Ad imageAd image

Musim Kemarau Jateng Dimulai Mei, BMKG Minta Masyarakat Panen Air Hujan Cegah Kekeringan

Athok Mahfud
By Athok Mahfud 826 Views
2 Min Read
Ilustrasi musim kemarau. (Foto: Shutterstock)

INDORAYA – Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Klimatologi Jawa Tengah (Jateng) memprediksi, awal musim kemarau tahun 2024 umumnya terjadi pada bulan Mei.

Namun menurut BMKG, sebagian wilayah sudah memasuki musim kemarau pada bulan April 2024 lalu. Khususnya di wilayah Pantai Utara (Pantura) timur Jateng.

“Ada yang sudah kemarau, sebagian wilayah Rembang, Blora, dan Pati,” kata Kepala BMKG Stasiun Klimatologi Jateng, Sukasno, saat dihubungi melalui pesan WhatsApp, Kamis (2/4/2024).

Dia mengatakan, puncak musim kemarau  2024 umumnya diprakirakan terjadi pada Juli dan Agustus. Puncak musim kemarau tahun ini lebih cepat dari normal dengan durasi sekitar empat sampai lima bulan.

BACA JUGA:   Jawa Tengah Hasilkan 6 Juta Ton Sampah Per Tahun

“Durasi/panjang periode musim kemarau umumnya 13-15 dasarian (± 4 – 5 bulan), dengan durasi maksimal 22 dasarian (± 7 bulan) untuk wilayah sebagian Pemalang, Pekalongan, Jepara dan Blora bagian utara; sebagian Rembang dan sebagian tenggara Pati,” ujar Sukasno.

Mencegah kekeringan seperti tahun 2023 lalu yang cukup parah, BMKG meminta masyarakat untuk memanen air hujan di infrastruktur sumber daya air. Seperti waduk, embung, dan kolam retensi.

“Untuk daerah-daerah yang lalu kekurangan air dihimbau agar lebih optimal melakukan penyimpanan air pada akhir musim hujan saat ini ntuk memenuhi danau, waduk, embung, kolam retensi dan penyimpanan buatan lainnya di masyarakat melalui gerakan memanen air hujan,” kata dia.

BACA JUGA:   Muslimat NU Jateng Gelar Rakorwil, Abdul Kholik Dorong Kemandirian Potensi Ekonomi NU

Di sisi lain, memasuki masa transisi dari musim hujan menuju musim kemarau, BMKG juga meminta masyarakat waspada potensi bencana hidrometeorologi yang disebabkan oleh cuaca ekstrem.

“Masih ada potensi hujan yang masih akan turun, dihimbau kepada masyarakat untuk waspada terhadap potensi cuaca ekstrim, seperti petir, angin kencang, puting beliung, serta hujan lebat dengan waktu singkat yang berpotensi dapat mengakibatkan bencana hidrometeorologi seperti banjir dan longsor,” tandas Sukasno.

Share this Article
Leave a comment