Ad imageAd image

Pemprov Jateng Surati Kemenhub Minta Status Bandara Ahmad Yani Kembali Jadi Internasional

Athok Mahfud
By Athok Mahfud 47 Views
3 Min Read
Pj Gubernur Jawa Tengah Nana Sudjana. (Foto: Athok Mahfud)

INDORAYA – Penjabat Gubernur (Pj) Jawa Tengah (Jateng), Nana Sudjana mengungkapkan, pihaknya sudah mengirim surat ke Kementerian Perhubungan (Kemenhub) untuk meminta agar status bandara di Jateng dikembalikan ke level internasional.

Sebelumnya Kementerian Perhubungan mengeluarkan Keputusan nomor 31/2024 tentang Penetapan Bandar Udara Internasional. Bandara Ahmad Yani Semarang dan Bandara Adi Soemarmo Solo levelnya turun menjadi bandara domestik.

Menurutnya, pengalihan dua bandara internasional ke level domestik ini bisa berpotensi mengganggu daya tarik investasi di Jateng. Oleh sebab itu, dia merespon aspirasi pengusaha agar kedua bandara ini dikembalikan statusnya menjadi internasional.

“Terkait hal ini saya terus melakukan langkah supaya bisa tetap menjadi bandara internasional,” katanya dalam keterangan yang diterima Indoraya.news, Senin (3/6/2024).

Berbagai upaya sudah ditempuh Pemprov Jateng, mulai komunikasi langsung hingga mengirim surat resmi kepada Kemenhub. Dia berharap, paling tidak ada satu bandara internasional di Jateng, karena sangat berpengaruh terhadap investasi yang akan masuk.

“Sedang berproses untuk mengupayakan bandara ini. Kami tidak menjanjikan, tapi kami upayakan semaksimal mungkin, minimal salah satu dari dua bandara ini dibuka kembali (untuk penerbangan internasional),” jelas Nana.

Sementara perwakilan pengusaha dari Busana Apparel Group Ungaran Sari Garmen, Cipto Santoso menyatakan, tidak adanya bandara internasional di Jateng membuat para investor kesulitan akses masuk.

“Beberapa waktu lalu ada investor dari US. Owner-nya membawa pesawat pribadi dan mau landing di airport terdekat. Saat diminta landing di Jakarta lalu diteruskan penerbangan domestik ke Semarang (owner) tidak mau, bahkan berniat tidak jadi investasi,” ujarnya.

Permasalahan tersebut akhirnya dapat diselesaikan dengan bantuan dari Pemprov Jateng. Akhirnya ada dua perusahaan furniture yang mendapat pesanan eskpor dan bisnisnya berjalan.

“Kalau harus flight ke Jakarta baru ke Semarang kurang efisien. Kalau bisa kembali (menjadi bandara internasional) maka akan sangat membantu iklim bisnis di Jawa Tengah,” jelasnya.

Selain persoalan bandara internasional, para pengusaha juga berharap pelabuhan internasional di Jateng. Pelabuhan tersebut diharapkan dapat langsung terhubung ke wilayah Eropa dan Amerika tanpa transit di Singapura.

Pewakilan dari PT Selalu Cinta Indonesia, Adam mengatakan, belum bisa mengirimkan produk sepatunya langsung ke Amerika melalui Pelabuhan Tanjung Emas.

“Tanjung Emas baru sekitar 60-65 persen tujuan ekspor kita. Jarak jauhnya kita masih pakai Tanjung Priuk. Saat ini kapal kita masih transit di Singapura, baru ke Eropa dan Amerika,” katanya.

Adam juga mendorong infrastruktur pendukung transportasi dan perhubungan lainnya ditingkatkan. Misalnya infrastruktur pendukung trasnportasi publik seperti Trans Jateng agar bisa lebih dioptimalkan menghubungkan semua kabupaten/kota.

Sekda Provinsi Jateng Sumarno menambahkan, saat ini sedang diupayakan pelabuhan internasional bisa dibangun di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Kendal. Di sana juga terdapat perusahaan yang produknya ekspor dan harus digulung di kapal langsung.

“Tanjung Emas sangat sulit untuk dikembangkan lagi. Maka kami terus mendorong agar pelabuhan yang di Kendal segera terealisasi,” ujar Sekda Jateng.

Share this Article