INDORAYA – Film Komang, karya terbaru sutradara Naya Anindita, hadir di layar bioskop seluruh Indonesia mulai 31 Maret 2025, bertepatan dengan momen Lebaran.
Film ini mengisahkan perjalanan cinta yang lahir dari kisah nyata pasangan Raim Laode dan Komang Ade Widiandari, yang sebelumnya viral lewat lagu “Komang” ciptaan Raim sendiri.
Dibintangi oleh Aurora Ribero sebagai Komang dan Kiesha Alvaro sebagai Raim, film ini membawa penonton menyusuri kisah cinta dua insan dari latar budaya dan keyakinan yang berbeda.
Komang, seorang perempuan berdarah Bali yang lembut dan penuh keyakinan, bertemu dengan Raim, pemuda Buton yang memiliki mimpi besar di dunia seni dan musik.
Pertemuan mereka yang sederhana di Baubau berkembang menjadi kisah cinta yang penuh ujian bukan hanya karena jarak dan karier, tetapi juga karena perbedaan agama dan pandangan hidup.
Konflik dalam Komang tidak digambarkan secara hitam putih. Naya memperlihatkan bahwa perbedaan keyakinan bukan sekadar penghalang cinta, tetapi ruang untuk belajar saling memahami. Pesan ini terasa kuat di tengah masyarakat Indonesia yang masih kerap menilai hubungan lintas agama secara negatif.
Film ini berani menampilkan kenyataan bahwa cinta tidak selalu berujung pada kebersamaan, namun tetap bisa menjadi jalan menuju kedewasaan dan penerimaan.
Selain Aurora dan Kiesha, film ini juga didukung oleh Cut Mini, Arie Kriting, Mathias Muchus, dan Ayu Laksmi, yang memberi warna tersendiri dalam membangun dinamika keluarga dan konflik sosial di sekitar dua tokoh utama. Penampilan mereka terasa natural, memperkuat emosi tanpa berlebihan.
Sejak special screening-nya di Baubau dan Makassar pada Maret 2025, Komang telah mendapat sambutan hangat dari penonton. Banyak yang menilai film ini sebagai karya yang tulus dan jujur, jauh dari sensasi, namun dekat dengan kehidupan nyata.
Sebagai sebuah film berbasis kisah nyata, Komang tidak hanya menawarkan kisah romantis, tetapi juga refleksi tentang makna cinta, iman, dan toleransi di tengah perbedaan. Film ini mengingatkan bahwa kemanusiaan seharusnya menjadi dasar dari setiap hubungan, apapun agamanya.
Komang adalah bukti bahwa sinema Indonesia masih mampu menghadirkan kisah lokal dengan pesan universal. Sebuah karya yang layak ditonton, direnungkan, dan diapresiasi bukan hanya karena kisah cintanya, tetapi karena keberanian dan ketulusannya dalam merayakan keberagaman.
Kontributor: Lilin Davina Fessy, Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Atma Jaya Yogyakarta


