INDORAYA – Duka mendalam masih menyelimuti Sulastri (27), warga Desa Penakir, Kecamatan Pulosari, Kabupaten Pemalang, yang terdampak bencana banjir bandang.
Banjir bandang bukan hanya merusak rumahnya, tetapi juga merenggut nyawa sang suami, Tanto (33). Hingga kini, Sulastri masih berusaha menguatkan diri di tengah trauma yang belum sepenuhnya pulih.
Musibah itu terjadi pada Sabtu, 17 Januari 2026, sekitar pukul 02.00 WIB. Saat banjir datang secara tiba-tiba, Sulastri berada di bagian belakang rumah, sementara suaminya berada di bagian depan.
“Kejadian pas pukul 02.00 WIB. Itu yang paling besar menghantam rumah-rumah. Datangnya dari belakang rumah,” katanya di hadapan Wakil Gubernur Jawa Tengah, Taj Yasin, saat mengunjungi posko pengunsian, Minggu (25/1/2025).
Derasnya arus banjir menyeret apa saja yang dilalui. Sulastri sempat terseret, namun masih mampu bertahan dengan berpegangan pada kayu hingga akhirnya selamat. Nasib berbeda dialami suaminya yang tak tertolong akibat kuatnya arus banjir.
Di tengah kesedihannya, Sulastri menyampaikan terimakasih atas perhatian Pemerintah Provinsi Jawa Tengah yang memberikan santunan sebesar Rp10 juta. Bantuan tersebut diserahkan langsung oleh Wakil Gubernur Jateng dan rencananya akan digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup ke depan.
Tak hanya Sulastri, trauma juga dirasakan warga Desa Penakir lainnya. Supinah (62) mengaku masih memilih bertahan di posko pengungsian sejak Jumat malam bersama pengungsi lain, meskipun banjir telah surut.
“Rumah masih kotor. Saya biarkan dulu, yang penting saya selamat,” ujarnya.
Selama berada di pengungsian, Supinah mengatakan kebutuhan dasar para korban tercukupi dengan baik.
“Baju dikasih, makan sehari tiga kali, terus dikasih camilan,” katanya.
Ia berharap kondisi cuaca segera membaik agar warga bisa kembali ke rumah tanpa rasa cemas akan bencana serupa terulang kembali.
Sementara itu, Pemprov Jateng terus melakukan berbagai upaya penanganan bagi korban banjir bandang di Kabupaten Pemalang. Selain fokus pada penyelamatan warga, pemerintah juga menaruh perhatian pada pemulihan psikologis masyarakat yang terdampak.
Wakil Gubernur Jateng Taj Yasin Maimoen menyampaikan, saat meninjau lokasi bencana, banyak warga menceritakan kepanikan yang terjadi ketika banjir bandang datang secara mendadak. Arus deras bercampur lumpur dan kayu membuat warga berusaha menyelamatkan diri dalam keterbatasan.
“Banjir ini terjadi bebarengan, tidak hanya di Kabupaten Pemalang, tetapi juga di wilayah bawah Gunung Slamet seperti Purbalingga, sebagian Tegal, dan Kabupaten Brebes,” ujar dia saat melakukan peninjauan lokasi terparah dampak banjir bandang di kawasan Lereng Gunung Slamet, di Desa Penakir, Kabupaten Pemalang, Minggu (25/1/ 2026).
Ia menegaskan bahwa keselamatan warga menjadi prioritas utama pemerintah, diikuti dengan upaya pemulihan kondisi mental dan emosional masyarakat terdampak.
“Mereka masih trauma. Kami melihat ketika ada pemantik sedikit saja, emosinya sudah meluap-luap. Ini yang harus kita redakan dulu,” katanya.
Menurutnya, pemerintah akan memberikan perhatian serius terhadap kesehatan fisik dan mental warga sebelum melangkah ke tahap evaluasi dan penanganan lanjutan pascabencana.
“Kita pikirkan bagaimana kesehatannya, bagaimana mentalnya, trauma healing-nya supaya bisa pulih kembali. Setelah itu baru kita evaluasi bersama,” ungkap Gus Yasin.


