Ad imageAd image

Peringati Hari Kartini, Wakil Ketua DPRD Jateng Ingatkan Kasus Perkawinan Anak Yang Masih Tinggi

Redaksi
By Redaksi 103 Views
2 Min Read
Wakil Ketua DPRD Jateng, Heri Pudyatmoko saat meninjau bencana banjir di wilayah Jawa Tengah belum lama ini.

INDORAYA – Angka perkawinan anak di Jawa Tengah yang masih sangat tinggi, menjadi perhatian Wakil Ketua DPRD Jateng, Heri Pudyatmoko dalam menyambut Hari Kartini, 21 April 2022.

Heri Pudyatmoko menegaskan, perkawinan anak perlu mendapat perhatian Pemerintah Provinsi Jawa Tengah secara ekstra, baik di masa sekarang maupun mendatang. Data selama tahun 2021 menunjukkan bahwa angka perkawinan anak di Jawa Tengah sebanyak 9.868 kasus. Tertinggi berada di Kabupaten Cilacap (724 kasus) dan terendah di Kota Salatiga (19 kasus).

“Perkawinan anak dapat berdampak pada kesehatan fisik maupun mental, khususnya pada anak perempuan jika segera diikuti dengan kehamilan. Selain melahirkan, norma yang masih banyak berlaku di masyarakat memberikan tanggung jawab yang lebih besar kepada istri untuk mengasuh anak dan mengelola rumah tangga,” katanya, baru-baru ini.

BACA JUGA:   Keluarga Tersangka Bharada E Minta Perlindungan ke Pemerintah

“Maka untuk itu, pemerintah kami harapkan bisa lebih fokus dalam penanganan masalah ini. Karena pengetahuan dan pendidikan masih minim, mereka tidak mengetahui risiko kesehatan reproduksi dan pentingnya berbagai hal tentang rumah tangga. Pemprov Jateng perlu melakukan pendampingan, pelatihan-pelatihan usaha, sosialisasi manajemen keuangan keluarga, edukasi, penyuluhan tentang pernikahan yang sehat dan berdaya kepada generasi milenial di berbagai daerah,” tegasnya.

Tak hanya soal perkawinan anak, kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak masih terus terjadi, bahkan bisa dikatakan sebagai fenomena gunung es. Di mana yang tampak dipermukaan (yang terlapor dan melapor) tidak sebanding dengan kejadian yang sesungguhnya. Di moment Hari Kartini, isu-isu terkait perempuan yang masih ada, diharapkan menjadi perhatian serius pemerintah. Termasuk soal perlindungan hak-haknya.

BACA JUGA:   600 Mahasiswa Kepung Gedung Gubernur Jateng Tolak Kenaikan Harga BBM

“Adanya budaya malu dan takut melapor karena bisa dianggap aib menjadi kendala di masyarakat sehingga ini perlu terus didorong untuk memberikan penyadaran dan keberanian kepada masyarakat, utamanya kaum perempuan dan anak. Sampai dengan tahun 2021 angka rasio kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak sebesar 8,35 per 100.000 penduduk,” tegasnya.

Dikatakan, peringatan hari Kartini, harus dimaknai sebagai era kebangkitan perempuan Indonesia. Peran perempuan Indonesia sangat diharapkan untuk berkontribusi mendorong pemulihan ekonomi akibat pandemi.

Pemerintah, kata dia, perlu memiliki komitmen memberi peluang sebesar-besarnya kepada perempuan Indonesia untuk berkarya dan memaksimalkan potensinya di segala sektor.(Advetorial-IR)

BACA JUGA:   Dikecam Negara Barat, Presiden Rusia Jalin Kerjasama Dagang Dengan Brasil Hingga Afrika Selatan
Share this Article