Ad imageAd image

Popularitas Ade Bhakti Dinilai Bakal Ganggu Peluang Mbak Ita di Pilwakot Semarang 2024

Athok Mahfud
By Athok Mahfud 730 Views
5 Min Read
FGD "Membaca Politik Tahun 2024 Jelang Pilwakot Kota Semarang" yang digelar oleh Forum Media Online Kota Semarang (FOMOS) di Rumah Popo, Kompleks Kota Lama Semarang, Jumat (19/1/2024) sore. (Foto: Athok Mahfud/Indoraya)

INDORAYA – Nama Ade Bhakti Ariawan, ASN Pemkot Semarang muncul dalam bursa pencalonan Pemilihan Wali Kota (Pilwakot) Semarang tahun 2024 setelah memiliki popularitas yang tinggi di media sosial dan semakin dikenal masyarakat luas.

Bahkan Ade yang saat ini menjabat Kepala Dinas Pemadam Kebakaran (Damkar) Kota Semarang dinilai bakal mengganggu kans Wali Kota Semarang Hevearita G Rahayu dalam kontestasi Pilwakot yang dihelat pada bulan November 2024 mendatang.

Hal ini dikatakan oleh Peneliti AKSARA Research dan Consulting, Darmawan Iskandar dalam FGD bertema “Membaca Politik Tahun 2024 Jelang Pilwakot Kota Semarang”. Agenda ini digelar oleh Forum Media Online Kota Semarang (FOMOS) di Rumah Popo, Kota Lama Semarang, Jumat (19/1/2024) sore.

Menurutnya, Ade Bhakti punya modal besar untuk mencalonkan diri sebagai calon Wali Kota Semarang. Popularitasnya di media sosial yang sangat tinggi bahkan bisa menghambat kans Mbak Ita selaku petahana.

Dia menilai, Mantan Camat Gajahmungkur yang viral di media sosial ini lebih unggul di kalangan kaum milenial dan generasi Z daripada Mbak Ita. Meskipun Mbak Ita diuntungkan karena posisinya sebagai petahana.

“Yang menarik memang Bu Ita di survei masih teratas di angka sekitar 30-an lebih tetapi di kalangan milenial dan Gen Z dia masih cukup rendah kalah oleh Ade Bhakti dan Mas Yoyok Sukawi (Anggota DPR RI),” kata Darmawan.

BACA JUGA:   Dokter Spesialis Bedah Saraf Dipecat dari RS Kariadi Semarang, Akui Gegara Sering Kritik Kemenkes

Menurutnya, suara generasi muda menjadi penentu dalam kontestasi Pilwakot Semarang 2024 mendatang. Pasalnya 52 persen pemilih di Ibu Kota Provinsi Jateng ini berasal dari kaum milenial dan Gen Z.

Dia bilang, inilah yang menjadi tantangan bagi Mbak Ita yang menurutnya belum mampu menjangkau generasi muda.

“Bu Ita belum mampu menyasar ke situ (Gen Z dan milenial). Saya kira Bu Ita PR-nya berat karena belum mampu menyasar ke situ, menyasar ke pemilih milenial dan Gen Z di Kota Semarang,” ujar Darmawan.

“Karena mereka (Gen Z dan milenial ini pemilih mayoritas dan saya kira dunia media sosial berkembang pesat menjadi penentu arah politik Indonesia,” imbuhnya.

Dia juga melihat Ade Bhakti berpeluang diusung oleh PDIP meskipun Mbak Ita juga kader partai tersebut. Ini juga tergantung pada berbagai faktor, salah satunya yaitu elektabilitas

“Ketika Bu Ita tidak mampu mengoptimalkan kekuatannya saya kira akan menjadi pertimbangan juga di temen-temen PDIP ketika melihat harus merekomendasikan siapa,” ujar Darmawan.

BACA JUGA:   Musim Hujan, Warga Mangkang Wetan Semarang Takut Banjir Kembali Datang

Apalagi ASN Pemkot tersebut punya hubungan emosional dengan Ketua DPC PDIP, Hendrar Prihadi atau Hendi. Ade Bhakti pernah menjadi ajudan waktu Hendi masih menjabat Wali Kota Semarang.

“Siapa tahu besok tiba-tiba Ade Bhakti mendaftar di PDIP dan dia kemudian di survei internal PDIP tinggi, siapa tahu dapat rekomendasi atau bahkan kemudian dipasangan bisa jadi,” katanya.

Atau bisa jadi nanti Mbak Ita dan Ade Bhakti akan dipasangkan. Tentu hal ini melihat dinamika politik yang terjadi. Apalagi masih ada sosok lain yang bisa diusung PDIP seperti Ketua Kadin Kota Semarang, Arnaz Andrarasmara.

“Catatannya Mas Hendi masih punya pengaruh, sekarang bagaimana PDIP mencari sosok di luar Bu Ita yang punya kans. Bisa jadi kenapa gak Bu Ita sama Mas Arnas atau Bu Ita Mas Adhe itu kan masih ada kemungkinan, politik itu kan dinamis,” ungkap Darmawan.

Sementara itu, pengamat politik yang juga dosen FISIP Universitas Diponegoro Dzunuwanus Ghulam Manar menilai, di tengah gandrungnya media sosial saat ini, citra dan popularitas seseorang menjadi sangat penting dalam dunia politik.

BACA JUGA:   Kuliner Kauman Semarang Dibidik Pelaku UMKM, 300 Pedagang Masih Mengantre Berjualan

Bahkan menurutnya, program dan gagasan bukan menjadi faktor dominan untuk menarik perhatian pemilih, khususnya kaum muda. Maka popularitas di media juga menjadi modal awal yang dimiliki seseorang ketika ingin mencalonkan diri.

“Ini yang disebut politainment, jadi politik itu dibikin infortaiment, muncul lewat instagram dan TikTok masyarakat seneng. Masalah program dan gagasan nanti yang penting tampilan di media sosial itu yang kemudian menarik perhatian kita semua,” ujar dia.

Darmawan juga menilai bahwa Ade Bhakti semakin viral dan populer berkat setelah mengkritik lomba masak nasi goreng ala Mbak Ita. Selain itu banyak konten buatan Ade yang disukai masyarakat.

Sehingga, kata dia, popularitas ini menjadi modal awal yang membuat Ade punya kans besar untuk maju dalam kontestasi Pilwakot Semarang 2024 mendatang.

“Mas Ade luar biasa bisa mengemas itu dari apa yang dia lakukan tidak hanya cari sensasi tapi dia ada edukasinya bagi masyarakat, yang menerima akan mem-follow mengajak foto-foto walaupun hanya di level Kota Semarang,” tandasnya.

Share this Article
Leave a comment