Ad imageAd image

Modus Pengasuh Ponpes di Semarang Ngajak Ngaji Santriwati Malah Disetubuhi, Bila Menolak Dianggap Durhaka

Athok Mahfud
By Athok Mahfud 1.1k Views
3 Min Read
Konferensi pers kasus kekerasan seksual yang melibatkan pimpinan pesantren. Konferensi pers dilakukan di Kantor AJI Kota Semarang, Rabu (6/9/2023). (Foto: Athok Mahfud/Indoraya)

INDORAYA – Pengasuh Pondok Pesantren Hidayatul Hikmah Al-Kahfi Semarang, Bayu Aji Anwari (46) yang terlibat kasus dugaan pelecehan seksual terhadap santriwatinya menggunakan modus khusus agar aksinya berjalan lancar.

Bayu Aji menggunakan otoritasnya sebagai pengasuh dan kiai dalam memudahkan tujuannya untuk menyetubuhi sejumlah santriwatinya. Modus yang dilakukan yaitu mengajak santri mengaji atau mujahadah.

Bayu Aji juga menganggap dirinya sebagai orang tua dari santriwatinya. Sehingga apabila korban menolak diajak bersetubuh, maka dianggap telah durhaka kepada orang tua.

Keterangan ini disampaikan oleh Iis Amalia, psikolog pendamping korban kekerasan seksual dari UPTD Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Semarang. Dia geram atas kelakuan pimpinan pesantren itu setelah mendengar cerita dari para korban.

“Aku adalah kepanjangan tangan dari orang tuamu, kalau kamu tidak manut (nurut) maka kamu adalah anak yang durhaka,” ujar Iis Amalia menyebutkan modus yang digunakan pelaku kepada santrinya.

BACA JUGA:   Seribu Jalan Menang Pemilu, Jasa Dukun Kerap Digunakan Sebagian Caleg

“Aku adalah kyaimu, aku adalah gurumu. Sebagai seorang murid kamu harus takdim (hormat) sama guru,” katanya dalam konferensi pers di Kantor Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Kota Semarang, Rabu (6/9/2023).

Iis mengatakan, modus tersebut digunakan Bayu Aji untuk melancarkan aksi kekerasan seksualnya kepada para santri. Adapun korbannya ada anak yang masih di bawah umur dan ada pula yang sudah dewasa.

“Beberapa korban yang mohon maaf usianya dewasa ini, bentuk kekerasannya secara langsung memang tidak ada. Tapi dengan melalui modus tersebut,” ucapnya.

Sementara diketahui bahwa Pondok Pesantren Hidayatul Hikmah Al-Kahfi tempat kejadian pencabulan berlokasi di Kelurahan Lempongsari, Gajahmungkur. Ponpes ini juga belum memiliki izin dari Kemenag Semarang.

BACA JUGA:   Sepiring Kasih dari Santa Claus

Mawar Dilecehkan Tiga Kali

Kasus kekerasan seksual yang melibatkan Pengasuh Ponpes Bayu Aji Anwari tersebut memakan enam santriwati sebagai korban. Dua korban di antaranya masih di bawah umur.

Iis Amalia mengatakan, salah satu anak di bawah umur yaitu Mawar (nama samaran). Perempuan 15 tahun inilah yang dibuatkan laporan polisi (LP) agar kasus ini dapat ditindaklanjuti.

Diterangkannya, Mawar dilecehkan oleh kiainya sebanyak tiga kali. Dua kali disetubuhi di Ponpes Hidayatul Hikmah Al Kahfi dan satu kali di sebuah hotel.

“Modusnya, dari Lempongsari di ajak ke Semarang Timur (Rejosari) ternyata dibelokkan ke hotel,” ujar Iis Amalia.

Karena pelaku memanfaatkan status sosialnya, proses hukum di kepolisian menjadi terhambat bagi korban yang sudah dewasa. Oleh itulah hanya Mawar yang dilakukan LP.

BACA JUGA:   Berkah Mendekati Lebaran Idul Fitri, Kue Kering Buatan Niken Banjir Pesanan

“Logika hukumnya itu, kalau dewasa itu kekerasannya harus nampak sekali, karena yang lain makai modus saya akan menyelesaikan masalahmu tapi caranya harus bersetubuh dengan saya,” ujarnya.

Walaupun hanya ada enam santriwati yang melapor, namun korban diprediksi lebih banyak daripada itu. Namun tidak semua korban bersedia dan berani bersuara atas tindakan bejat dari pengasuh pesantren tersebut.

“Banyak yang tidak bersedia bercerita atau mengungkap kasus ini. Karena beberapa yang kami jadikan suspek (terduga korban) kami datangi saja sudah tidak bersedia karena takut ancaman, takut ketahuan karena sekarang sudah punya rumah tangga dan sebagainya,” tandas Iis Amalia.

Share this Article
Leave a comment