Ad imageAd image

Kaji Digitalisasi Agama dalam Fiqh Kontemporer, Imam Yahya Dikukuhkan Guru Besar UIN Walisongo

Athok Mahfud
By Athok Mahfud 836 Views
4 Min Read
Imam Yahya dikukuhkan sebagai Guru Besar Bidang Ilmu Fikih dalam Sidang Senat Terbuka di Auditorium 2 Kampus 3 UIN Walisongo Semarang, Senin (13/3/2023). (Foto: UIN Walisongo Semarang)

INDORAYA – UIN Walisongo Semarang mengukuhkan Imam Yahya sebagai Guru Besar Bidang Ilmu Fikih. Pengukuhan ini dilakukan dalam Sidang Senat Terbuka di Gedung Tgk. Ismail Yaqub Auditorium 2 Kampus 3 UIN Walisongo Semarang pada Senin (13/3/2023).

Acara ini dipimpin oleh Rektor UIN Walisongo Imam Taufiq dan dihadiri oleh keluarga, kolega, guru besar dari sejumlah universitas. Sejumlah tokoh agama juga hadir, di antaranya KH Ali Muhlis, Rais Syuriyah PWNU Jateng KH Ubaidillah Shodaqoh, Ketua Baznas Jateng KH Ahmad Daroji, Ketua Kalam UIN Walisongo Lukman Hakim.

Pada kesempatan ini, Profesor Imam Yahya menyampaikan orasi ilmiahnya yang berjudul “Fiqh Digital: Implementasi Digitalisasi Agama dalam Fiqh Kontemporer.” Dia menekankan, digitalisasi agama bukan hanya fenomena transformasi sosial budaya, tapi juga sebagai tantangan transformasi bidang keagamaan.

“Digitalisasi agama juga dapat memberikan banyak manfaat, seperti memudahkan akses informasi keagamaan, memfasilitasi komunikasi dan interaksi antara umat Islam dari berbagai negara dan budaya, serta membantu mempercepat penyebaran dakwah dan pengajaran agama,” jelasnya saat menyampaikan orasi.

BACA JUGA:   Bukannya Lakukan Amalan di Bulan Ramadan, Pria di Semarang Justru Nekat Curi Kotak Amal Masjid

“Komunikasi antar masyarakat yang semula bersifat komunal, sekarang ini berubah menjadi pola komunikasi online, di mana antar individu bisa menjalin komuniksi intensif tanpa melakukan pertemuan langsung,” imbuh Imam Yahya dalam keterangan pers yang diterima Indoraya, Senin (13/3/2023).

Menurutnya, digitalisasi menciptakan terjadinya transformasi di bidang keagamaan. Hal ini turut mendorong aktivitas keagamaan menjadi lebih efisien dan efektif. Pasalnya berbagai kajian marak berlangsung secara online di tengah masyarakat muslim saat ini.

“Kajian agama virtual, doa bersama virtual, tahlil virtual, bahkan sholat jumat virtual menjadi alternative dalam melakukan berbagai kegiatan keagamaan selama masa pandemik ini. Munculnya banyak tokoh-tokoh ulama, kyai, atau ustadz virtual, menambah marak kegiatan keagamaan di ranah virtual,” terangnya.

BACA JUGA:   Wajib Belajar 13 Tahun di Kota Semarang Akan Diterapkan Tahun Ajaran Baru

Namun di tengah maraknya penggunaan digitalisasi agama, Prof Imam Yahya menyebutkan satu tantangan yang dihadapi. Yaitu adanya penolakan dari kaum muslim terhadap digitalisasi agama yang disinyalir akan mengubah eksistensi agama dan tokoh-tokoh agama.

“Peran para ulama dan cendekiawan muslim yang memahami teknologi digital dan memiliki pengetahuan yang cukup tentang agama Islam dapat membantu umat Islam dalam memahami penggunaan digitalisasi agama secara benar dan sesuai dengan ajaran Islam”, ungkap Imam Yahya.

Sementara itu, Rektor UIN Walisongo Semarang Imam Taufiq menilai bahwa
Profesor Imam Yahya merupakan sosok yang penuh cinta kasih, membahana rasa senyum,  dan sikapnya menyenangkan. Kontribusinya untuk UIN Walisongo juga dinilainya sangat penting.

Profesor Imam Yahya tercatat sebagai dekan dengan masa jabatan dan pengalaman paling banyak. Dekan Fakultas Syariah dan Ekonomi Islam IAIN Walisongo tahun 2010-2013, Dekan Syariah Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam IAIN Walisongo Tahun 2014-2015.

BACA JUGA:   Jelang Puasa Ramadan 2024, Wamendag Pastikan Persediaan Bahan Pokok Aman

Selanjutnya, Profesor Imam Yahya tercatat menjabat sebagai Dekan Syariah Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam UIN Walisongo Semarang tahun 2015-2019 serta Direktur RMB UIN Walisongo Semarang hingga sekarang.

Imam Taufiq menilai bahwa Profesor Imam Yahya telah meneguhkan bibit keunggulan cendekiawan yang ulung dan memberikan gagasan yang jernih. Terlebih pemikirannya seputar sholat online, akad ninah online, dan haji metaverse.

“Ketika semua online dan digital termasuk dalam putusan agama. Sholat online, Akad nikah online dan haji metaverse. Beliau memberikan gambaran, religion online itu dilakukan karena bagian dari respon kita di dunia digital. UIN Walisongo ingin memberikan Khidmah yang terbaik di tengah dies natalis,” ungkap Imam.

Share this Article
Leave a comment