Indoraya NewsIndoraya NewsIndoraya News
Notification Show More
Font ResizerAa
  • BERITA
    • HUKUM KRIMINAL
    • PENDIDIKAN
    • EKONOMI
    • KESEHATAN
    • PARLEMEN
  • NASIONAL
  • PERISTIWA
  • POLITIK
  • JATENG
    • DAERAH
  • SEMARANG
  • RAGAM
    • GAYA HIDUP
    • TEKNOLOGI
    • OLAHRAGA
    • HIBURAN
    • OTOMOTIF
  • OPINI
  • KIRIM TULISAN
Cari
  • PEDOMAN MEDIA SIBER
  • KODE ETIK JURNALISTIK
  • STANDAR PERLINDUNGAN WARTAWAN
  • TENTANG KAMI
  • DISCLAIMER
Copyright © 2023 - Indoraya News
Reading: Lawan Disinformasi Politik, Heri Londo: Literasi Media Jadi Tembok Pertahanan Pertama
Font ResizerAa
Indoraya NewsIndoraya News
  • BERITA
  • NASIONAL
  • PERISTIWA
  • POLITIK
  • JATENG
  • SEMARANG
  • RAGAM
  • OPINI
  • KIRIM TULISAN
Cari
  • BERITA
    • HUKUM KRIMINAL
    • PENDIDIKAN
    • EKONOMI
    • KESEHATAN
    • PARLEMEN
  • NASIONAL
  • PERISTIWA
  • POLITIK
  • JATENG
    • DAERAH
  • SEMARANG
  • RAGAM
    • GAYA HIDUP
    • TEKNOLOGI
    • OLAHRAGA
    • HIBURAN
    • OTOMOTIF
  • OPINI
  • KIRIM TULISAN
Have an existing account? Sign In
  • PEDOMAN MEDIA SIBER
  • KODE ETIK JURNALISTIK
  • STANDAR PERLINDUNGAN WARTAWAN
  • TENTANG KAMI
  • DISCLAIMER
(c) 2024 Indo Raya News
PolitikTeknologi

Lawan Disinformasi Politik, Heri Londo: Literasi Media Jadi Tembok Pertahanan Pertama

By Ainun Nafisah
Jumat, 10 Okt 2025
Share
3 Min Read
Wakil Ketua DPRD Jawa Tengah Heri Pudyatmoko
SHARE

INDORAYA — Memasuki masa pemerintahan baru 2025–2030, Wakil Ketua DPRD Jawa Tengah Heri Pudyatmoko, atau yang akrab disapa Heri Londo, menegaskan bahwa tantangan terbesar bangsa saat ini bukan hanya ekonomi, melainkan arus disinformasi politik yang berpotensi merusak kepercayaan publik terhadap institusi negara.

Dalam momentum transisi pemerintahan, ketika opini publik tengah terbentuk dan arah kebijakan baru mulai disusun, Heri menilai literasi media menjadi benteng pertama untuk menjaga stabilitas sosial dan memperkuat demokrasi yang berkeadaban.

“Setiap pergantian pemerintahan selalu diiringi banjir informasi — dari yang faktual sampai yang manipulatif. Kalau masyarakat tidak memiliki kemampuan literasi media yang kuat, maka kepercayaan terhadap proses politik bisa runtuh dari dalam,” ujar Heri.

Menurutnya, salah satu tantangan utama di era digital adalah disinformasi terstruktur. Terutama di media sosial dan grup percakapan daring, yang sering memelintir kebijakan pemerintah atau memperkeruh isu politik lokal.

Karena itu, ia menilai literasi media harus dipandang sebagai bagian dari ketahanan nasional, bukan sekadar isu edukasi publik.

“Kita butuh rakyat yang tahan terhadap propaganda dan tidak mudah diadu domba oleh narasi semu. Literasi media bukan pelengkap, tapi pilar utama demokrasi di era digital pemerintahan baru,” tegas Heri.

Ilustrasi: Menyaring informasi.

Ia menyoroti bahwa pemerintah pusat dan daerah memiliki tanggung jawab moral untuk memperkuat kapasitas berpikir kritis masyarakat, terutama melalui pendidikan formal dan pelatihan komunitas. Menurut Heri, pembaruan kurikulum daerah dan kegiatan edukasi publik berbasis desa bisa menjadi instrumen penting untuk membangun kesadaran informasi sejak dini.

“Kalau kita bicara good governance, maka kuncinya bukan hanya transparansi pemerintah, tapi juga kecerdasan rakyat dalam menerima dan memfilter informasi. Rakyat cerdas akan melahirkan pemerintahan yang tangguh,” imbuhnya.

Heri juga mengingatkan bahwa pejabat publik dan aparatur negara di semua level harus menjadi teladan dalam komunikasi publik yang jujur dan terverifikasi. Ia menilai, di era pemerintahan baru yang mengusung semangat rekonsiliasi nasional, ujaran publik yang menenangkan jauh lebih dibutuhkan daripada provokasi politik.

“Kita tidak sedang butuh pemenang debat, kita butuh penjaga persatuan. Dan itu dimulai dari cara kita berkomunikasi,” ujarnya.

Sebagai tindak lanjut, Heri mendorong DPRD Jateng bersama pemerintah provinsi untuk memperkuat kerja sama dengan Kominfo, lembaga pendidikan, dan komunitas literasi digital dalam menciptakan ekosistem informasi yang sehat.

“Disinformasi politik tidak bisa dilawan dengan sensor, tapi dengan pendidikan publik. Literasi media harus jadi gerakan sosial bersama, bukan proyek musiman,” pungkasnya.

TAGGED:Disinformasi PolitikHeri PudyatmokoLiterasi Media
Share This Article
Facebook Whatsapp Whatsapp

Terbaru

  • 14 Sekolah Rakyat Sudah Beroperasi di Jateng, Tampung 1.275 Siswa Miskin Selasa, 13 Jan 2026
  • Jembatan 45 Meter Bakal Dibangun, Jadi Akses Menuju Sentra Pengasapan Ikan Bandarharjo Semarang Selasa, 13 Jan 2026
  • Ambisi Jateng Jadi Lumbung Pangan Nasional Terganggu Masifnya Alih Fungsi Lahan Senin, 12 Jan 2026
  • DLHK Jateng Bakal Gandeng Pabrik Semen Olah Sampah Jadi Energi Terbarukan Senin, 12 Jan 2026
  • Cuaca Ekstrem Mengintai Pantura Timur Jateng, Waspada Bencana Hidrometeorologi Senin, 12 Jan 2026
  • Banjir dan Longsor Terjang Puluhan Desa di Kudus, Ribuan Rumah Warga Rusak Senin, 12 Jan 2026
  • Banjir dan Longsor Putus Akses Jalan Desa Tempur Jepara, 3.522 Warga Terisolasi Senin, 12 Jan 2026

Berita Lainnya

Politik

PSI Semarang Panaskan Mesin Pemilu 2029, Targetkan 15 Kursi DPRD

Senin, 12 Jan 2026
Politik

Bangkit Mahanantiyo Tanggapi Kericuhan PSI Semarang: Ini Proses Pendewasaan Politik

Minggu, 11 Jan 2026
Politik

Sertijab Pengurus PSI Semarang Ricuh, 13 DPC Nyatakan Mosi Tidak Percaya

Minggu, 11 Jan 2026
Teknologi

Masa Aktif Kuota Internet 28 Hari Dinilai Tak Adil dan Rugikan Konsumen

Minggu, 11 Jan 2026
Indoraya NewsIndoraya News
Follow US
Copyright (c) 2025 Indoraya News
  • PEDOMAN MEDIA SIBER
  • KODE ETIK JURNALISTIK
  • STANDAR PERLINDUNGAN WARTAWAN
  • TENTANG KAMI
  • DISCLAIMER
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?