Indoraya NewsIndoraya NewsIndoraya News
Notification Show More
Font ResizerAa
  • BERITA
    • HUKUM KRIMINAL
    • PENDIDIKAN
    • EKONOMI
    • KESEHATAN
    • PARLEMEN
  • NASIONAL
  • PERISTIWA
  • POLITIK
  • JATENG
    • DAERAH
  • SEMARANG
  • RAGAM
    • GAYA HIDUP
    • TEKNOLOGI
    • OLAHRAGA
    • HIBURAN
    • OTOMOTIF
  • OPINI
  • KIRIM TULISAN
Cari
  • PEDOMAN MEDIA SIBER
  • KODE ETIK JURNALISTIK
  • STANDAR PERLINDUNGAN WARTAWAN
  • TENTANG KAMI
  • DISCLAIMER
Copyright © 2023 - Indoraya News
Reading: Pakar Lingkungan Minta Pemda Tak Salahkan Hujan, Banjir Jateng Hasil Akumulasi Kebijakan Gagal
Font ResizerAa
Indoraya NewsIndoraya News
  • BERITA
  • NASIONAL
  • PERISTIWA
  • POLITIK
  • JATENG
  • SEMARANG
  • RAGAM
  • OPINI
  • KIRIM TULISAN
Cari
  • BERITA
    • HUKUM KRIMINAL
    • PENDIDIKAN
    • EKONOMI
    • KESEHATAN
    • PARLEMEN
  • NASIONAL
  • PERISTIWA
  • POLITIK
  • JATENG
    • DAERAH
  • SEMARANG
  • RAGAM
    • GAYA HIDUP
    • TEKNOLOGI
    • OLAHRAGA
    • HIBURAN
    • OTOMOTIF
  • OPINI
  • KIRIM TULISAN
Have an existing account? Sign In
  • PEDOMAN MEDIA SIBER
  • KODE ETIK JURNALISTIK
  • STANDAR PERLINDUNGAN WARTAWAN
  • TENTANG KAMI
  • DISCLAIMER
(c) 2024 Indo Raya News
Jateng

Pakar Lingkungan Minta Pemda Tak Salahkan Hujan, Banjir Jateng Hasil Akumulasi Kebijakan Gagal

By Lu'luil Maknun
Rabu, 28 Jan 2026
Share
3 Min Read
Dekan Fakultas Ilmu dan Teknologi Lingkungan (FITL) Soegijapranata Catholic University (SCU), Benny Danang Setianto. (Foto: Lu'luil Maknun/Indoraya)
SHARE

INDORAYA – Bencana banjir yang melanda berbagai wilayah di Jawa Tengah baru-baru ini, mulai dari Demak, Pekalongan, hingga kawasan lereng Gunung Slamet, seringkali dijawab pemerintah dengan alasan perubahan iklim dan cuaca ekstrem. Namun, argumen tersebut dinilai sebagai bentuk “cuci tangan” atas kegagalan kebijakan di lapangan.

Dekan Fakultas Ilmu dan Teknologi Lingkungan (FITL) Soegijapranata Catholic University (SCU), Benny Danang Setianto menegaskan, fenomena alam seperti hujan ekstrem tidak terjadi begitu saja. Menurutnya, intensitas hujan yang meningkat merupakan dampak dari kerusakan vegetasi dan perubahan permukaan bumi yang masif.

“Hujan ekstrem itu dari mana munculnya? Itu akumulasi penguapan karena permukaan buminya berubah, resapan airnya berubah, dan vegetasinya hilang. Lalu yang disalahkan hujannya. Ini tidak bisa, itu kan dampak,” ujar dia usai menghadiri diskusi pertobatan ekologis di Rumah Uskup Pandanaran, Kota Semarang, Rabu (28/1/2026).

Benny menyoroti kecenderungan pemerintah yang menggunakan istilah krisis iklim sebagai tameng untuk menghindari tanggung jawab atas kebijakan yang tidak mampu ditegakkan. Ia menyebut fenomena ini sebagai upaya saving the blame.

“Seolah-olah semua kesalahan kebijakan itu wah, ini pasti gara-gara perubahan iklim. Tapi lupa, krisis iklimnya karena apa? Kita memang tidak bisa mencegah hujan ekstrem, tapi kita sangat bisa mencegah peralihan fungsi lahan. Kenapa itu yang tidak dilakukan?” kritiknya.

Ia mencontohkan kondisi di lereng Gunung Slamet, menurut Benny, banjir terjadi karena mekanisme alam untuk menahan debit air (run off) melalui vegetasi telah hilang akibat izin-izin pertambangan maupun alih fungsi lahan lainnya.

Lebih lanjut, Benny menilai adanya standar ganda dalam penegakan hukum lingkungan. Seringkali, pemerintah lebih cepat menindak rakyat kecil yang mengambil kayu di hutan untuk bertahan hidup (survival), namun menutup mata terhadap korporasi besar yang memiliki izin resmi meski daya rusaknya jauh lebih dahsyat.

“Yang mengantongi izin sekalipun sering kali melakukan kesalahan. Namun, karena mereka punya relasi yang lebih baik dengan penegak hukum, model penegakannya tidak bisa keras,” ungkapnya.

Selain kegagalan mencegah kerusakan di hulu, Benny juga mengkritik solusi infrastruktur di hilir yang seringkali tidak menyentuh akar masalah. Salah satunya adalah kecenderungan pemerintah untuk meninggikan jalan saat terjadi banjir, alih-alih memperbaiki sistem drainase.

“Problemnya pada air, tapi yang dilakukan malah infrastruktur jalan yang dibenahi. Seringkali kita miss di situ,” tambahnya.

Sebagai solusi, Benny mendesak pemerintah untuk kembali ke komitmen awal penegakan aturan tata ruang. Jika sebuah kawasan ditetapkan sebagai hutan lindung, maka fungsinya harus dikembalikan melalui reklamasi dan perlindungan ketat, bukan justru memaklumi kerusakan atas nama kepentingan ekonomi.

“Tegakkan saja. Kalau itu hutan lindung, ya tegaskan. Jangan sampai rakyat kecil yang disasar duluan, sementara ada sesuatu yang lebih besar (korporasi) yang harusnya dikendalikan tapi justru kalah oleh kepentingan ekonomi,” pungkasnya.

TAGGED:Banjir jatengBenny Danang SetiantoGunung Slamet
Share This Article
Facebook Whatsapp Whatsapp

Terbaru

  • Prancis dan Kanada Resmi Buka Konsulat di Nuuk, Tegaskan Dukungan untuk Greenland Sabtu, 07 Feb 2026
  • Gajah Sumatera Ditembak Mati di Pelalawan, Belalai dan Gading Hilang Sabtu, 07 Feb 2026
  • Kepala KPP Madya Banjarmasin Mulyono Akui Terima Suap Restitusi Pajak, Kini Ditahan KPK Sabtu, 07 Feb 2026
  • Budisatrio Tegaskan “Kompak, Bergerak, Berdampak” di HUT ke-18 Gerindra DPR RI Sabtu, 07 Feb 2026
  • HUT ke-18 Gerindra, Prabowo Ingatkan Kader Jaga Uang Rakyat dan Hindari Perbuatan Tercela Sabtu, 07 Feb 2026
  • Heri Pudyatmoko: Pendidikan Merata Kunci Daya Saing Jawa Tengah Jumat, 06 Feb 2026
  • Heri Pudyatmoko Dorong Penguatan Layanan Kesehatan Primer di Jawa Tengah Jumat, 06 Feb 2026

Berita Lainnya

Jateng

Heri Pudyatmoko: Pendidikan Merata Kunci Daya Saing Jawa Tengah

Jumat, 06 Feb 2026
Jateng

Heri Pudyatmoko Dorong Penguatan Layanan Kesehatan Primer di Jawa Tengah

Jumat, 06 Feb 2026
Jateng

Peringati HUT ke-18, Gerindra Jateng Minta Kader Rawat dan Tertibkan Atribut Partai

Jumat, 06 Feb 2026
Jateng

Peringatan HUT ke-18 Gerindra Jateng Tak Ada Pesta Pora, Fokus Baksos dan Penanganan Bencana

Jumat, 06 Feb 2026
Indoraya NewsIndoraya News
Follow US
Copyright (c) 2025 Indoraya News
  • PEDOMAN MEDIA SIBER
  • KODE ETIK JURNALISTIK
  • STANDAR PERLINDUNGAN WARTAWAN
  • TENTANG KAMI
  • DISCLAIMER
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?