Ad imageAd image

Kebijakan Naiknya Tarif Transportasi Online di Jateng Berpotensi Turunkan Jumlah Orderan

Redaksi Indoraya
By Redaksi Indoraya 754 Views
3 Min Read
Ilustrasi transportasi online, Maxim. (Foto: Istimewa)

INDORAYA – Pemerintah Provinsi Jawa Tengah telah menyusun rancangan untuk menaikkan tarif minimal layanan transportasi online. Hal ini berdasarkan Surat Keputusan Gubernur Jateng Nomor 974.5/36 tahun 2023 tentang Tarif Angkutan Sewa Khusus.

Kenaikan tarif layanan transportasi online diklaim dapat menambah penghasilan mitra pengemudi menjadi lebih banyak. Namun, kenaikan tarif transportasi online berdampak pada kurangnya minat masyarakat untuk menggunakan jasa transportasi online dan membuat pesanan pengemudi ikut turun.

Akhirnya kebijakan baru yang diterapkan pemerintah akan merugikan konsumen serta mitra pengemudi. Sehingga pendapatan yang diharapkan meningkat, justru akan berkurang secara signifikan.

Menurut hasil survei Jajak Pendapat (JakPat), kenaikan tarif ini membuat 51% responden memilih untuk mengurangi penggunaan transportasi online dan 44% dan beralih menggunakan kendaraan pribadi.

BACA JUGA:   Tiap Kamis Pakai Bahasa Jawa, Jateng Raih Penghargaan Revitalisasi Bahasa Daerah dari Kemendikbudristek

Pasalnya, para konsumen merasa bahwa naiknya tarif transportasi online tidak sebanding dengan pendapatan rata-rata masyarakat provinsi Jawa Tengah. Pendapatan ini mengacu pada Upah Minimum Kabupaten/Kota (UMK).

“Dengan naiknya harga taksi online membuat saya mengurangi niat saya dalam memesan ojol, saya harap pemerintah dan aplikator dapat menyesuaikan tarif ojek online sesuai dengan kemampuan beli masyarakat di setiap daerah juga,” ujar Meli yang merupakan pengguna layanan transportasi online di Semarang.

Adapun rinciannya, rata-rata penduduk di Kota Semarang, Jateng menggunakan sekitar Rp25.000 – Rp35.000 per hari untuk taksi online. Dalam sebulan, konsumen tersebut bisa mengeluarkan Rp750.000 – Rp1.050.000 atau sekitar 23% – 46% untuk kebutuhan transportasi.

BACA JUGA:   12 Kali Berturut-turut, Pemprov Jateng Raih Opini WTP

Jika kenaikan tarif itu diterapkan, penduduk di Kota Semarang akan menghabiskan Rp36.000 – Rp50.000 per hari. Maka, konsumen dapat menghabiskan Rp1.080.000 – Rp 1.500.000 per bulannya atau sekitar 33% – 46% dari UMK untuk kebutuhan transportasi.

Menurunnya minat konsumen ini akan berdampak juga dengan kota/kabupaten lain di Jawa Tengah dengan angka UMK yang lebih rendah. Kenaikan tarif dan pengeluaran penduduk pada sektor transportasi juga dapat sangat berpengaruh pada nilai inflasi di kuartal pertama tahun 2024.

BACA JUGA:   Pelayanan Sektor Pendidikan, Kesehatan, dan Sosial Jadi Rapor Merah Pemprov Jateng

Selain itu, transportasi umum juga masih cukup sulit diakses pada wilayah-wilayah yang tidak tercakup pada jaringan atau jalur transportasi umum. Hal ini akan menjadi faktor yang mempersulit mobilitas masyarakat.

Sementara itu, Public Relations Specialist transportasi online Maxim, Yuan Ifdal Khoir juga menyampaikan pihaknya berharap agar pemerintah tidak menaikkan jumlah tarif layanan transportasi online.

“Agar pengemudi bisa mendapatkan penghasilan untuk menafkahi keluarganya,” kata dia, dalam keterangan yang diterima Indoraya, pada Selasa (19/3/2024).

Share this Article
Leave a comment