INDORAYA – Setiap pagi, Pasijah, perempuan lansia yang lebih akrab disapa Mak Jah, menyambut hari dengan suara air laut. Bukan debur ombak di pantai, melainkan genangan rob yang perlahan merayap ke halaman rumahnya.
Di Dusun Tambaksari, Desa Bedono, Kecamatan Sayung, Kabupaten Demak, rumah Mak Jah menjadi satu-satunya yang masih bertahan. Rumah terakhir di desa yang nyaris ditelan laut.
Dua puluh tahun lalu, Bedono masih menjadi desa pesisir yang ramai. Anak-anak bermain di halaman, perahu nelayan bersandar tak jauh dari rumah, dan tambak menjadi sumber penghidupan utama warga.
Namun abrasi dan banjir rob yang datang silih berganti mengubah segalanya. Air laut terus maju, memaksa warga pergi satu per satu. Sejak 1999 hingga 2007, sebanyak 268 kepala keluarga direlokasi.
Rumah-rumah ditinggalkan, fasilitas umum tenggelam, dan garis pantai kian mundur. Kini, Bedono dikenal sebagai salah satu wilayah paling terdampak rob di pesisir utara Jawa, sebuah potret nyata krisis lingkungan di Pantura.
Di tengah keheningan desa yang tersisa, Mak Jah memilih bertahan. Bersama suami dan anaknya, ia menolak meninggalkan rumah yang telah menjadi saksi perjalanan hidup mereka.
Hampir setiap hari, air pasang menghantam langsung sekitar rumah. Alih-alih menyerah, Mak Jah mencari cara berdamai dengan alam. Ia menanam mangrove di sekitar rumah sebagai benteng alami. Baginya, mangrove bukan sekadar tanaman, melainkan harapan.
Akar-akar mangrove itu menahan ombak, memperlambat abrasi, sekaligus menghadirkan kehidupan baru. Burung-burung datang, ikan dan kepiting rajungan kembali bermunculan.
Perlahan, ekosistem pesisir yang sempat rapuh mulai menunjukkan tanda-tanda pulih. Keteguhan Mak Jah merawat mangrove menjadikan kisahnya simbol ketahanan masyarakat pesisir, tentang bertahan, beradaptasi, dan merawat alam yang terus berubah.
Kisah Bedono tak berhenti sebagai cerita duka. Desa ini justru berkembang menjadi ruang belajar hidup bagi dunia pendidikan dan sains. Sejak 2022, Fakultas Sains dan Matematika (FSM) Universitas Diponegoro melalui Cluster for Paleolimnology (CPalim) menjadikan Bedono sebagai living lab atau laboratorium hidup.
Inisiatif yang dipimpin oleh Prof. Dr. Tri Retnaningsih Soeprobowati, M.App.Sc., Guru Besar FSM UNDIP sekaligus Founder CPalim, berfokus pada pengembangan solusi berbasis ekosistem atau Nature-Based Solutions (NbS) untuk wilayah pesisir.
Melalui pendekatan living lab, Bedono menjadi ruang temu antara akademisi, masyarakat, pemerintah, dan berbagai pemangku kepentingan. Pengetahuan ilmiah bertemu dengan kearifan lokal.
Di sinilah kisah Mak Jah menjadi inspirasi nyata. Menurut Prof. Tri Retnaningsih, ketangguhan Mak Jah menunjukkan bahwa konservasi dan mitigasi perubahan lingkungan tidak bisa berjalan sendiri. Upaya tersebut harus melibatkan masyarakat sebagai aktor utama, dengan dukungan lintas sektor yang saling menguatkan.
Bedono mengajarkan bahwa krisis lingkungan bukan sekadar soal naiknya muka air laut atau data abrasi. Ia menyangkut ruang hidup, ingatan kolektif, dan keberlanjutan sosial–ekologis. Di rumah terakhir Dusun Tambaksari, Mak Jah terus menjaga mangrove, seolah menjaga denyut kehidupan desa yang hampir hilang.
FSM UNDIP berharap, living lab Bedono dapat menginspirasi wilayah pesisir lain di Indonesia. Bahwa di tengah ancaman rob dan abrasi, selalu ada ruang untuk berkolaborasi, belajar bersama, dan menata masa depan Pantura yang lebih tangguh, berangkat dari kisah sederhana seorang perempuan yang memilih bertahan di rumah terakhirnya.


