Indoraya NewsIndoraya NewsIndoraya News
Notification Show More
Font ResizerAa
  • BERITA
    • HUKUM KRIMINAL
    • PENDIDIKAN
    • EKONOMI
    • KESEHATAN
    • PARLEMEN
  • NASIONAL
  • PERISTIWA
  • POLITIK
  • JATENG
    • DAERAH
  • SEMARANG
  • RAGAM
    • GAYA HIDUP
    • TEKNOLOGI
    • OLAHRAGA
    • HIBURAN
    • OTOMOTIF
  • OPINI
  • KIRIM TULISAN
Cari
  • PEDOMAN MEDIA SIBER
  • KODE ETIK JURNALISTIK
  • STANDAR PERLINDUNGAN WARTAWAN
  • TENTANG KAMI
  • DISCLAIMER
Copyright © 2023 - Indoraya News
Reading: Kontroversi Stand Up Pandji, Peneliti Bahasa UNNES Tegaskan Humor Tak Pernah Netral
Font ResizerAa
Indoraya NewsIndoraya News
  • BERITA
  • NASIONAL
  • PERISTIWA
  • POLITIK
  • JATENG
  • SEMARANG
  • RAGAM
  • OPINI
  • KIRIM TULISAN
Cari
  • BERITA
    • HUKUM KRIMINAL
    • PENDIDIKAN
    • EKONOMI
    • KESEHATAN
    • PARLEMEN
  • NASIONAL
  • PERISTIWA
  • POLITIK
  • JATENG
    • DAERAH
  • SEMARANG
  • RAGAM
    • GAYA HIDUP
    • TEKNOLOGI
    • OLAHRAGA
    • HIBURAN
    • OTOMOTIF
  • OPINI
  • KIRIM TULISAN
Have an existing account? Sign In
  • PEDOMAN MEDIA SIBER
  • KODE ETIK JURNALISTIK
  • STANDAR PERLINDUNGAN WARTAWAN
  • TENTANG KAMI
  • DISCLAIMER
(c) 2024 Indo Raya News
Berita

Kontroversi Stand Up Pandji, Peneliti Bahasa UNNES Tegaskan Humor Tak Pernah Netral

By Lu'luil Maknun
Rabu, 14 Jan 2026
Share
3 Min Read
Aksi stand up comedy 'Mens Rea' Pandji Pragiwaksono. (Foto: Netflix)
SHARE

INDORAYA – Kontroversi yang muncul dari pertunjukan stand up comedy Pandji Pragiwaksono bertajuk Mens Rea kembali membuka diskursus tentang relasi humor dan politik di ruang publik. Kritik Pandji terhadap sejumlah tokoh, termasuk Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, dinilai sebagian pihak terlalu politis dan melampaui batas candaan.

Menanggapi polemik ini, peneliti bahasa Universitas Negeri Semarang (UNNES), Rahmat Petuguran menegaskan, humor sejatinya memang tidak pernah netral. Menurutnya, humor selalu mengandung dimensi politik karena lahir dari konteks sosial dan budaya tertentu.

“Humor memang selalu politis. Dalam berbagai kebudayaan dan era kekuasaan, humor digunakan sebagai alat politik, baik oleh penguasa maupun oleh masyarakat yang berada di posisi tertindas,” ujar Rahmat.

Ia menjelaskan, humor dapat berfungsi ganda. Di satu sisi, humor kerap dimanfaatkan penguasa untuk memperkuat dominasi dan hegemoni. Namun di sisi lain, humor juga menjadi sarana perlawanan sosial yang efektif. Bentuknya beragam, mulai dari satir, parodi, hingga anekdot.

Temuan tersebut didapat Rahmat dari penelitiannya tentang praktik humor di Indonesia, baik dalam tradisi pertunjukan rakyat seperti ketoprak, lenong, dan ludruk, hingga humor modern dan digital, termasuk stand up comedy dan sketsa komedi.

Menurutnya, sifat politis humor muncul karena humor merupakan produk bahasa yang berangkat dari kegelisahan penciptanya. Kegelisahan itu kemudian diekspresikan melalui skrip humor yang mengandung ambiguitas, kontradiksi, dan unsur kejutan.

“Humor biasanya dibangun dari asumsi bersama, pengetahuan umum, dan kegelisahan kolektif. Tanpa itu, humor tidak akan efektif karena tidak relevan dengan penikmatnya,” jelasnya.

Rahmat juga menilai bahwa bahkan dalam komunikasi antarpribadi, humor tetap membawa muatan politik. Ia mencontohkan humor etnik yang mendiskreditkan kelompok tertentu, humor seksis yang menjadikan perempuan sebagai objek lelucon, hingga humor politik yang menargetkan figur kekuasaan.

“Humor tidak pernah sekadar candaan. Ketika humor diklaim sebagai ‘hanya guyon’ atau ‘just kidding’, justru di situlah sifat politisnya semakin tampak,” tegasnya.

Dalam penelitian lain yang ia lakukan pada 2024, Rahmat meneliti humor yang digunakan para presiden Indonesia, mulai dari Sukarno, Abdurrahman Wahid, Susilo Bambang Yudhoyono, hingga Joko Widodo.

Hasilnya menunjukkan bahwa seluruh presiden memanfaatkan humor sebagai strategi komunikasi, dengan Jokowi tercatat sebagai presiden paling produktif menggunakan humor agresif.

Ia pun menilai penggunaan humor oleh Pandji sebagai bentuk kritik sosial merupakan hal yang wajar. Menurutnya, humor memiliki keunggulan emosional sekaligus intelektual yang membuat kritik menjadi lebih tajam dan cerdas.

“Pilihan dan gaya humor mencerminkan kecerdasan penggunanya. Sementara itu, respons penguasa terhadap humor akan menunjukkan tingkat kedewasaan dan kecerdasan pemerintah dalam menyikapi kritik,” pungkasnya.

TAGGED:Mens reaMens Rea Pandji PragiwaksonoStand Up Comedy Pandji Pragiwaksono
Share This Article
Facebook Whatsapp Whatsapp

Terbaru

  • Gojek Gandeng Dinkes Semarang, Latih Driver Siap Tanggap Darurat di Jalan Minggu, 08 Feb 2026
  • Pemilu 2029 Masih Jauh, Bawaslu–DPRD Semarang Pasang Kuda-Kuda Cegah Pelanggaran Minggu, 08 Feb 2026
  • Jadi Ahli di Singapura hingga AS, Ini Rekam Jejak James Purba sebagai Ahli Kepailitan Minggu, 08 Feb 2026
  • Perkuat Rantai Pasok Ekonomi Lokal, Heri Pudyatmoko Ajak Kolaborasi Semua Pihak Minggu, 08 Feb 2026
  • Heri Pudyatmoko: Perlindungan Perempuan dan Anak di Jawa Tengah Harus Lebih Terintegrasi Minggu, 08 Feb 2026
  • Cegah Kekerasan, Wagub Jateng Minta Fungsi UPTD Perlindungan Perempuan dan Anak Dioptimakan Minggu, 08 Feb 2026
  • Heri Pudyatmoko Ingatkan Pentingnya Indikator Kesejahteraan Non-Angka Makro Minggu, 08 Feb 2026

Berita Lainnya

Berita

Jadi Ahli di Singapura hingga AS, Ini Rekam Jejak James Purba sebagai Ahli Kepailitan

Minggu, 08 Feb 2026
Berita

Lawyer Senior Kepailitan James Purba Lulus Doktor, Soroti Kelemahan Regulasi PKPU

Minggu, 08 Feb 2026
Ekonomi

Prabowo Siapkan Lembaga Pengelola Dana Umat, Potensi Disebut Capai Rp500 Triliun per Tahun

Sabtu, 07 Feb 2026
Hukum Kriminal

Anak Tengah di Jakut Tega Racuni Keluarga Sendiri, Sempat Pura-pura Lemas

Sabtu, 07 Feb 2026
Indoraya NewsIndoraya News
Follow US
Copyright (c) 2025 Indoraya News
  • PEDOMAN MEDIA SIBER
  • KODE ETIK JURNALISTIK
  • STANDAR PERLINDUNGAN WARTAWAN
  • TENTANG KAMI
  • DISCLAIMER
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?