INDORAYA – Serangan hama tikus dan wereng tidak menyurutkan capaian produksi beras di Kabupaten Semarang. Sepanjang 2025, daerah ini tetap mampu memproduksi beras sebanyak 131.013 ton, meskipun sekitar 643 hektare sawah terdampak serangan organisme pengganggu tanaman.
Dari total produksi tersebut, Kabupaten Semarang bahkan mencatat surplus beras sebesar 30.575 ton. Kebutuhan konsumsi beras daerah hanya mencapai 100.438 ton, sehingga kelebihan produksi masih tersedia untuk menopang ketahanan pangan.
Bupati Semarang Ngesti Nugraha menyampaikan, capaian ini merupakan hasil kerja bersama petani dan pemangku kepentingan di sektor pertanian.
“Para petani bersama pemangku kepentingan, diharapkan dapat mempertahankan hasil panen padi seperti tahun lalu,” ujar dia seusai mengikuti tele conference pengumuman swasembada beras nasional oleh Presiden Prabowo Subianto, di Joglo Pasar Sawahan Desa Kalongan, Ungaran Timur, Rabu (7/1/2026).
Ngesti menjelaskan, serangan hama pada ratusan hektare lahan sawah tidak sampai menurunkan produktivitas secara signifikan. Pemerintah daerah memberikan bantuan bibit padi dan pupuk untuk membantu petani memulihkan tanaman yang terdampak.
Selain itu, untuk menjaga semangat dan ketahanan ekonomi petani yang mengalami gagal panen, Pemkab Semarang memberikan stimulan berupa pembebasan pembayaran Pajak Bumi dan Bangunan (PBB). Sementara petani yang masih dapat panen satu kali diberikan keringanan pembayaran hingga 50 persen.
Upaya peningkatan produksi juga dilakukan melalui intensifikasi pertanian. Produktivitas panen didorong dari rata-rata tujuh ton per hektare menjadi sembilan ton per hektare, salah satunya dengan pemberian bantuan pupuk organik kepada petani di wilayah Candirejo, Kecamatan Tuntang.
“Pemkab juga memberikan pinjam pakai satu set alsintan di sebelas kecamatan. Di antaranya, transplanter, drone, dan hand traktor,” katanya lagi.
Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian Peternakan dan Pangan Kabupaten Semarang, Moh Edy Sukarno menyampaikan, lahan sawah yang telah memiliki jaringan irigasi akan terus dioptimalkan agar produktivitas meningkat. Skema tanam juga diarahkan dari satu kali panen menjadi 1,5 hingga dua kali panen dalam setahun.
Sejalan dengan program Bupati Semarang, Edy menambahkan, pemerintah daerah juga akan memperluas lahan pertanian semi organik. Program ini disertai bantuan pupuk organik serta bibit padi Genjah, jenis padi yang dapat dipanen dalam waktu sekitar 85 hari, lebih cepat dibandingkan usia tanam normal 120 hari.
“Rencana perluasan lahan pertanian semi organik pada tahun ini, sekitar 200 hektare,” pungkas Edy.


