INDORAYA – Memasuki masa perubahan musim (pancaroba), Wakil Ketua DPRD Jateng Heri Pudyatmoko meminta Pemprov Jateng tanggap. Pemetaan potensi bencana dan update data harus dilakukan.
Update data tersebut meliputi beberapa aspek. Pertama adalah kondisi geografis masing-masing wilayah di Jawa Tengah. Kedua adalah kesiapan sarana dan prasarana untuk mencegah sebelum terjadinya bencana, menanggulangi saat bencana serta rehabilitasi pasca bencana.
Heri Pudyatmoko menyampaikan jika update data tersebut begitu penting. “Update data harus kontinyu dilakukan. Agar tak terkesan tak sap jika nanti terjadi bencana alam,” ujar Heri Pudyatmoko, Senin 15 Agustus 2022.
Menurutnya, Jawa Tengah adalah supermarket bencana yang bermakna semua potensi bencana ada di Jateng. Mulai dari bencana tanah longsor, banjir, kekeringan, erupsi gunung berapi, rob, tsunami, hingga kebakaran.
Sebagai gambaran, BNPB mencatat ada 5.402 kejadian bencana yang melanda Indonesia sepanjang tahun 2021 dengan komposisi mayoritas 99,5 persen dari kejadian itu merupakan bencana hidrometeorologi.
Jumlah kejadian tersebut didominasi antara lain bencana banjir yang terjadi 1.794 kejadian, 1.577 cuaca ekstrem, 1.321 tanah longsor, 579 kebakaran hutan dan lahan, 91 gelombang pasang dan abrasi, 24 gempa bumi, 15 kekeringan, dan satu erupsi gunung api
Lima provinsi tertinggi kejadian bencana adalah Jawa Barat 1.358 kejadian bencana, 622 kejadian bencana di Jawa Tengah, 366 kejadian bencana di Jawa Timur, 279 kejadian bencana di Aceh, dan 272 kejadian bencana di Kalimantan Selatan.
“Dengan banyaknya jumlah kejadian bencana alam tersebut maka Jateng harus waspada di sepanjang tahun 2022 ini,” lanjutnya.
Apalagi, beberapa Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) di Jateng kekurangan personel. Diantaranya adalah di BPBD Kota Tegal.
Kepala Pelaksana Harian (Kalakhar) BPBD Kota Tegal Mochammad Mabbrur pada Komisi E DPRD Jateng menyampaikan selain kekurangan personel juga menghadapi anggaran yang terbatas lantaran refocusing saat terjadi pandemi Covid-19.
“Karena jujur, dalam penanganan banjir lalu, kami kekurangan personil sehingga banyak masyarakat yang memandang kami sebelah mata,” ujar Mochammad Mabbrur.
Untuk itu Heri Pudyatmoko mengingatkan agar pemetaan dan update data terus dilakukan dan harus ada solusi atas persoalan yang terjadi. (Advertorial-HS)


