Ad imageAd image

Kemensos Tekankan Tiap Daerah Lakukan Pemetaan Wilayah Rawan Bencana

Kartika Ayu
By Kartika Ayu 87 Views
3 Min Read
Kunjungan Menteri sososial Republik Indonesia, Tri Rismaharini, saat meninjau rumah korban tanah longsor di Kota Semarang, Selasa (25/1/2022).

INDORAYA –  Memasuki musim hujan dengan intensitas air cukup tinggi membuat beberapa wilayah di Indonesia mengalami bencana seperti tanah longsor. Melihat hal itu, Kementerian Sosial (Kemensos) meminta setiap kabupaten atau kota agar memetakan wilayah rawan bencana.

Hal tersebut disampaikan Menteri Kemensos Republik Indonesia, Tri Rismaharini, saat meninjau korban musibah tanah longsong di Kelurahan Tandang, Tembalang, Kota Semarang.
Dari kejadian bencana ini, satu remaja bernama Andika (16) meninggal dunia, pada Selasa lalu (25/1/2022).

Risma mengatakan, pentingnya pemetaan wilayah rawan bencana sebagai antisipasi timbulnya korban. Sehingga hal itu, bisa menjadi upaya pertama menanggani bila terjadi bencana alam.

BACA JUGA:   Wajib Cari Pelabuhan Baru

“Tapi yang paling penting ada pemetaan bencana saat memasuki musim hujan. Sehingga warga juga bisa diingatkan,” kata Risma, sapaan akrabnya.

Mengenai satu korban yang meninggal dunia akibat bencana tanah lonsor, lanjut Risma, pihaknya telah memberikan santunan kepada pihak keluarga.

“Ini santunan memang ada dari pemerintah untuk warga yang kena musibah. Untuk yang meninggal Rp 15 juta dan yang luka-luka Rp 5 juta. Kalau logistik selama ini kami sering kirim dari balai. Saat ini kita serahkan semancam lumbung yang sewaktu-waktu bisa digunakan oleh Dinas Sosial Kota Semarang untuk membantu warga yang terdampak,” lanjut Risma.

Risma juga menjelaskan, mengenai lumbung pangan tersebut, jika sewaktu-waktu habis maka bisa diisi kembali. Disebutkan, isi dari lumbung pangan berupa bahan makanan, selimut, kasur, makanan anak, kidswhare atau pakaian bayi, dan perlengkapan lainya.

BACA JUGA:   Jumlah Seri Sesuai Kesepakatan

Tak hanya itu, pihaknya juga sudah mendorong setiap kabupaten ataupun kota untuk juga menyiapkan rumah layak huni, sebagai langkah antisipasi saat terjadi bencana.

“Dari Kemensos mendorong kabupaten/kota membangun rumah layak huni untuk relokasi warga yang tinggal di daerah rawan bencana. Tapi di setiap kabupaten/kota kebijakan itu juga ada, jadi itu biar ditangani daerah dulu,” tutur Risma.

Di kesempatan yang sama, Ketua RT 5 RW 11 Delikrejo, Kelurahan Tandang, Tembalang, Kota Semarang, Agung Mustari menjelaskan, kronologi awal terjadi bencana tanah longsor bermula dari intensitas hujan tinggi disertai angin. Sehingga lereng belakang rumah korban tidak bisa menampung air, dan adanya juga pohon-pohon besar terkena angin kencang sehingga menggerakan tanah, hingga mengenai rumah korban. Terjadi becana tersebut, ia meminta pemerintah agar dibangunkan talut di daerah tersebut.

BACA JUGA:   Terima Obor Pesonas, Wabup Demak Atlet Berkebutuhan Khusus Berprestasi di Berlin

“Saya sudah mengajukan talut ke Disperkim Kota Semarang. Kemarin sudah diukur, yang diajukan panjang 10 x 6 meter. Tapi, yang disetujui hanya 35 meter, alasanya prioritas untuk korban. Meski begitu, saya tetap ajukan semuanya untuk antisipasi ke depan,” katanya.(IR)

TAGGED:
Share this Article