Indoraya NewsIndoraya NewsIndoraya News
Notification Show More
Font ResizerAa
  • BERITA
    • HUKUM KRIMINAL
    • PENDIDIKAN
    • EKONOMI
    • KESEHATAN
    • PARLEMEN
  • NASIONAL
  • PERISTIWA
  • POLITIK
  • JATENG
    • DAERAH
  • SEMARANG
  • RAGAM
    • GAYA HIDUP
    • TEKNOLOGI
    • OLAHRAGA
    • HIBURAN
    • OTOMOTIF
  • OPINI
  • KIRIM TULISAN
Cari
  • PEDOMAN MEDIA SIBER
  • KODE ETIK JURNALISTIK
  • STANDAR PERLINDUNGAN WARTAWAN
  • TENTANG KAMI
  • DISCLAIMER
Copyright © 2023 - Indoraya News
Reading: Literasi Keuangan Digital Fondasi Menghadapi Risiko dan Peluang Finansial Modern
Font ResizerAa
Indoraya NewsIndoraya News
  • BERITA
  • NASIONAL
  • PERISTIWA
  • POLITIK
  • JATENG
  • SEMARANG
  • RAGAM
  • OPINI
  • KIRIM TULISAN
Cari
  • BERITA
    • HUKUM KRIMINAL
    • PENDIDIKAN
    • EKONOMI
    • KESEHATAN
    • PARLEMEN
  • NASIONAL
  • PERISTIWA
  • POLITIK
  • JATENG
    • DAERAH
  • SEMARANG
  • RAGAM
    • GAYA HIDUP
    • TEKNOLOGI
    • OLAHRAGA
    • HIBURAN
    • OTOMOTIF
  • OPINI
  • KIRIM TULISAN
Have an existing account? Sign In
  • PEDOMAN MEDIA SIBER
  • KODE ETIK JURNALISTIK
  • STANDAR PERLINDUNGAN WARTAWAN
  • TENTANG KAMI
  • DISCLAIMER
(c) 2024 Indo Raya News
Opini

Literasi Keuangan Digital Fondasi Menghadapi Risiko dan Peluang Finansial Modern

By Chaterina Monica Idelberth
Senin, 07 Okt 2024
Share
6 Min Read
Ilustrasi Literasi Keuangan Digital
SHARE

Perkembangan teknologi digital telah membawa transformasi besar terhadap cara manusia mengelola dan memahami keuangan. Aktivitas keuangan yang dulunya hanya dilakukan secara konvensional kini telah bergeser menuju sistem digital yang serba cepat, efisien, dan praktis. Di tengah kemajuan tersebut, muncul istilah digital financial literacy atau literasi keuangan digital yang semakin penting, terutama bagi generasi milenial yang merupakan kelompok paling aktif dalam penggunaan teknologi finansial.

Literasi keuangan digital dapat diartikan sebagai kemampuan seseorang dalam memahami, menggunakan, dan mengelola produk serta layanan keuangan berbasis teknologi secara bertanggung jawab dan aman. Prasad et al. (2018) mendefinisikan digital financial literacy sebagai tingkat pemahaman seseorang yang berkaitan dengan pembelian daring, pembayaran online dengan berbagai mode pembayaran, serta penggunaan sistem perbankan digital. Definisi ini menunjukkan bahwa literasi keuangan digital tidak hanya sebatas kemampuan teknis menggunakan aplikasi, tetapi juga mencakup kesadaran terhadap mekanisme, risiko, dan perlindungan konsumen dalam transaksi digital.

Morgan et al. (2019) memperdalam konsep ini dengan menjelaskan bahwa literasi keuangan digital memiliki empat dimensi utama, yaitu pemahaman terhadap produk dan layanan keuangan digital, kesadaran akan risiko dari penggunaan layanan tersebut, pengetahuan tentang cara mengendalikan risiko keuangan digital, serta pemahaman terhadap hak-hak konsumen dan prosedur penyelesaian ketika terjadi pelanggaran. Keempat dimensi ini menjadi fondasi penting bagi generasi milenial untuk menavigasi kompleksitas dunia keuangan modern yang semakin terintegrasi dengan teknologi. Tanpa literasi digital yang memadai, masyarakat berisiko terjebak dalam perilaku konsumtif, penipuan daring, dan pengelolaan keuangan yang tidak sehat.

Di sisi lain, pemahaman yang baik tentang keuangan digital memungkinkan seseorang untuk memanfaatkan berbagai peluang seperti investasi online, manajemen tabungan digital, hingga perencanaan keuangan berbasis aplikasi. Setiawan et al. (2020) mengungkapkan bahwa tingkat literasi keuangan digital seseorang sangat dipengaruhi oleh karakteristik sosial ekonomi, seperti usia, tingkat pendidikan, dan pendapatan. Semakin tinggi tingkat pendidikan dan pendapatan, maka semakin tinggi pula literasi keuangan digital seseorang.

Hal ini sejalan dengan penelitian Wangmo (2015), Nanziri dan Olcker (2019), serta Morgan et al. (2019) yang menyatakan bahwa tingkat pendidikan, pendapatan, dan usia merupakan faktor penentu utama dalam literasi keuangan di berbagai negara. Bahkan Xue et al. (2019) menemukan bahwa faktor usia dan pendapatan berpengaruh signifikan terhadap tingkat literasi keuangan lansia di Australia. Berdasarkan penelitian-penelitian tersebut, dapat disimpulkan bahwa kemampuan seseorang dalam memahami sistem keuangan digital sangat bergantung pada faktor sosial ekonomi dan latar belakang pendidikan. Dalam konteks Indonesia, kondisi ini menjadi tantangan besar karena kesenjangan literasi digital masih tinggi antara masyarakat perkotaan dan pedesaan.

Generasi muda di kota besar seperti Kendari mungkin lebih familiar dengan layanan keuangan digital seperti mobile banking, e-wallet, dan paylater, namun masih banyak yang belum memahami risiko dan tanggung jawab yang menyertainya. Banyak milenial yang aktif menggunakan aplikasi pembayaran digital dan platform investasi tanpa mengetahui aspek keamanan data, bunga tersembunyi, ataupun potensi penipuan siber. Akibatnya, tidak sedikit dari mereka yang terjerat perilaku konsumtif, utang konsumtif, hingga kehilangan kontrol terhadap keuangan pribadi. Di era di mana media sosial menampilkan gaya hidup glamor dan konsumsi instan, kemampuan untuk menahan diri dan membuat keputusan finansial yang bijak menjadi tantangan tersendiri.

Generasi milenial sering kali terdorong untuk mengikuti tren belanja atau gaya hidup yang dipamerkan oleh influencer, tanpa mempertimbangkan kemampuan finansial mereka sendiri. Di sinilah pentingnya literasi keuangan digital, yang tidak hanya berfungsi sebagai alat pengetahuan, tetapi juga sebagai bentuk pendidikan karakter finansial yang membentuk kesadaran, kedewasaan, dan tanggung jawab ekonomi.

Peran lembaga pendidikan tinggi seperti STIE Enam Enam Kendari sangat strategis dalam meningkatkan kesadaran mahasiswa terhadap pentingnya literasi keuangan digital. Melalui integrasi materi keuangan digital ke dalam kurikulum, seminar edukatif, penelitian, dan pelatihan berbasis praktik, mahasiswa dapat memahami bagaimana teknologi mempengaruhi perilaku keuangan individu dan ekonomi secara luas. Literasi ini menjadi bekal penting agar mereka mampu menjadi generasi yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga tangguh secara finansial di tengah disrupsi ekonomi digital.

Selain itu, upaya peningkatan literasi keuangan digital juga perlu mendapat dukungan dari pemerintah, lembaga keuangan, dan masyarakat. Program inklusi keuangan digital harus disertai dengan edukasi yang berkelanjutan agar masyarakat tidak hanya menjadi pengguna pasif, tetapi juga memahami hak, kewajiban, serta risiko dari layanan digital yang mereka gunakan.

Dengan literasi keuangan digital yang kuat, generasi milenial akan mampu mengambil keputusan finansial yang lebih rasional, menghindari jebakan konsumtif, dan memanfaatkan peluang ekonomi berbasis teknologi secara optimal. Literasi keuangan digital juga memiliki dimensi moral dan sosial, karena mendorong individu untuk bertanggung jawab terhadap keamanan data, kejujuran transaksi, serta keseimbangan antara konsumsi dan investasi.

Pada akhirnya, literasi keuangan digital bukan sekadar kemampuan memahami teknologi finansial, tetapi merupakan wujud kemandirian dan kedewasaan berpikir dalam mengelola kehidupan ekonomi di era digital. Generasi milenial yang memiliki literasi keuangan digital yang baik akan menjadi agen perubahan yang tidak hanya adaptif terhadap inovasi, tetapi juga berkontribusi terhadap pembangunan ekonomi nasional yang inklusif dan berkelanjutan.

Penulis: Chaterina Monica Idelberth, Mahasiswa Program Magister Manajeman STIE Enam Enam Kendari – NIM 2366MM01094

Share This Article
Facebook Whatsapp Whatsapp
ByChaterina Monica Idelberth
Mahasiswa Prodi Magister Manajemen STIE Enam Enam Kendari

Terbaru

  • Ambisi Jateng Jadi Lumbung Pangan Nasional Terganggu Masifnya Alih Fungsi Lahan Senin, 12 Jan 2026
  • DLHK Jateng Bakal Gandeng Pabrik Semen Olah Sampah Jadi Energi Terbarukan Senin, 12 Jan 2026
  • Cuaca Ekstrem Mengintai Pantura Timur Jateng, Waspada Bencana Hidrometeorologi Senin, 12 Jan 2026
  • Banjir dan Longsor Terjang Puluhan Desa di Kudus, Ribuan Rumah Warga Rusak Senin, 12 Jan 2026
  • Banjir dan Longsor Putus Akses Jalan Desa Tempur Jepara, 3.522 Warga Terisolasi Senin, 12 Jan 2026
  • Berdiri di Atas Saluran Air, Lapak PKL Pasar Kobong Semarang Dirobohkan Satpol PP Senin, 12 Jan 2026
  • PSI Semarang Panaskan Mesin Pemilu 2029, Targetkan 15 Kursi DPRD Senin, 12 Jan 2026

Berita Lainnya

Opini

Satu Barisan untuk Kaderisasi

Senin, 12 Jan 2026
Opini

Humor Sebagai Jalan Tikus di Tengah Kebuntuan

Senin, 05 Jan 2026
Opini

Sisi Lain Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati: Membaca Sosok Mami Louisse

Jumat, 02 Jan 2026
Opini

Dahsyatnya Menyambung “Shilaturrahiim”

Jumat, 02 Jan 2026
Indoraya NewsIndoraya News
Follow US
Copyright (c) 2025 Indoraya News
  • PEDOMAN MEDIA SIBER
  • KODE ETIK JURNALISTIK
  • STANDAR PERLINDUNGAN WARTAWAN
  • TENTANG KAMI
  • DISCLAIMER
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?