INDORAYA – Lonjakan harga emas global mulai berdampak langsung pada strategi produksi industri perhiasan nasional. Untuk menjaga harga tetap terjangkau bagi konsumen sekaligus menekan biaya produksi, sebagian pelaku industri memilih menyesuaikan kadar kemurnian emas dalam produk perhiasan.
Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka Kementerian Perindustrian Reni Yanita menyampaikan bahwa kenaikan harga emas yang signifikan dalam setahun terakhir telah meningkatkan beban biaya produksi industri perhiasan. Kondisi tersebut mendorong pelaku usaha melakukan penyesuaian bahan baku agar produk emas tetap diminati pasar.
“Pelaku industri perhiasan kini menggunakan kadar emas yang lebih rendah sebagai bahan baku agar konsumen tetap bisa membeli perhiasan emas sebagai alat investasi,” kata Reni di kantornya, Rabu (31/12).
Menurutnya, pemerintah juga berupaya menjaga keberlanjutan industri dengan meningkatkan kepastian pasokan emas melalui penguatan peran bank bullion. Langkah tersebut diharapkan dapat menjaga performa industri perhiasan agar tetap tumbuh positif pada tahun mendatang, khususnya untuk pasar ekspor.
Kenaikan harga emas sendiri tercermin dari data Laku Emas yang menunjukkan harga beli emas telah meningkat 70,28 persen dalam 12 bulan terakhir menjadi Rp 2,37 juta per gram. Sementara itu, harga jual emas tercatat naik 66,2 persen menjadi Rp 2,25 juta per gram pada periode yang sama.
Di sisi lain, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat emas perhiasan masih menjadi salah satu komoditas utama penyumbang inflasi. Inflasi bulanan pada November 2025 tercatat sebesar 0,17 persen, dengan emas perhiasan masuk dalam kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Pudji Ismartini menjelaskan bahwa kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya kembali menjadi kontributor utama inflasi pada periode tersebut.
“Kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya kembali menjadi penyumbang utama inflasi dengan inflasi sebesar 1,21% dan andil inflasi sebesar 0,09% pada November 2025,” katanya dalam konferensi pers di Jakarta, Senin (1/12).
Dalam kelompok tersebut, emas perhiasan menjadi komoditas dengan kontribusi terbesar terhadap inflasi. BPS juga mencatat bahwa logam mulia telah mengalami inflasi selama 27 bulan berturut-turut.
Pada November 2025, inflasi emas perhiasan tercatat sebesar 3,99 persen dengan andil inflasi sebesar 0,08 persen, meski nilainya lebih rendah dibandingkan bulan sebelumnya.
Kondisi ini menunjukkan bahwa fluktuasi harga emas tidak hanya berdampak pada konsumen, tetapi juga memaksa industri perhiasan untuk beradaptasi melalui inovasi dan penyesuaian strategi produksi demi menjaga keberlangsungan usaha di tengah tekanan harga.


