Ad imageAd image

Jadi Tersangka Korupsi Rp 61 M, Eks Kabag Admin Bank Banten Segera Disidang

Redaksi Indoraya
By Redaksi Indoraya 591 Views
2 Min Read
Ilustrasi korupsi. (Foto: Istimewa)

INDORAYA – Kepala Administrasi Kredit Bank Banten, Darwinis menjadi tersangka perkara korupsi kredit macet sebanyak Rp 61 miliar Bank Banten. Tim penyidik Kejaksaan Tinggi (Kejati) Banten, menyerahkan tersangka ke Kejaksaan Negeri (Kejari) Serang untuk segera disidang.

Sebagai informasi, proses penyidikan kasus ini dilakukan Kejati Banten, sementara penuntutannya disusun oleh Kejari Serang.

“Sudah tahap dua atas nama tersangka DWS, atas tindak pidana korupsi penyimpangan dalam pemberian fasilitas kredit modal kerja dan kredit investasi Bank Banten ke PT HNM,” kata Kasi Penkum Kejati Banten Ivan H Siahaan, Kamis (4/5/23).

Peran Darwinis sebagai Kabag Admin Bank setempat adalah memuluskan pencairan ke PT Harum Nusantara Makmur (HNM). Dalam kasus ini, eks Kepala Divisi Komersil Satyavadin Djojosubroto dan Direktur PT HNM Rasyid Samsudin sudah terlebih dahulu divonis bersalah.

Lebih lanjut, Kasi mengatakan tersangka Darwinis akan ditahan di Rumah Tahanan Negara Klas IIB Serang, dalam 20 hari ke depan atau sampai tanggal 23 Mei 2023.

“Setelah tahap II (penyerahan tersangka dan barang bukti), jaksa penuntut umum akan menyusun surat dakwaan dan segera melimpahkan perkara tersebut ke Pengadilan Tipikor Serang untuk disidangkan,” paparnya.

Sebelumnya, Darwinis diduga telah meloloskan kredit ke PT HNM, yang akhirnya macet pembayaran, sehingga merugikan keuangan negara Rp 61 miliar. Akhirnya, pada Maret lalu dirinya ditetapkan menjadi tersangka dan langsung ditahan oleh tim penyidik.

“Ternyata dia meloloskan atau banyak dokumen itu seharusnya tidak layak, dibuat layak sehingga cari sebesar Rp 61 miliar,” kata Kajati Banten Didik Farkhan Alisyahdi pada Senin (21/3) lalu.

Untuk diketahui, Vonis Satyavadin telah divonis 3 tahun penjara dan denda Rp 300 juta subsider 3 bulan. Sementara Rasyid divonis penjara 11 tahun penjara dan denda Rp 350 juta subsider 4 bulan, serta disanksi membayar uang pengganti Rp 58,1 miliar.

Share this Article
Leave a comment