INDORAYA – Abrasi yang terus menggerus Pulau Gede mendorong Pemerintah Kabupaten Rembang mengambil langkah pemulihan berbasis lingkungan. Salah satu upaya yang didorong adalah gerakan penanaman mangrove secara masif untuk menjaga keberlanjutan pulau kecil di wilayah pesisir tersebut.
Perhatian terhadap kondisi Pulau Gede disampaikan Wakil Bupati Rembang Mochamad Hanies Cholil Barro’ saat Musyawarah Perencanaan Pembangunan Kecamatan (Musrenbangcam) Kaliori di Pendapa Kantor Kecamatan Kaliori, Selasa (3/2/2026).
“Pulau Gede ini eman. Sekarang tinggal Pulau Gede dan Pulau Siwalan yang kita punya,” ungkap wabup.
Sebagai langkah awal penyelamatan, Pemkab Rembang mendorong keterlibatan banyak pihak dalam gerakan tanam mangrove di Pulau Gede. Unsur yang dilibatkan meliputi komunitas lingkungan, pemerintah kecamatan, Badan Permusyawaratan Desa (BPD), hingga para relawan.
“Mungkin bisa kita kirim relawan nandur. Kita nandur bareng-bareng di Pulau Gede, sambil wisata,” ujarnya.
Upaya pelestarian Pulau Gede, lanjutnya, akan menjadi perhatian serius pemerintah daerah ke depan. Selain menjaga kawasan pesisir, langkah ini juga ditujukan untuk mempertahankan fungsi ekologis dan potensi ekonomi wilayah tersebut.
Tokoh masyarakat Desa Wates, Harjono, menyoroti bahwa abrasi tidak hanya mengancam Pulau Gede, tetapi juga telah menghilangkan Pulau Marongan. Ia menilai perlindungan pulau-pulau kecil di pesisir Rembang harus segera menjadi perhatian, meski kewenangannya berada di tingkat provinsi.
“Abrasi ini perlu menjadi perhatian serius. Kalau Pulau Gede tidak segera diamankan, dampaknya bisa sangat besar. Pulau Marongan saja sekarang sudah hilang,” ujar Harjono.
Pulau Gede sendiri memiliki fungsi penting sebagai pelindung alami pesisir, terutama dari kawasan Pantai Kaliori hingga Pantai Rembang. Namun, kondisi pulau disebut terus menyusut akibat abrasi.
“Pulau Gede sangat bermanfaat. Saat angin barat maupun angin timur, keberadaannya bisa menahan abrasi di sepanjang pantai Kaliori sampai Rembang. Sekarang kondisinya sudah tinggal separuh,” jelasnya.
Harjono berharap persoalan abrasi Pulau Gede dapat diteruskan ke tingkat pemerintahan yang lebih tinggi untuk penanganan terpadu. Selain sebagai benteng alami pesisir, pulau ini juga dinilai memiliki potensi wisata.
“Kalau bisa diamankan, misalnya dengan pembangunan jetty berbentuk huruf U, selain sebagai penahan abrasi juga berpotensi dikembangkan menjadi kawasan pariwisata,” pungkasnya.
Dengan gerakan tanam mangrove yang melibatkan masyarakat dan relawan, Pemkab Rembang berharap Pulau Gede tetap bertahan sebagai pelindung pesisir sekaligus aset lingkungan dan ekonomi daerah.


