INDORAYA – Pemerintah Kota Semarang langsung bergerak cepat menangani jebolnya Jembatan Beringin yang menghubungkan wilayah Mangunharjo dan Tambaksari setelah ambrol diterjang banjir berintensitas tinggi pada Kamis (15/01/2026). Jembatan tersebut merupakan akses utama warga untuk beraktivitas sehari-hari.
Sejak kejadian, jajaran perangkat daerah terkait telah diterjunkan ke lokasi guna melakukan pengecekan menyeluruh terhadap tingkat kerusakan infrastruktur. Penanganan darurat difokuskan pada aspek keselamatan warga sekaligus menyiapkan langkah perbaikan jangka menengah dan panjang.
Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng, menyampaikan keprihatinannya sekaligus menegaskan bahwa keselamatan masyarakat menjadi prioritas utama pemerintah kota.
“Keselamatan masyarakat adalah yang utama. Kami langsung meminta rekan-rekan OPD terkait untuk langsung menuju lokasi guna pengecekan keseluruhan. Ini memang jembatan lama, dibangun tahun 1996 dan kondisinya sudah tidak mampu menahan beban banjir yang semakin ekstrim. Karena itu, penanganan harus kita lakukan secara menyeluruh, tidak hanya jembatannya saja, tetapi juga sungai dan bantaran di sekitarnya,” ujar Agustina.
Menurut Agustina, curah hujan tinggi yang belakangan terjadi, sebagaimana peringatan dari BMKG, memberi dampak besar bagi Kota Semarang yang secara geografis berada di wilayah dataran rendah.
Minimnya daya serap air di wilayah hulu membuat aliran air langsung menuju kawasan hilir dan muara, sehingga meningkatkan risiko banjir sekaligus memperparah gerusan pada infrastruktur seperti jembatan.
“Air hujan dari wilayah atas langsung masuk ke Kota Semarang karena daya resapnya sudah sangat berkurang. Fenomena alam ini membuat tekanan pada sungai dan jembatan semakin besar,” ujarnya.
Tak hanya fokus pada perbaikan jembatan, Pemkot Semarang juga menyiapkan langkah terpadu untuk mengurangi risiko banjir ke depan. Upaya itu meliputi penataan bantaran sungai, normalisasi alur air, hingga evaluasi kapasitas saluran dan selokan besar yang masih dapat dioptimalkan.
Langkah tersebut dinilai sebagai solusi yang lebih efektif dalam pengendalian banjir jangka menengah dan panjang, terutama di wilayah rawan genangan.
Agustina juga menginstruksikan Penjabat Sekretaris Daerah bersama Bappeda, Dinas PU, BPBD, dan OPD terkait untuk turun langsung melakukan pengecekan lapangan serta mengoptimalkan dana operasional dan pemeliharaan.
“Kita fokuskan pada perbaikan yang berdampak langsung. Tidak harus selalu dengan anggaran besar, tapi tepat sasaran. Saluran yang sudah ada kita optimalkan, dan jika di atasnya terdapat bangunan, akan kita komunikasikan secara baik dengan warga,” jelasnya.
Selain langkah teknis, Pemkot Semarang juga membuka ruang dialog dengan masyarakat, khususnya terkait penataan lahan di sekitar bantaran sungai yang sebagian merupakan milik warga. Pendekatan persuasif dikedepankan demi menjaga keselamatan bersama sekaligus keberlanjutan lingkungan kota.
“Kami mengajak seluruh warga untuk bersama-sama menjaga lingkungan dan mendukung upaya penataan ini. Pemerintah hadir, bekerja, dan berkomitmen agar kejadian serupa tidak terus berulang,” tutup Agustina.


