INDORAYA – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Tengah melaporkan dampak longsor di Desa Cibeunying, Kecamatan Majenang, Kabupaten Cilacap.
Peristiwa tersebut memengaruhi 17 keluarga atau total 46 penduduk. Dari jumlah itu, 23 orang berhasil diselamatkan, tiga warga ditemukan meninggal, sementara 20 lainnya masih hilang.
“Korban terdampak itu 17 KK, total 46 jiwa. Dari 46 jiwa, 23 selamat, tiga ditemukan meninggal, dan 20 masih dalam pencarian,” kata Kepala Pelaksana Harian BPBD Jateng, Bergas Catursasi saat dihubungi awak media termasuk Indoraya.News melalui panggilan WhatsApp pada Jumat (14/11/2025) sore.
Bergas menuturkan bahwa upaya pencarian korban terus dilakukan. Cuaca di lokasi sudah tidak hujan, meski kondisi masih berawan dan kadang turun gerimis.
“Situasi saat ini masih dalam proses pencarian. Sejak pagi digelar apel bersama Pak Bupati dan Forkopimda, kemudian dilanjutkan kembali operasinya,” ujarnya.
Proses pencarian melibatkan tim gabungan dari Basarnas, TNI-Polri, PMI, dan para relawan. Basarnas juga membawa peralatan lengkap, termasuk dukungan alat konstruksi.
Di sisi lain, Dinas Sosial tingkat kabupaten maupun provinsi telah menyalurkan bantuan kebutuhan dasar untuk warga yang terdampak.
“Dari TNI–Polri sekitar 200 personel, Polri kurang lebih 120–125 orang. Relawan juga bergantian sekitar 100 sampai 200 orang,” ungkapnya.
Untuk penggunaan alat berat, PUPR dan BBWS Citanduy telah mengerahkan dua ekskavator. Namun, kondisi tanah yang masih sangat lembek membuat alat berat hanya bisa digunakan di titik tertentu.
“Alat berat hanya bisa digunakan di titik yang memungkinkan. Lokasinya curam dan kedalaman longsoran mencapai 10 sampai 30 meter,” jelasnya.
Selain korban meninggal dan hilang, tercatat 11 warga mengalami luka ringan hingga sedang dan sudah mendapat perawatan medis.
Bergas menambahkan bahwa wilayah tersebut merupakan daerah perbukitan dengan risiko longsor tinggi. Warga juga melaporkan adanya retakan tanah beberapa hari sebelum kejadian.
“Retakan itu sempat terisi air saat hujan deras. Longsoran kecil yang tidak terlihat kemudian berkembang menjadi longsor besar. Ini kategori longsoran seliping,” paparnya.
Ia menegaskan bahwa kawasan Banyumas Raya, termasuk Cilacap, saat ini berada pada puncak musim hujan, sehingga curah hujan tinggi membuat struktur tanah semakin rapuh.
BPBD mengimbau warga di daerah lereng atau perbukitan agar segera melapor jika menemukan indikasi tanah retak atau pergeseran kontur tanah.
“Kalau menemukan indikasi sebelum longsor, segera laporkan dan lakukan penutupan retakan. Jangan dibiarkan melebar,” pesannya.
Hingga berita ini dibuat, operasi pencarian masih terus berjalan dan pemerintah daerah menyiapkan dukungan lanjutan bagi keluarga korban serta warga yang terdampak.


