INDORAYA – Center of Economic and Law Studies (Celios) memperkirakan total kerugian akibat banjir dan longsor yang terjadi di Pulau Sumatra pada bulan ini mencapai Rp68,67 triliun.
Dalam laporan terbarunya, Celios menjelaskan bahwa estimasi kerugian ekonomi tersebut dihitung berdasarkan lima kategori. Pertama, kerusakan rumah dengan nilai kerugian sekitar Rp30 juta untuk tiap unit.
Kategori kedua adalah kerusakan jembatan, di mana biaya pemulihan setiap jembatan diperkirakan mencapai Rp1 miliar.
Selanjutnya, kerugian pada pendapatan keluarga dihitung menggunakan rata-rata pendapatan harian di masing-masing provinsi dikalikan 20 hari kerja.
Kategori keempat berkaitan dengan kerusakan lahan sawah, dengan potensi kehilangan sekitar Rp6.500 per kilogram berdasarkan asumsi produksi 7 ton per hektare. Kelima, biaya perbaikan jalan diperkirakan Rp100 juta untuk setiap 1.000 meter.
“Secara nasional, terjadi dampak penurunan Produk Domestik Bruto mencapai Rp68,67 triliun atau setara dengan 0,29 persen,” tulis Celios dalam studinya yang dikutip pada Senin (1/12/2025).
Selain itu, berbagai provinsi juga merasakan dampak terhadap arus distribusi barang konsumsi dan kebutuhan industri, terutama karena Sumatra Utara merupakan salah satu pusat industri utama di kawasan Sumatra.
“Secara regional, ekonomi Aceh akan menyusut sekitar 0,88 persen atau setara Rp2,04 triliun,” ujarnya.
Celios menilai bahwa bencana lingkungan ini dipicu oleh perubahan fungsi lahan akibat deforestasi untuk perkebunan sawit dan aktivitas pertambangan.
Di sisi lain, kontribusi sektor tambang dan sawit terhadap perekonomian daerah—seperti di Aceh—dinilai tidak sebanding dengan besarnya kerugian yang ditimbulkan bencana.
Karena itu, Celios mendorong diberlakukannya moratorium izin tambang serta ekspansi kebun sawit.
“Sudah waktunya beralih ke ekonomi yang lebih berkelanjutan, ekonomi restoratif. Tanpa perubahan struktur ekonomi, bencana ekologis akan berulang dengan kerugian ekonomi yang jauh lebih besar.”


