INDORAYA – Minat perusahaan migas kelas dunia untuk berinvestasi di sektor hulu minyak dan gas bumi Indonesia kembali menguat. Pemerintah menilai ketertarikan tersebut muncul seiring perbaikan iklim investasi yang semakin kompetitif dan fleksibel, sehingga mendorong kembalinya pemain global yang sebelumnya sempat meninggalkan Indonesia.
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mencatat, ketertarikan investor asing meningkat setelah pemerintah menjalankan kebijakan kontrak kerja sama yang lebih adaptif, khususnya dengan menghidupkan kembali skema kontrak bagi hasil Production Sharing Contract (PSC) cost recovery di samping tetap mempertahankan skema Gross Split.
Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM Laode Sulaeman menjelaskan, kebijakan tersebut membuat iklim fiskal sektor migas Indonesia kembali kompetitif di mata investor global.
“Sebelumnya yang PSC ini sudah kita batasi, kita lebih berpihak kepada Gross Split. Tapi sekarang dua-duanya kita jalankan dan diberikan insentif-insentif. Sehingga pelaku-pelaku lama yang dulunya sudah keluar tertarik untuk kembali. Seperti itu, jadi kita melihat di fiscal term-nya menarik, mereka mau balik,” kata dia di Jakarta, dikutip Selasa (23/12/2025).
Menurut Laode, Indonesia masih menjadi destinasi yang menjanjikan bagi perusahaan migas internasional. Ketertarikan investor datang dari berbagai kawasan, mulai dari Eropa, Asia, hingga Timur Tengah.
“Kalau kita lihat di negara kita ini kan ada dari Itali, ENI. Kemudian tetangga kita Petronas ada, PetroChina ada. Kemudian dari Timur Tengah ada Mubadala. Jadi banyaklah negara-negara dari luar,” ujar Laode.
Sinyal positif tersebut juga diperkuat oleh data dari Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Migas (SKK Migas). Kepala SKK Migas Djoko Siswanto menyebutkan, terdapat sedikitnya 25 perusahaan yang menunjukkan minat masuk ke proyek migas Indonesia, termasuk perusahaan migas papan atas dunia.
“Ada Total. Chevron sudah komit untuk datang dan lihat mana yang besar-besar. Shell juga alhamdulillah. Keren kan?,” kata Djoko saat ditemui di sela acara The 49th IPA Convention and Exhibition di ICE BSD, Tangerang, Selasa (20/5/2025).
Djoko menilai, ketertarikan perusahaan-perusahaan global tersebut menjadi indikator kuat bahwa daya saing investasi migas Indonesia masih sangat tinggi. Selain itu, potensi sumber daya migas nasional dinilai masih besar dan layak dikembangkan dengan teknologi mutakhir.
Untuk memperkuat minat investor, SKK Migas saat ini juga fokus meningkatkan kualitas penyediaan data wilayah kerja agar lebih terbuka dan mudah diakses oleh calon investor.
“Kita juga sudah mulai ada regulasi untuk open data, teknologi makin maju dan mereka juga punya alat untuk melihat itu sehingga mereka tertarik. Terus fiscal terms kita juga sangat fleksibel sekarang, dari segi perizinan juga pemerintah support sekali dan kita jelas targetnya untuk naikin produksi dan welcome untuk semua teknologi untuk naikin produksi. Itu yang buat mereka tertarik,” katanya.


