perjumpaan ini sejak kecil, anak-anak akan tumbuh dengan kepekaan sosial dan sikap inklusif yang kuat,” tambahnya.

Kegiatan dilanjutkan dengan kunjungan ke Sanggar Candi Busana Blater, tempat anak-anak memperoleh penjelasan tentang simbol, tata cara ibadah, dan praktik sujud khas Sapta Darma. Hal ini agar mereka mendapatkan pengalaman langsung dalam pendidikan keberagaman.

Para peserta juga menyampaikan kesan mereka. Debora Abigail (10), beragama Kristen, mengaku senang belajar langsung dari penghayat Sapta Darma.

“Tadi aku baru tahu kalau Sapta Darma itu mengajarkan banyak hal baik, seperti jujur dan berbuat baik ke sesama. Aku juga senang punya teman baru yang agamanya beda-beda,” ujarnya.

Sementara Nareshwara Kenzie Kaharsayan (11), peserta beragama Islam, berkata bahwa setelah mendengar cerita tentang Sapta Darma, terkesan dengan nilai-nilai pada penghayat kepercayaan tersebut.

“Awalnya aku belum paham Sapta Darma itu apa. Setelah mendengar ceritanya tadi, ternyata isinya mengajarkan jadi jujur, sabar, dan menghormati orang lain. Jadi, meski cara ibadahnya beda, ajarannya bagus-bagus sih,” katanya.

Sejak 2018, Semai telah menghadirkan kegiatan serupa di berbagai tempat ibadah di Semarang. Dengan semangat “Semaikan Cinta dalam Keberagaman”, program ini bertujuan menanamkan benih perdamaian sejak usia dini.

Share This Article
Facebook Whatsapp Whatsapp

Terbaru

  • Gojek Gandeng Dinkes Semarang, Latih Driver Siap Tanggap Darurat di Jalan Minggu, 08 Feb 2026
  • Pemilu 2029 Masih Jauh, Bawaslu–DPRD Semarang Pasang Kuda-Kuda Cegah Pelanggaran Minggu, 08 Feb 2026
  • Jadi Ahli di Singapura hingga AS, Ini Rekam Jejak James Purba sebagai Ahli Kepailitan Minggu, 08 Feb 2026
  • Perkuat Rantai Pasok Ekonomi Lokal, Heri Pudyatmoko Ajak Kolaborasi Semua Pihak Minggu, 08 Feb 2026
  • Heri Pudyatmoko: Perlindungan Perempuan dan Anak di Jawa Tengah Harus Lebih Terintegrasi Minggu, 08 Feb 2026
  • Cegah Kekerasan, Wagub Jateng Minta Fungsi UPTD Perlindungan Perempuan dan Anak Dioptimakan Minggu, 08 Feb 2026
  • Heri Pudyatmoko Ingatkan Pentingnya Indikator Kesejahteraan Non-Angka Makro Minggu, 08 Feb 2026

Berita Lainnya

Semarang

Gojek Gandeng Dinkes Semarang, Latih Driver Siap Tanggap Darurat di Jalan

Minggu, 08 Feb 2026
Semarang

Peringati HUT ke-18, Gerindra Kota Semarang Santuni Anak Yatim Hingga Donor Darah

Minggu, 08 Feb 2026
Semarang

98.545 Peserta PBI Nonaktif, Pemkot Semarang Siapkan Skema UHC

Jumat, 06 Feb 2026
Semarang

Dari Balikpapan Hingga Papua, Karya Barongsai Pengrajin Semarang Diburu Jelang Imlek

Jumat, 06 Feb 2026
Indoraya NewsIndoraya News
Follow US
Copyright (c) 2025 Indoraya News
  • PEDOMAN MEDIA SIBER
  • KODE ETIK JURNALISTIK
  • STANDAR PERLINDUNGAN WARTAWAN
  • TENTANG KAMI
  • DISCLAIMER
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?