Ad imageAd image

Pemprov Ungkap Peluang dan Tantangan Investasi di Jawa Tengah Tahun 2023

Redaksi Indoraya
By Redaksi Indoraya 2 Views
3 Min Read
Kepala Dinas Penanaman Modal Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Jawa Tengah, Sakina Rosellasari. (Foto: Athok Mahfud/Indoraya)

INDORAYA – Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Tengah (Jateng) melalui Dinas Penanaman Modal Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) mencatat, total realisasi investasi hingga triwulan III tahun 2023 menembus Rp 41,29 triliun.

Nilai investasi ini terdiri dari Penanaman Modal Asing (PMA) dan Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN). Dengan rincian PMA menyumbang sebesar Rp 17,15 triliun dan PMDN sebesar Rp 24,14 triliun.

Adapun berdasarkan data DPMPTSP Jateng, sektor yang terbesar nilai investasinya pada PMA adalah industri barang dari kulit dan alas kaki. Sedangkan pada PMDN adalah sektor transportasi, gudang, dan telekomunikasi.

Kepala DPMPTSP Jawa Tengah, Sakina Rosellasari mengungkapkan, investasi di Jateng pada tahun 2023 menghadapi sejumlah tantangan yang kompleks. Satu di antaranya dipengaruhi oleh situasi perang global.

“Terdampak oleh kondisi global diantaranya adanya perang antara Rusia dan Ukraina yang mengakibatkan berkurangnya permintaan pasar atau menurunnya nilai eksport,” katanya saat ditemui di kantornya, Jumat (10/11/2023).

Tantangan lainnya yaitu miss and match antara kompetensi dan ketersediaan tenaga kerja. Selain itu adanya disharmoni regulasi dalam pelayanan di berbagai layanan pemerintahan di tingkat pusat, provinsi, dan kabupaten/kota.

“Belum semua kabupaten/kota menyusun RDTR (Rencana Detail Tata Ruang) untuk kepastian peruntukan lokasi, adanya aturan terkait LSD (Lahan Sawah Dilindungi),” kata Sakina.

Satu tantangan lainnya menurut Sakina, daerah favorit investasi masih berpusat di wilayah Pantura Jawa Tengah. Aktivitas investasi belum menyebar dan merata ke bagian tengah dan selatan Jawa Tengah.

Di luar itu, Sakina membeberkan sejumlah peluang investasi di Jateng. Menurutnya, ada sejumlah faktor pemicu ketertarikan pelaku usaha menanamkan investasinya. Salah satunya karakter dan kualitas tenaga kerja di Jateng.

Selanjutnya infrastruktur pendukung investasi yang meliputi akses jalan, bandara, pelabuhan, kereta api, listrik, gas, air. Pelayanan perizinan yang terbuka menerima konsultasi, pendampingan kepeminatan, dan pengawalan investasi yang intensif juga membuat pelaku usaha tertarik berinvestasi di Jateng.

Sakina optimis bahwa investasi Jateng akan terus tumbuh. Hal ini ditunjukkan dengan bukti bahwa hampir setiap minggu DPMPTSP menerima kunjungan calon investor dari berbagai negara.

“Antara lain Korea Selatan, Taiwan, China, Vietnam, Hongkong serta dari dalam negeri yang konsultasi terkait lokasi investasi baik di Kawasan Industri maupun Kawasan Peruntukan Industri Kabupaten/Kota se-Jawa Tengah,” katanya.

Dia mengatakan, adapun jenis usaha mayoritas masih pada sektor padat karya (labor intensive sector) yang menyerap tenaga kerja banyak di pabrik alas kaki, garment, tekstil, apparel.

“Meski sudah mulai bergeser ke industri padat modal (capital intensive sector) seperti baterai, kaca, keramik, kendaraan listrik dan industri lainnya yang memerlukan investasi besar,” katanya.

Sakina bilang, kawasan Industri di Jateng sampai dengan saat ini terdapat delapan dengan ketersediaan sarana prasarana yang memadai. Serta kawasan peruntukan industri yang tersebar di 35 Kabupaten/Kota se-Jateng.

“Aa 6 enam kawasan industri yang menjadi andalan Jawa Tengah yaitu Grand Batang City (KIT Batang), Batang Industrial Park, Aviarna Industrial Park, Kawasan Industri Kendal, Jateng Land Industrial Park, dan Kawasan Industri Cilacap,” tandasnya.

Share this Article