Ad imageAd image

[PREBUNKING] Marak Modus Penipuan Online Menjelang Lebaran, Ini Cara Menghindarinya

Athok Mahfud
By Athok Mahfud 82 Views
4 Min Read
lustrasi marak penipuan online. (Foto: Shutterstock)

INDORAYA – Kementerian Komunikasi dan Informatika atau Kominfo mencatat, ada sebanyak 1.730 konten penipuan online selama Agustus 2018 hingga 16 Februari 2023. Bahkan, penipuan online ini menimbulkan kerugian mencapai Rp18 triliun rupiah.

Kasus penipuan online perlu kita waspadai bersama, terutama menjelang Hari Raya Idulfitri atau Lebaran tahun 2024 ini. Banyak pihak yang menjadikan momentum tersebut untuk mencari keuntungan dengan melakukan aksi penipuan.

Para pelaku penipuan biasanya memanfaatkan teknologi digital seperti media sosial sebagai senjata untuk melancarkan aksinya. Dalam praktiknya, ada beberapa modus yang berulang-ulang kali digunakan oleh pelaku dalam melakukan tindakan kriminal tersebut.

Pertama, penipuan tiket transportasi dan paket liburan. Banyaknya orang yang ingin mudik lebaran dan berlibur membuka celah bagi para penipu untuk memulai aksinya.

Modusnya, penipu membuat situs web palsu lalu menawarkan penjualan tiket transportasi dengan harga murah melalui media sosial seperti Facebook, Instagram, atau WhatsApp.

BACA JUGA:   [HOAKS] Prabowo Sah Jadi Presiden, Gugatan Anies dan Ganjar Ditolak MK

Modus ini biasanya meminta pembayaran di muka. Namun, setelah pembayaran dilakukan, tiket atau paket perjalanan yang dipesan tidak pernah diterima dan korban kehilangan uangnya.

Kedua, modus penipuan berkedok menang undian THR (tunjangan hari raya). Cara kerjanya, penipu mengatasnamakan bank maupun e-commerce dan memberi tahu melalui pesan WhatsApp bahwa korban dapat hadiah atau THR.

Pelaku kemudian meminta targetnya menyerahkan sejumlah data pribadi, seperti nomor telepon, nomor rekening, KTP, atau kode OTP. Data-data tersebut inilah yang menjadi sumber awal penyerangan siber.

Jika datamu berhasil dibobol, pelaku bisa mengaksesnya, maka dia akan mencuri uang dari saldo rekening maupun dompet digital yang kamu miliki.

Selain itu, modus lainnya adalah penawaran voucher atau promo belanja online spesial lebaran. Pelaku biasanya beraksi melalui WhatsApp dengan menawarkan berbagai produk online shop.

BACA JUGA:   [SALAH] Surya Paloh Kembali Bergabung ke Kubu Prabowo-Gibran

Lalu penerima pesan diarahkan mengklik tautan untuk mendapatkan promo belanja tersebut. Namun tautan itu ternyata palsu dan pelaku bisa mengakes data-data keuangan pribadi, termasuk nomor rekening.

Selain itu, pelaku juga menggunakan modus-modus lain. Seperti mengirimkan file APK undangan buka puasa, permintaan maaf di hari lebaran, dan penawaran zakat. Tujuannya untuk menjebak korban agar saldo di bank dan dompet digital bisa dicuri.

Maka dari itu, kamu harus selalu waspada dan ekstra hati-hati. Jangan sampai terkecoh dengan berbagai modus yang dilakukan oleh para penipu yang tidak bertanggung jawab.

Ada beberapa cara yang bisa kamu lakukan agar terhindar dari penipuan semacam itu. Apa sajakah itu?

Pertama, selalu waspada dan tidak mudah percaya terhadap promo tiket transportasi, diskon belanja online, dan berbagai penawaran yang menggiurkan.

BACA JUGA:   [HOAKS] MK Diskualifikasi Prabowo, Pemilu 2024 Resmi Diulang Kembali

Kedua, lakukan verifikasi apabila penawaran itu mengatasnamakan instansi seperti bank, penyedia layanan transportasi, dan platform e-commerce.

Kemudian jangan pernah melakukan transaksi di luar platform resmi. Demi keamanan, selalu lakukan pembelian di platform marketplace maupun website resmi dari perusahaan.

Jangan memberikan informasi pribadi ke sembarang orang, seperti kode OTP, sandi email, nomor rekening, kartu kredit, dan data-data lainnya. Selain itu, jangan asal klik tautan dan membuka file APK dari orang yang tidak dikenal.

Langkah terakhir, jika menemukan atau mengalami penipuan online, segera laporkan kepada pihak yang berwajib agar langsung ditindaklanjuti.

Seiring dengan meningkatnya kebutuhan dan banyaknya transaksi, penipuan online rawan terjadi di masa-masa lebaran. Banyak orang yang sudah menjadi korban. Jadi jangan mudah termakan oleh informasi bohong yang belum kebenarannya.

Share this Article
Leave a comment