INDORAYA – Sekretaris Dinas Pemadam Kebakaran (Damkar) Kota Semarang, Ade Bhakti Ariawan, mengungkapkan kondisi memprihatinkan terkait keberadaan dan fungsi hidran di Ibu Kota Jawa Tengah. Berdasarkan data Damkar Kota Semarang, dari total 79 titik hidran yang terdata, hanya 10 titik yang masih berfungsi dengan baik.
Melihat kondisi tersebut, Ade mengaku prihatin mengingat hidran memiliki peran vital dalam mendukung kerja petugas pemadam kebakaran saat menangani insiden kebakaran. Menurutnya, keberadaan hidran sangat menentukan kecepatan dan efektivitas proses pemadaman.
“Dari 79 titik hidran yang terdata, sekitar 61 masih terlihat fisiknya, tetapi yang benar-benar berfungsi hanya 10 titik. Sementara sisanya, ada yang rusak dan ada pula yang sudah tidak terlihat keberadaannya,” kata Ade kepada wartawan, belum lama ini.
Ade menjelaskan, petugas Damkar Kota Semarang bahkan telah menyisir area hingga radius sekitar 20 meter dari titik hidran yang terdata. Namun, sebagian hidran seolah “lenyap” karena tertutup bangunan permanen maupun struktur jalan.
“Beberapa warga menyebut hanya terlihat bagian atas hidran, bahkan ada yang sudah tertutup cor atau bangunan,” ungkapnya.
Dengan luas wilayah Kota Semarang mencapai 373,70 kilometer persegi, jumlah hidran yang tersedia dinilai jauh dari ideal. Kondisi ini membuat petugas Damkar kerap mengalami kesulitan saat menangani kebakaran, terutama di wilayah dengan keterbatasan pasokan air.
Ade juga menyoroti sejumlah kecamatan, seperti Gunungpati dan Mijen, yang hingga kini belum memiliki hidran sama sekali. Ia mendorong pemanfaatan aset pemerintah sebagai alternatif sumber air pemadaman.
“Kalau hidran tidak tersedia, setidaknya ada tandon air di aset-aset pemerintah yang bisa dimanfaatkan saat darurat,” ujarnya.
Sebagai perbandingan, Ade mencontohkan Kota Surabaya yang telah beralih dari sistem hidran ke tandon air. Saat ini, Surabaya memiliki lebih dari 400 titik tandon air aktif yang dapat dimanfaatkan Damkar tanpa biaya.
“Di Surabaya, penggunaan air untuk pemadaman gratis. Itu hasil studi banding kami dan sudah kami sampaikan ke Wali Kota Semarang,” ungkapnya.
Sementara itu, temuan hidran yang tertutup cor di Jalan Majapahit, Kecamatan Pedurungan, dinilai menjadi alarm keras bagi Damkar Kota Semarang.
Ade menilai, kejadian tersebut mencerminkan masih rendahnya kesadaran terhadap pentingnya hidran sebagai infrastruktur keselamatan publik.
Meski jumlah kebakaran di Kota Semarang sepanjang 2025 menurun menjadi 275 kasus dibandingkan 341 kejadian pada 2024, keterbatasan sumber air dinilai tetap menjadi hambatan serius dalam penanganan di lapangan.
Ke depan, Damkar Kota Semarang berencana menggandeng PDAM untuk menyinkronkan data keberadaan dan fungsi hidran di seluruh wilayah kota.
“Kami akan duduk bersama PDAM. Mau tidak mau, Damkar tidak bisa bekerja optimal tanpa ketersediaan sumber air,” tandas Ade.


