INDORAYA – Upaya mengenalkan kembali permainan tradisional kepada generasi muda dilakukan melalui gelaran Maerakaca Dolan Fest di Grand Maerakaca Semarang, Sabtu (18/1/2026).
Event budaya hasil kolaborasi antara Universitas Dian Nuswantoro (Udinus) Semarang dan Grand Maerakaca ini mengusung konsep dolanan tradisional yang dikemas secara kreatif dan kompetitif.
Ketua Pelaksana Maerakoco Dolan Fest, Luthfi Khairina Mazaya, mengatakan kegiatan ini bertujuan meningkatkan kesadaran generasi muda terhadap budaya lokal yang mulai ditinggalkan.
“Maerakaca Dolan Fest ini event budaya yang mengangkat permainan tradisional dan mengenalkan kembali kepada generasi muda supaya lebih melek budaya,” ujar Aya pada Indoraya, Minggu (18/1/2026).
Adapun sejumlah permainan tradisional dimainkan pada kegiata ini. Antara lain lompat tali, ular tangga, kelereng, dakon, gasing, hula hoop dan banyak lagi.
Dalam kegiatan tersebut, panitia menghadirkan empat kompetisi utama. Lomba pertama adalah Photo Hunt, yang mengajak peserta mengeksplorasi Grand Maerokoco dan mengunggah hasil foto ke media sosial sebagai bentuk digitalisasi budaya.
“Karena generasi muda sekarang suka hunting foto, kami rangkap budaya lewat digitalisasi,” jelasnya.
Kompetisi kedua adalah Rerangka Cerita, yakni permainan menebak potongan legenda nusantara. Selanjutnya ada Tiga Tapak, permainan yang terinspirasi dari film Squid Game dan dimodifikasi dengan unsur dolanan tradisional.
Lomba terakhir adalah Sapa Nemokake, yaitu tantangan mencari maskot Grand Maerokoco yang hanya akan diselesaikan oleh satu tim saja.
Maerakaca Dolan Fest diikuti 21 tim atau 63 peserta, yang terdiri dari pelajar SMA serta mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Kota Semarang, termasuk Universitas Dian Nuswantoro (Udinus).
Sementara itu, Kepala Program Studi Ilmu Komunikasi Udinus Semarang, Lisa Mardiana, menyebut kegiatan ini merupakan bagian dari pembelajaran mahasiswa semester 5.
“Ini bagian dari living laboratory kami, di mana mahasiswa belajar secara nyata di lapangan, tidak hanya di kampus,” ungkapnya.
Menurut Lisa, Maerakaca dipilih sebagai mitra karena dinilai memiliki tantangan dalam menarik minat kunjungan generasi Z. Melalui event kreatif, mahasiswa diharapkan mampu menghidupkan destinasi wisata berbasis budaya.
“Mahasiswa belajar komunikasi, lobbying, koordinasi, teamwork, dan soft skill lainnya. Walaupun persiapannya singkat, pelaksanaannya hari ini cukup meriah dan antusias,” pungkasnya.


