Ad imageAd image

PekaKota Institute 2024, Musisi Cholil Mahmud Sebut Musik Jadi Media Berdemokrasi yang Efektif

Redaksi Indoraya
By Redaksi Indoraya 43 Views
4 Min Read
Cholil Mahmud, vokalis sekaligus penulis lirik lagu band Efek Rumah Kaca menjadi pembicara program PekaKota Institute 2024 yang digelar Kolektif Hysteria Semarang.

INDORAYA – Cholil Mahmud, seorang musisi yang juga vokalis sekaligus penulis lirik lagu band Efek Rumah Kaca (ERK) menyebut bahwa musik bisa menjadi media berdemokrasi yang efektif. Dia memandang musik sebagai sarana untuk menyuarakan pendapat.

Hal ini dikatakannya saat menjadi narasumber di kelas PekaKota Institute 2024 yang digelar Kolektif Hysteria di Jalan Stonen Nomor 29, Bendan Ngisor, Gajahmungkur, Kota Semarang, Selasa (14/5/2024).

Bentuk penyuaraan yang dimaksud oleh Cholil Mahmud salah satunya melalui lirik. Seperti yang dilakukan pada lagu-lagu mereka, sejak pertama kali mulai bertemu para personil ERK lain pada tahun 2001 silam.

Pada perjalanannya, Cholil Mahmud menceritakan bahwa mereka layaknya musisi pada umumnya. Yakni menulis lirik dan meramu musik secara mengalir sesuai panggilan hati mereka, tanpa dengan sengaja mengkonsepsi bentuk ke arah kritik sosial.

Lagu dengan tema kritik sosial dan politik yang menjadi materi single pertama ERK ternyata mendapatkan sorotan dari publik. Meskipun Cholil mengakui, mereka awalnya tidak menyangka akan direspon sebesar itu.

BACA JUGA:   Berkomitmen Tangani Stunting, Pemkot Semarang Launching Germas serentak di 177 Kelurahan

“Bahkan dari media juga ya, me-highlight itu adalah mungkin menjadi salah satu (ekspresi musik) yang cukup berbeda dengan band independen di Jakarta-Bandung saat itu,” kata dia.

“Sehingga dari situ, tidak ada rekayasa harus album berikutnya jadi begitu lagi. Tapi karena memang merasa terpanggil, di album pertama kita buat seperti itu,” imbuh Cholil.

Panggilan dan kepengaruhan terhadap tema yang mereka angkat selanjutnya dituliskan menjadi lirik-lirik di lagu ERK ternyata tidak jauh dari latar belakang Cholil sebagai anak seorang dosen.

Tumbuh dalam lingkungan akademisi, selain dipengaruhi oleh reportase dan dokumentasi berita, ia juga menyukai dunia sastra. Sehingga modal tersebut ia manfaatkan untuk menuangkannya dalam bentuk lirik.

Dari sanalah, kata Cholil, Efek Rumah Kaca tidak hanya menjadikan musik sebagai sarana bersenang-senang. Akan tetapi juga sebagai media untuk mengekspresikan pendapat.

BACA JUGA:   2 Peracik Dibekuk, Bareskrim Polri Buru Otak Utama Kasus Pabrik Narkoba di Semarang

Kemantapan ERK menjadikan musik untuk menumbuhkan diskursus terkait tema-tema tertentu kemudian membuat mereka konsisten berada di jalur tersebut usai mendapat respon positif dari publik.

“Lantas apakah musik bisa menggerakkan orang itu, saya nggak tahu. Tapi sebagai awalan untuk membicarakan topik tertentu gitu, saya yakin masih efektif,” ungkap CHolil.

Sejak perilisan album ERK pada tahun 2007 hingga 2023, diakuinya bahwa ruang interaksi dan diskusi masih terbuka secara organik, melalui lagu-lagu mereka.

“Percakapan seperti apa? Ya melalui media sosial atau di tempat-tempat lain, bahwa lagu itu bisa memantik interaksi,” kata dia.

Seolah sesuai dengan salah satu single mereka berjudul ‘Pasar Bisa Diciptakan’, Cholil semakin yakin bahwa warna musik yang ERK pilih dalam saat ini adalah jalan yang benar.

Terlebih, di usianya yang kian matang, dia menyadari bahwa dirinya adalah bagian dari negara yang berhak memberikan kritik dan saran terkait sistem pemerintahan demokrasi dengan tujuan memberikan dampak positif terhadap kehidupan di Indonesia.

BACA JUGA:   263 Pemilir Diangkut KRI Banjarmasin dari Pelabuhan Tanjung Emas Semarang ke Jakarta

“Berusaha untuk menyatakan sikap (melalui lirik), inginnya supaya baik masyarakatnya. Yang mana kalau kita ngomongin demokrasi, hal yang penting termasuk di dalamnya adalah politik warga,” terang Cholil.

Menurutnya, keyakinan itu didasari dari hakikat demokrasi seperti yang dikemukakan Abraham Lincoln. Demokrasi memiliki tiga substansi, yakni dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat.

Untuk diketahui, PekaKota Institute ialah salah satu agenda yang masuk dalam rangkaian menuju peringatan ulang tahun Hysteria ke-20 dan masuk dalam Event Strategis Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemendikbudristek) RI.

Dengan dukungan dana dari Indonesiana, PekaKota Institute 2024 yang digagas Kolektif Hysteria mendatangkan setidaknya 38 lebih pengajar kelas dari berbagai latar belakang disiplin keilmuan dan bidang.

Share this Article