Indoraya NewsIndoraya NewsIndoraya News
Notification Show More
Font ResizerAa
  • BERITA
    • HUKUM KRIMINAL
    • PENDIDIKAN
    • EKONOMI
    • KESEHATAN
    • PARLEMEN
  • NASIONAL
  • PERISTIWA
  • POLITIK
  • JATENG
    • DAERAH
  • SEMARANG
  • RAGAM
    • GAYA HIDUP
    • TEKNOLOGI
    • OLAHRAGA
    • HIBURAN
    • OTOMOTIF
  • OPINI
  • KIRIM TULISAN
Cari
  • PEDOMAN MEDIA SIBER
  • KODE ETIK JURNALISTIK
  • STANDAR PERLINDUNGAN WARTAWAN
  • TENTANG KAMI
  • DISCLAIMER
Copyright © 2023 - Indoraya News
Reading: Kisah Mak Jah Pemilik Rumah Terakhir di Desa Bedono Berjuang Menghadapi Ancaman Rob Demak
Font ResizerAa
Indoraya NewsIndoraya News
  • BERITA
  • NASIONAL
  • PERISTIWA
  • POLITIK
  • JATENG
  • SEMARANG
  • RAGAM
  • OPINI
  • KIRIM TULISAN
Cari
  • BERITA
    • HUKUM KRIMINAL
    • PENDIDIKAN
    • EKONOMI
    • KESEHATAN
    • PARLEMEN
  • NASIONAL
  • PERISTIWA
  • POLITIK
  • JATENG
    • DAERAH
  • SEMARANG
  • RAGAM
    • GAYA HIDUP
    • TEKNOLOGI
    • OLAHRAGA
    • HIBURAN
    • OTOMOTIF
  • OPINI
  • KIRIM TULISAN
Have an existing account? Sign In
  • PEDOMAN MEDIA SIBER
  • KODE ETIK JURNALISTIK
  • STANDAR PERLINDUNGAN WARTAWAN
  • TENTANG KAMI
  • DISCLAIMER
(c) 2024 Indo Raya News
Daerah

Kisah Mak Jah Pemilik Rumah Terakhir di Desa Bedono Berjuang Menghadapi Ancaman Rob Demak

By Athok Mahfud
Sabtu, 17 Jan 2026
Share
4 Min Read
Mak Jah, perempuan lansia berjuang menghadapi ancaman rob di Desa Bedodo, Kabupaten Demak. (Foto: FSM UNDIP)
SHARE

INDORAYA – Setiap pagi, Pasijah, perempuan lansia yang lebih akrab disapa Mak Jah, menyambut hari dengan suara air laut. Bukan debur ombak di pantai, melainkan genangan rob yang perlahan merayap ke halaman rumahnya.

Di Dusun Tambaksari, Desa Bedono, Kecamatan Sayung, Kabupaten Demak, rumah Mak Jah menjadi satu-satunya yang masih bertahan. Rumah terakhir di desa yang nyaris ditelan laut.

Dua puluh tahun lalu, Bedono masih menjadi desa pesisir yang ramai. Anak-anak bermain di halaman, perahu nelayan bersandar tak jauh dari rumah, dan tambak menjadi sumber penghidupan utama warga.

Namun abrasi dan banjir rob yang datang silih berganti mengubah segalanya. Air laut terus maju, memaksa warga pergi satu per satu. Sejak 1999 hingga 2007, sebanyak 268 kepala keluarga direlokasi.

Rumah-rumah ditinggalkan, fasilitas umum tenggelam, dan garis pantai kian mundur. Kini, Bedono dikenal sebagai salah satu wilayah paling terdampak rob di pesisir utara Jawa, sebuah potret nyata krisis lingkungan di Pantura.

Di tengah keheningan desa yang tersisa, Mak Jah memilih bertahan. Bersama suami dan anaknya, ia menolak meninggalkan rumah yang telah menjadi saksi perjalanan hidup mereka.

Hampir setiap hari, air pasang menghantam langsung sekitar rumah. Alih-alih menyerah, Mak Jah mencari cara berdamai dengan alam. Ia menanam mangrove di sekitar rumah sebagai benteng alami. Baginya, mangrove bukan sekadar tanaman, melainkan harapan.

Akar-akar mangrove itu menahan ombak, memperlambat abrasi, sekaligus menghadirkan kehidupan baru. Burung-burung datang, ikan dan kepiting rajungan kembali bermunculan.

Perlahan, ekosistem pesisir yang sempat rapuh mulai menunjukkan tanda-tanda pulih. Keteguhan Mak Jah merawat mangrove menjadikan kisahnya simbol ketahanan masyarakat pesisir, tentang bertahan, beradaptasi, dan merawat alam yang terus berubah.

Kisah Bedono tak berhenti sebagai cerita duka. Desa ini justru berkembang menjadi ruang belajar hidup bagi dunia pendidikan dan sains. Sejak 2022, Fakultas Sains dan Matematika (FSM) Universitas Diponegoro melalui Cluster for Paleolimnology (CPalim) menjadikan Bedono sebagai living lab atau laboratorium hidup.

Inisiatif yang dipimpin oleh Prof. Dr. Tri Retnaningsih Soeprobowati, M.App.Sc., Guru Besar FSM UNDIP sekaligus Founder CPalim, berfokus pada pengembangan solusi berbasis ekosistem atau Nature-Based Solutions (NbS) untuk wilayah pesisir.

Melalui pendekatan living lab, Bedono menjadi ruang temu antara akademisi, masyarakat, pemerintah, dan berbagai pemangku kepentingan. Pengetahuan ilmiah bertemu dengan kearifan lokal.

Di sinilah kisah Mak Jah menjadi inspirasi nyata. Menurut Prof. Tri Retnaningsih, ketangguhan Mak Jah menunjukkan bahwa konservasi dan mitigasi perubahan lingkungan tidak bisa berjalan sendiri. Upaya tersebut harus melibatkan masyarakat sebagai aktor utama, dengan dukungan lintas sektor yang saling menguatkan.

Bedono mengajarkan bahwa krisis lingkungan bukan sekadar soal naiknya muka air laut atau data abrasi. Ia menyangkut ruang hidup, ingatan kolektif, dan keberlanjutan sosial–ekologis. Di rumah terakhir Dusun Tambaksari, Mak Jah terus menjaga mangrove, seolah menjaga denyut kehidupan desa yang hampir hilang.

FSM UNDIP berharap, living lab Bedono dapat menginspirasi wilayah pesisir lain di Indonesia. Bahwa di tengah ancaman rob dan abrasi, selalu ada ruang untuk berkolaborasi, belajar bersama, dan menata masa depan Pantura yang lebih tangguh, berangkat dari kisah sederhana seorang perempuan yang memilih bertahan di rumah terakhirnya.

TAGGED:Desa Bedono DemakRob Demak
Share This Article
Facebook Whatsapp Whatsapp

Terbaru

  • Gojek Gandeng Dinkes Semarang, Latih Driver Siap Tanggap Darurat di Jalan Minggu, 08 Feb 2026
  • Pemilu 2029 Masih Jauh, Bawaslu–DPRD Semarang Pasang Kuda-Kuda Cegah Pelanggaran Minggu, 08 Feb 2026
  • Jadi Ahli di Singapura hingga AS, Ini Rekam Jejak James Purba sebagai Ahli Kepailitan Minggu, 08 Feb 2026
  • Perkuat Rantai Pasok Ekonomi Lokal, Heri Pudyatmoko Ajak Kolaborasi Semua Pihak Minggu, 08 Feb 2026
  • Heri Pudyatmoko: Perlindungan Perempuan dan Anak di Jawa Tengah Harus Lebih Terintegrasi Minggu, 08 Feb 2026
  • Cegah Kekerasan, Wagub Jateng Minta Fungsi UPTD Perlindungan Perempuan dan Anak Dioptimakan Minggu, 08 Feb 2026
  • Heri Pudyatmoko Ingatkan Pentingnya Indikator Kesejahteraan Non-Angka Makro Minggu, 08 Feb 2026

Berita Lainnya

Daerah

Wakil Bupati Klaten Benny Indra Ardhianto Meninggal Dunia di Usia 33 Tahun

Sabtu, 07 Feb 2026
Daerah

117 Siswa SMAN 2 Kudus Diduga Keracunan MBG, Mayoritas Rawat Jalan

Kamis, 29 Jan 2026
Daerah

Januari 2026: Harga Cabai, Bawang, Daging dan Telur Ayam di Pekalongan Turun

Kamis, 29 Jan 2026
Daerah

Sering Meluap Saat Hujan, BPBD Sragen Susur Sungai Wiroko Petakan Titik Penyebab Banjir

Kamis, 29 Jan 2026
Indoraya NewsIndoraya News
Follow US
Copyright (c) 2025 Indoraya News
  • PEDOMAN MEDIA SIBER
  • KODE ETIK JURNALISTIK
  • STANDAR PERLINDUNGAN WARTAWAN
  • TENTANG KAMI
  • DISCLAIMER
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?