INDORAYA – Inovasi berbasis potensi lokal membawa kopi khas Lereng Gunung Muria, Kabupaten Kudus, menembus pasar global.
Kopi Tjolo, produk UMKM Desa Wisata Dukuhwaringin, Kecamatan Dawe, Kudus, berhasil memperluas pemasaran hingga ke sejumlah negara berkat pengolahan yang konsisten dan pengembangan varian unik.
pengelola UMKM Kopi Tjolo, Anggung Safitri mengatakan, seluruh produk Kopi Tjolo menggunakan bahan baku lokal dari petani di Lereng Gunung Muria dengan proses produksi yang terstandar.
Mulai dari pemetikan biji kopi merah, penyortiran, perendaman, hingga penjemuran dilakukan secara ketat untuk menjaga kualitas. Bahkan, Kopi Tjolo dilengkapi mini laboratorium sebagai penunjang mutu produksi.
Selain varian kopi murni, Kopi Tjolo terus berinovasi dengan menghadirkan produk khas, seperti kopi yang dicampur bubuk alpukat, kopi gula kelapa, hingga paket 4 in 1 yang berisi gula, krimer, bubuk alpukat, dan kopi.
Dengan harga mulai Rp2.500 per sachet, produk tersebut mampu menghasilkan omzet puluhan juta rupiah per bulan dan telah dipasarkan tidak hanya di Jawa Tengah, tetapi juga ke luar negeri, seperti Malaysia, Thailand, dan sejumlah negara di Timur Tengah.
Keberhasilan Kopi Tjolo semakin diperkuat dengan kiprahnya di panggung internasional. Brand kopi lokal ini tercatat menjadi salah satu menu sajian bagi pejabat dari berbagai negara pada Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G20 Bali tahun 2022.
“Harapannya UMKM lokal seperti milik kita ini, terus di-support oleh pemerintah, terutama dari sisi pemasaran, supaya bisa ekspor ke luar negeri,” ungkap Anggun.
Inovasi Kopi Tjolo tersebut menarik perhatian Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Provinsi Jawa Tengah, Nawal Arafah Yasin, saat mengunjungi Pusat UMKM Desa Wisata Dukuhwaringin, Selasa (27/1/2026).
Di tengah udara dingin rintik hujan menyelimuti suasana lereng Gunung Muria, Nawal menyeduh dan mencicipi secangkir kopi hangat.
Dia menilai Kopi Tjolo memiliki karakter yang tidak biasa, terutama dari sisi inovasi varian rasa. Salah satu produk andalan yang diminati masyarakat adalah kopi yang dipadukan dengan bubuk buah alpukat.
“Ada macam-macam varian kopi, sampai satu inovasinya adalah kopi dicampur dengan bubuk avocado. Memang di daerah sini unggulannya ada Camelo dan Avocado,” kata istri Wakil Gubernur Jateng ini.
Menurut Nawal, keunikan tersebut menjadi bukti bahwa potensi lokal dapat diolah menjadi produk bernilai tinggi jika dibarengi inovasi. Ia pun mendorong pelaku UMKM di Jawa Tengah untuk menggali keunggulan daerah masing-masing sebagai identitas produk.
“Kalau di sini potensinya avocado dan kopi, maka kemudian ini inovasinya adalah dicampurnya kopi, bubuk kopi dan avocado (alpukat). Mesti rasanya akan berbeda,” ungkapnya.
Selain memborong berbagai varian Kopi Tjolo, Nawal juga membeli produk UMKM lain di Desa Wisata Dukungwaringin, seperti tas anyaman pandan dan tape singkong khas daerah.
Ia menegaskan, Dekranasda Jawa Tengah berkomitmen mendukung pengembangan UMKM agar mampu bersaing di pasar global melalui pemasaran digital, pelatihan, pendampingan, serta kurasi produk.
“Untuk pemasaran, kita nanti akan mengembangkan dengan pemasaran digital. Selain nanti masalah kurasi dan sebagainya supaya bisa ekspor, kita akan bantu mendampingi,” ungkap Nawal.


