Ad imageAd image

Pj Gubernur Jateng Minta Isu PHK Jangan Dibesar-besarkan, Buruh: Jangan Menutupi Fakta

Athok Mahfud
By Athok Mahfud 4 Views
3 Min Read
Auloa Hakim dalam konferensi pers deklarasi pembentukan Alinsi Buruh Jawa Tengah Presidium Kota Semarang di Hotel Siliwangi, Senin (24/6/2024).

INDORAYA – Sekretaris Aliansi Buruh Jawa Tengah (ABJAT), Aulia Hakim merespon pernyataan Pj Gubernur Jawa Tengah (Jateng), Nana Sudjana, yang meminta pemberitaan soal isu pemutusan hubungan kerja (PHK) supaya tidak dibesar-besarkan.

Menurut Aulia, fakta yang ada di lapangan harus dibuka dan tidak boleh ditutup-tutupi. Fakta yang terjadi di PT Sai Apparel Industries ialah PHK karyawan, namun Pemprov berdalih itu adalah imbas relokasi pabrik dari Kota Semarang ke Kabupaten Grobogan.

Selain itu berdasarkan data yang dia dapat, pekerja di PT Sai Apparel yang terkena PHK, kembali dipekerjakan sebagai tenaga harian lepas. Namun Pemprov Jateng berdalih bahwa karyawan terkena PHK tetap dipekerjakan sebagai PKWT atau pekerja kontrak.

“Pemprov seakan-akan ketakutan mengakui PHK, (bilang) ini alasan relokasi, tapi fakta yang kami temukan adalah salah satu perusahaan yang mengatakan itu kontrak itu harian lepas, makanya diakui lah untuk evaluasi,” katanya saat deklarasi ABJAT Presidium Kota Semarang di Hotel Siliwangi, Senin (24/6/2024).

Menurut Aulia, seharusnya Pemprov Jateng mengakui terjadinya gelombang PHK. Pemerintah seharusnya tidak perlu takut jika badai PHK bakal membuat iklim investasi di Jateng menurun.

“Jangan menutupi fakta bahwa tidak ada PHK, memang terjadi PHK, tapi mereka (Pemprov) mengatakan aman-aman aja Jateng. Padahal faktanya ada PHK, atau mungkin saja pemerintah Jawa Tengah takut karena investasi banyak yang masuk di Jateng tiba-tiba malah banyak PHK,”ujar dia.

Aulia menegaskan, kelompok buruh tidak menolak investasi. Justru pihaknya akan mendukung jika investasi yang dilakukan dapat menyerap tenaga kerja hingga dapat menyejahterakan masyarakat, terutama kalangan pekerja.

“Kami tidak menolak investasi, tidak, kami paham efek investasi tenaga kerja terserap, perekonomian jalan. Tetapi buat apa investasi kalau mendegradasi upahnya kecil. Makanya boleh beradu data bahwa itu (Pemprov menyebut) aman-aman saja,” ungkap dia.

Menurut Aulia, dalam menjalankan bisnis dan investasi, perusahaan cenderung lebih mementingkan keuntungan, namun tidak memperhatikan nasih pekerja yang sudah bekerja keras menghidupkan aktivitas produksi.

“Kalau investasi ini sangat kental dengan hubungan PHK, saya sampaikan jangan sampai Jateng gambar-gembor investasi masuk, tapi faktanya yang terjadi PHK besar-besaran,” tandasnya.

Diberitakan sebelumnya Pj Gubernur Jawa Tengah, Nana Sudjana membenarkan adanya pemutusan hubungan kerja (PHK) pada ribuan buruh karena sejumlah pabrik tekstil di Jateng tutup permanen.

Kendati demikian, dia meminta agar publik tidak terlalu menghebohkan hal tersebut bila belum mengetahui faktanya. Dia mengatakan, sejumlah perusahaan disebut telah memenuhi hak buruh yang terdampak PHK.

“Terkadang terlalu dibesar-besarkan, setelah cek lapangan ternyata tidak demikian. Memang ada beberapa perusahaan yang melakukan PHK, tapi jumlahnya kecil,” ujar Nana Sudjana di Pasar Bulu, Semarang, Kamis (20/6/2024).

Share This Article