INDORAYA – Kita selalu memiliki akses internet di hidup kita, tetapi semakin banyak remaja yang merasa sendirian meskipun ada begitu banyak platform digital untuk berinteraksi. Ada banyak platform online, tetapi tidak banyak tempat nyata di mana orang benar-benar mendengarkan.
Oleh karena itu, banyak remaja lebih memilih untuk mencurahkan isi hati mereka kepada chatbot atau kecerdasan buatan (AI). Bukan karena mereka tidak punya teman, tapi mereka takut dianggap drama jika menunjukkan kelemahan mereka. Ini bukan hanya terjadi pada beberapa orang.
Sebuah studi di Swedia menemukan bahwa siswa dan remaja yang menggunakan chatbot untuk mengekspresikan perasaannya merasa seolah-olah selalu ada seseorang yang mendengarkan, meskipun itu bukan manusia sungguhan (Björk dkk., 2023).
AI memberikan jawaban, bukan perasaan. Studi lain menunjukkan bahwa chatbot AI dapat mengurangi depresi pada remaja, tetapi belum terbukti efektif dalam membantu mereka membangun hubungan sosial yang langgeng (Gaffney dkk., 2022). Artinya, perasaan mungkin membaik untuk saat ini, tetapi rasa terhubung akan memudar.
Inilah hal aneh tentang generasi terbesar saat ini. Kita semakin pandai menyembunyikan perasaan karena takut dihakimi jika jujur pada orang lain. AI tidak pernah sedih atau menyalahkan Anda, jadi kita terbiasa berbicara dengan mesin dan tidak familiar dengan pelukan yang sebenarnya kita butuhkan.
Misalnya, seorang remaja yang merasa cemas tetapi tidak ingin berbicara dengan siapa pun yang dia kenal mungkin akan mengambil handphonenya dan menggunakan chatbot AI untuk menenangkan diri. Chatbot AI bisa mengatakan hal-hal baik, tapi tidak bisa menggantikan kehangatan dan bantuan nyata dari teman atau anggota keluarga.
Teknologi bukan hal yang buruk. AI bisa menjadi ruang aman pertama untuk merapikan pikiran saat kita tidak yakin dengan siapa harus bicara. Tapi, itu tidak boleh menjadi satu-satunya tempat untuk bersembunyi. Memperbaiki perasaan membutuhkan sentuhan manusia: percakapan nyata, menunjukkan bahwa kita peduli, dan bantuan yang datang dari hubungan nyata.
Tidak peduli seberapa baik sebuah chatbot AI, ia tidak akan pernah benar-benar memahami apa yang Anda maksud dengan “saya di sini”. Jika kita ingin tetap sehat secara emosional, kita membutuhkan lebih dari sekadar internet. Kita perlu cukup berani untuk saling mendukung satu sama lain. Jangan biarkan diri kita terhubung dengan internet tetapi terputus dari kehangatan manusia.


