Indoraya NewsIndoraya NewsIndoraya News
Notification Show More
Font ResizerAa
  • BERITA
    • HUKUM KRIMINAL
    • PENDIDIKAN
    • EKONOMI
    • KESEHATAN
    • PARLEMEN
  • NASIONAL
  • PERISTIWA
  • POLITIK
  • JATENG
    • DAERAH
  • SEMARANG
  • RAGAM
    • GAYA HIDUP
    • TEKNOLOGI
    • OLAHRAGA
    • HIBURAN
    • OTOMOTIF
  • OPINI
  • KIRIM TULISAN
Cari
  • PEDOMAN MEDIA SIBER
  • KODE ETIK JURNALISTIK
  • STANDAR PERLINDUNGAN WARTAWAN
  • TENTANG KAMI
  • DISCLAIMER
Copyright © 2023 - Indoraya News
Reading: Kisah Ummu Iffah Eks Napiter Perempuan Semarang dari Jalan Kegelapan Kini Jadi Agen Perdamaian
Font ResizerAa
Indoraya NewsIndoraya News
  • BERITA
  • NASIONAL
  • PERISTIWA
  • POLITIK
  • JATENG
  • SEMARANG
  • RAGAM
  • OPINI
  • KIRIM TULISAN
Cari
  • BERITA
    • HUKUM KRIMINAL
    • PENDIDIKAN
    • EKONOMI
    • KESEHATAN
    • PARLEMEN
  • NASIONAL
  • PERISTIWA
  • POLITIK
  • JATENG
    • DAERAH
  • SEMARANG
  • RAGAM
    • GAYA HIDUP
    • TEKNOLOGI
    • OLAHRAGA
    • HIBURAN
    • OTOMOTIF
  • OPINI
  • KIRIM TULISAN
Have an existing account? Sign In
  • PEDOMAN MEDIA SIBER
  • KODE ETIK JURNALISTIK
  • STANDAR PERLINDUNGAN WARTAWAN
  • TENTANG KAMI
  • DISCLAIMER
(c) 2024 Indo Raya News
Semarang

Kisah Ummu Iffah Eks Napiter Perempuan Semarang dari Jalan Kegelapan Kini Jadi Agen Perdamaian

By Lu'luil Maknun
Sabtu, 31 Jan 2026
Share
3 Min Read
Ummu Iffah, eks napiter perempuan yang kini dikenal menjadi penjahit di lingkungan rumahnya, di kawasan Mijen, Kota Semarang. (Foto: Lu'luil Maknun/Indoraya)
SHARE

INDORAYA – Nama Mariffah Hasanah, atau yang akrab disapa Ummu Iffah, pernah tercatat dalam lembaran kelam jaringan terorisme Indonesia.

Mantan narapidana terorisme (napiter) perempuan yang kini berusia 51 tahun ini, memilih jalan transformasi radikal dari kegelapan ideologi kekerasan menuju cahaya pengabdian untuk perdamaian dan kerukunan.

Perjalanan hidup Ummu Iffah adalah narasi panjang pencarian identitas yang tersesat. Awal mula paparan radikalisme berawal di bangku SMK di Lampung era 1990-an, melalui aktivitas Rohis dan kajian tertutup.

“Dari NII (Negara Islam Indonesia), lalu Jamaah Islamiyah, sampai akhirnya ke ISIS. Itu perjalanan panjang,” tutur Ummu Iffah saat ditemui Indoraya dirumahnya di kawasan Mijen, Kota Semarang.

Doktrin yang diterimanya saat itu menanamkan kebencian terhadap negara dan membenarkan kekerasan, yang akhirnya membawanya ke penjara pada 2019 terkait kasus terorisme.

Dia mengungkapkan, masa tahanan justru menjadi titik balik. Di balik jeruji, Ummu Iffah mulai merenung dan belajar kembali.

“Di dalam (tahanan) saya (seakan) dipaksa merenung. Membaca ulang Al-Qur’an, belajar dari ulama yang benar, dan mengikuti pembinaan wawasan kebangsaan,” tutur dia.

Proses deradikalisasi yang difasilitasi oleh Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) dan lembaga pendamping membuka matanya bahwa Islam adalah rahmat, bukan pembenaran untuk kebencian.

Dukungan keluarga, terutama sang suami yang tak pernah terpapar paham radikal, menjadi penopang utama dalam proses pemulihannya. Dukungan itu menjadi fondasi baginya untuk bangkit dan memulai lembaran baru.

“Suami saya percaya saya orang baik. Itu yang membuat saya kuat,” ungkap Ummu Iffah.

Kini, pasca bebas pada Januari 2023, dia aktif mengabdikan diri melalui berbagai kegiatan sosial. Ia didampingi oleh Yayasan Putra Persaudaraan Anak Negeri (Persadani) dan kini menjadi pengurus Forum Perempuan Lintas Agama (Forpela) Semarang.

“Prinsip saya sekarang sederhana, saya ingin menjadi manusia yang bermanfaat,” ujarnya.

Aktivitanya beragam, dari dialog lintas iman, mengajar mengaji di TPA, hingga menginisiasi distribusi Al-Qur’an gratis. Perspektifnya terhadap Indonesia kini telah berubah total.

“Negara ini memberi ruang beragama. Kekurangan pasti ada, tapi bukan alasan untuk melakukan kekerasan,” tegasnya.

Ia berharap kisah transformasinya dapat menjadi pelajaran berharga, terutama bagi generasi muda, untuk tidak mudah terjerumus dalam narasi ekstrem yang menyempitkan agama menjadi justifikasi kekerasan, tetapi menemukan esensi sejati dari keberagaman dan perdamaian.

TAGGED:Berita SemarangEks NapiterEks Napiter Semarang
Share This Article
Facebook Whatsapp Whatsapp

Terbaru

  • Jelang Ramadan, Heri Pudyatmoko Minta Pemda Lebih Peka Peningkatan Kerentanan Sosial Sabtu, 07 Feb 2026
  • Prabowo Siapkan Lembaga Pengelola Dana Umat, Potensi Disebut Capai Rp500 Triliun per Tahun Sabtu, 07 Feb 2026
  • Heri Pudyatmoko Soroti Tantangan Pembangunan Daerah Berkelanjutan di Era Transisi Sabtu, 07 Feb 2026
  • Anak Tengah di Jakut Tega Racuni Keluarga Sendiri, Sempat Pura-pura Lemas Sabtu, 07 Feb 2026
  • Era Industri Modern Kian Menantang, Heri Pudyatmoko Tegaskan Perlunya Pemetaan Kebutuhan Tenaga Kerja Lokal Sabtu, 07 Feb 2026
  • KONI Jateng Perkuat Pembinaan SDM Olahraga, Tahan Atlet Potensial Agar Tak Hengkang ke Daerah Lain Sabtu, 07 Feb 2026
  • Disdukcapil Kudus Kejar Target 20 Persen Aktivasi KTP Digital, Baru Tercapai 6,8 Persen Sabtu, 07 Feb 2026

Berita Lainnya

Semarang

98.545 Peserta PBI Nonaktif, Pemkot Semarang Siapkan Skema UHC

Jumat, 06 Feb 2026
Semarang

Dari Balikpapan Hingga Papua, Karya Barongsai Pengrajin Semarang Diburu Jelang Imlek

Jumat, 06 Feb 2026
Semarang

Kota Semarang Hasilkan 1.200 Ton Sampah Per Hari, Penerapan 3R Tak Maksimal

Jumat, 06 Feb 2026
Semarang

Teror Pinjol Makin Brutal! Tujuh Ambulans Dipesan Fiktif, Diminta Tagih Utang Rp14 Juta

Kamis, 05 Feb 2026
Indoraya NewsIndoraya News
Follow US
Copyright (c) 2025 Indoraya News
  • PEDOMAN MEDIA SIBER
  • KODE ETIK JURNALISTIK
  • STANDAR PERLINDUNGAN WARTAWAN
  • TENTANG KAMI
  • DISCLAIMER
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?