Ad imageAd image

Kemarau Kering Bikin Harga Beras Melonjak Naik, Demak IPH Tertinggi di Jateng

Athok Mahfud
By Athok Mahfud 5.7k Views
2 Min Read
Kepala Dinas Ketahanan Pangan (Dishanpang) Jawa Tengah, Dyah Lukisari. (Foto: Athok Mahfud/Indoraya)

INDORAYA – Puncak musim kemarau yang memicu adanya kekeringan membuat aktivitas produksi pertanian di sejumlah darah di Jawa Tengah (Jateng) terganggu. Kekeringan bahkan mengakibatkan harga beras melonjak naik.

Kepala Dinas Ketahanan Pangan (Dishanpang) Jawa Tengah Dyah Lukisari mengatakan, melonjaknya harga beras terjadi di sejumlah wilayah yang terdampak kekeringan. Misalnya di Kabupaten Demak dan Kabupaten Grobogan.

Dia berkata, bahkan Kabupaten Demak menjadi wilayah dengan Indeks Perkembangan Harga (IPH) tertinggi di Jateng. Harga beras di Demak rata-rata menyentuh Rp 12.500 atau mengalami kenaikan Rp Rp 2.000.

BACA JUGA:   Polresta Banyumas Dalami Kasus Temuan Tulang Manusia

“Di Jateng itu mungkin di daerah kering ya seperti Demak. Tadi terpantau IPH-nya tinggi di Demak. Yang daerah kering kan produksinya jelas kurang ya saya kira relatif lebih tinggi harganya,” ujarnya, Senin (12/9/2023).

Diah mengatakan, meskipun harga beras di Jateng naik, namun kenaikannya masih tergolong rendah jika dibandingkan dengan provinsi lain. Misalnya di Provinsi DIY dan sejumlah provinsi di Pulau Kalimantan.

“Kalau dirata-rata sekitar Rp 12.500 rata- rata. Tapi sekalipun Rp 12.500 di Jateng ternyata dibanding provinsi lain kita masih lebih rendah kenaikannya. Di DIY sampai Rp 3.000, Kalimantan Rp 3.000. Kita kenaikannya rata-rata Rp 2.000,” imbuhnya.

BACA JUGA:   Ada Investor Lokal, Kabupaten Kudus Bakal Punya Pabrik Motor Listrik

Guna memenuhi kebutuhan pangan di wilayah terdampak kekeringan, Dishanpang bekerja sama dengan Perum Bulog Kanwil Jateng menyediakan beras cadangan pangan pemerintah (CPP).

Kata Diah, masing-masing daerah diberikan jatah sebanyak 100 ton dari Perum Bulog. Dia meminta pemerintah daerah yang wilayahnya mengalami kekeringan untuk memanfaatkan cadangan tersebut.

“Ini kan kita lagi kekeringan dan kita punya jatah di Bulog masing masing daerah 100 ton. Tapi itu sampai sekarang belum ada yang memanfaatkan karena mereka gak tahu statusnya apakah Siaga, Awas atau kekeringan,” bebernya.

BACA JUGA:   Tinjau Lokasi Banjir Semarang, Kapolda Pastikan Banjir di Kaligawe Mulai Surut Bisa Dilewati Kendaraan

Dia mengatakan, Bulog Kanwil Jateng menyediakan beras 100 ton khusus untuk daerah yang sudah memasuki status siaga kekeringan. Jika masing-masing daerah mengambilnya, itu bisa meredam kenaikan harga beras.

Share this Article
Leave a comment