Ad imageAd image

Jadikan Cak Imin Cawapres, Pengamat Nilai Anies Berpeluang Gaet Suara NU di Jatim-Jateng

Athok Mahfud
By Athok Mahfud 879 Views
3 Min Read
Anies Baswedan dan Muhaimin Iskandar. (Foto: istimewa)

INDORAYA – Calon presiden usungan Partai NasDem Anies Baswedan akhirnya resmi menjadikan Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar atau Cak Imin sebagai calon wakil presiden pendampingnya dalam mengarungi kontestasi Pemilu 2024.

Deklarasi Anies Baswedan dan Muhaimin Iskandar sebagai capres-cawapres digelar di Surabaya, Jawa Timur pada Sabtu 2 September 2023 lalu. Dipilihnya Cak Imin menjadi cawapres diyakini sebagai satu strategi meraup suara publik.

Menurut pengamat politik asal Universitas Diponegoro Semarang Fitriyah, Cak Imin dijadikan pendamping Anies karena Partai NasDem Ingin manggaet suara dari basis NU yang selama ini kuat di Jatim dan Jateng.

“Anies itu kan lemah di basis NU. Jadi dia mengincar yang basis NU-nya kuat, kaya Jawa Timur dan Jawa Tengah, itu dimiliki oleh PKB,” ujarnya saat dihubungi belum lama ini.

BACA JUGA:   Abdul Kholik Sampaikan Alasan Maju Kembali DPD RI Jateng

Sebelum resmi bersama Cak Imin, Anies digadang-gadang akan berpasangan dengan Ketua Umum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) yang lebih dulu membentuk Koalisi Perubahan untuk Persatuan.

Namun menurut Fitriyah, AHY kurang begitu kuat dan menguntungkan untuk Anies. Sehingga akhirnya memilih Cak Imin dengan peluang dapat meraih suara dari kalangan NU di Jatim dan Jateng.

“Kalau hitung-hitungan ya, untuk menang itu AHY menjadi pertimbangan. Anies mungkin lebih populer di Jabar. Bagaimana kalau di Jateng sama Jatim, itu jadi pertimbangan,” bebernya.

Di sisi lain, posisi Cak Imin dalam barisan Ketua Umum Gerindra Prabowo Subianto juga terancam sejak PAN dan Golkar ikut bergabung. Sehingga Cak Imin memilih menjadi bacawapres Anies.

BACA JUGA:   Pengamat Politik Berikan Catatan untuk Ganjar, Sebelum Purna Harus Fokus Tangani Persoalan Ini

“Dulu ketika hanya dua (Gerindra dan PKB), posisi Cak Imin cukup kuat. Kan Gerindra tidak bisa maju sendirian, harus dengan tambahan partai. Itu sebenarnya cukup dengan tambahan PKB. Presidennya dari Gerindra, Wakilnya dari PKB,” ujar Fitriyah.

Dosen Ilmu Pemerintahan Undip yang fokus pada studi Pemilu dan Partai Politik ini menilai, langkah tersebut merupakan pertemuan benang merah. Yakni ambisi Anies untuk menang dan kerisauan Cak Imin jika tidak terpilih sebagai Cawapres Prabowo.

“Kemudian ada PAN dan Golkar masuk, kan petanya berubah. Artinya gerindra tidak lagi bergantung kepada PKB, harapan jadi Cawapres (untuk Muhaimin) itu semakin lemah” jelasnya.

BACA JUGA:   BMKG Petakan 30 Daerah di Jateng Berstatus Awas Kekeringan dan Jarang Hujan

Berdasarkan pengamatannya, Fitriyah memandang bahwa PKB dan Demokrat sama-sama mengincar kursi cawapres. Bahkan, tindakan mengancam untuk keluar dari koalisi jika tidak diberikan kursi cawapres sering terlontar dari kedua kubu.

“Masing-masing baik Demokrat maupun PKB itu sering kan semacam tarik-ulur, saling mengancam. Surya Paloh (Ketua Umum NasDem) melihat peluang itu. Posisi Cak Imin yang mungkin akan tergeser dengan masuknya PAN dan Golkar, yang sementara satunya tidak menghendaki AHY,” ungkapnya.

“Makanya terjadi pertemuan antar benang merah kepentingan itu. Antara kebutuhan Surya Paloh untuk melengkapi Anies itu adalah basis yang dibutuhkan di daerah di luar Jabar. Itu kan (basis PKB) kuat di Jatim dan Jateng, mungkin pertimbangannya itu,” tandas Fitriyah.

Share this Article
Leave a comment