INDORAYA – Warga Tambaksari, RW 7 Kelurahan Mangkang Wetan, Kota Semarang, hidup dalam kondisi serba terbatas sejak jembatan penghubung kampung mereka roboh diterjang banjir pada Kamis (15/1/2026) malam. Jembatan tersebut merupakan satu-satunya akses warga menuju Kelurahan Mangunharjo dan jalan utama.
Sejak jembatan ambruk, aktivitas harian warga berubah menjadi perjuangan. Mereka terpaksa menghadapi risiko keselamatan demi tetap bekerja, bersekolah, dan memenuhi kebutuhan hidup.
Tak ingin terisolasi, warga berinisiatif membuat jalur penyeberangan darurat. Dengan memanfaatkan jirigen bekas, gabus, bambu, hingga papan seadanya, mereka merakit sampan kecil atau getek untuk menyeberangi Sungai Beringin.
Setiap hari, sampan sederhana itu menjadi tumpuan harapan. Digunakan oleh warga yang berangkat bekerja, anak-anak sekolah, hingga ibu-ibu yang berbelanja kebutuhan pokok. Sungai yang sebelumnya tenang kini menjadi batas yang memisahkan warga dari akses kehidupan normal.
Kondisi tersebut telah berlangsung hampir dua pekan dan sangat dirasakan oleh Nur Afifah, warga RT 8 RW 7. Ia harus menyeberangi sungai setiap hari menggunakan getek, baik untuk berdagang maupun mengantar anaknya ke sekolah.
Afifah bahkan berangkat sekitar pukul 23.30 WIB setiap malam untuk berjualan ikan di Pasar Karangayu. Meski relatif aman saat cuaca cerah, situasi berubah drastis ketika hujan turun.
“Kalau pas hujan jalannya becek. Bawa ikan ember-emberan jadi susah, sedih banget, Mas. Kalau pagi ngantar anak sekolah, malamnya saya jualan ikan basah di Pasar Karangayu. Ini sudah hampir dua minggu lebih,” ungkap Afifah kepada Indoraya.News, Kamis (29/1/2026).
Anak Sekolah Harus Antre Naik Sampan
Pantauan di lokasi menunjukkan aktivitas penyeberangan paling padat terjadi pada pagi hari, terutama saat anak-anak berangkat sekolah dan warga menuju tempat kerja. Kepadatan serupa juga terjadi saat jam pulang sekolah.
Aji Mas Pratama, siswa MI Kali Wihaya Mangkang Wetan, mengaku tidak takut menyeberang menggunakan sampan. Namun ia kerap harus mengantre bersama siswa lainnya hingga terlambat masuk kelas.
“Enggak takut sih, tapi harus antre jadi sering telat berangkat. Ya pengennya ada jembatan lagi biar enggak susah dan enggak telat,” katanya.
Sementara itu, Sekretaris RW 7, Fahrurozi mengatakan, seluruh RT di wilayahnya telah menggelar pertemuan untuk membahas penanganan jembatan roboh tersebut. Dampak kerusakan jembatan dirasakan oleh seluruh warga RW 7 yang terdiri dari sembilan RT.
“Tadi malam sudah ada pertemuan RT 1 sampai RT 9 membahas pembuatan jembatan di sungai timur ini. Ini satu RW, RW 7, sembilan RT,” jelasnya.
Ia menambahkan, aspirasi warga telah disampaikan kepada Pemerintah Kota Semarang hingga Pemerintah Provinsi Jawa Tengah. Namun hingga kini, pembangunan jembatan belum terealisasi.
“Sudah disampaikan ke Pemkot dan provinsi, tapi katanya tidak bisa dibangun langsung karena ini wewenangnya pusat. Bisa satu tahun atau dua tahun. Harapannya Presiden Prabowo mendengarkan langsung keluhan masyarakat RW 7, karena sudah dua minggu lebih. Kalau banjir datang, warga enggak bisa lewat,” pintanya.


