INDORAYA – Komisi D DPRD Jawa Tengah menyoroti masifnya alih fungsi lahan di lereng Gunung Slamet yang menjadi pemicu utama banjir bandang dan tanah longsor di Kabupaten Pemalang, Kabupaten Tegal, dan Kabupaten Purbalingga.
Ketua Komisi D DPRD Jateng Nur Saadah mengatakan, pihaknya baru saja melakukan peninjauan bersama Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Wilayah Slamet Utara di kawasan lereng Gunung Slamet.
Berdasarkan tinjauan, banjir dan longsor bukan disebabkan oleh aktivitas penambangan di Gunung Slamet. Pasalnya, lokasi penambangan berada cukup jauh dari titik kejadian bencana.
“Setelah kita cek bahwa penambangan itu berada di bawah. Sementara longsoran atau bencana yang terjadi itu berjarak sekitar antara 11 sampai 14 km dari lokasi penambangan,” kata Nur Saadah saat dihubungi melalaui sambungan telepon, Rabu (4/2/2026).
Ia menambahkan, proyek penambangan yang berjalan saat ini dinilai telah memenuhi ketentuan dan perizinan yang berlaku. Dengan demikian, aktivitas tambang bukan faktor langsung penyebab bencana.
Nur Saadah justru menilai alih fungsi lahan di lereng Gunung Slamet sebagai pemicu utama bencana. Perubahan dari tanaman keras menjadi lahan pertanian sayuran dianggap mengurangi daya serap air tanah.
“Usut punya usut ternyata memang alih fungsi lahan di daerah yang lebih atas, di Lereng Gunung Slamet itu mungkin ada sayuran, kentang, dan macam-macamnya untuk tanaman pertanian yang hidupnya di perbukitan itu yang sangat mengkhawatirkan dan memicu terjadinya bencana longsor karena serapan air di daerah atas berkurang,” tegasnya.
Menyikapi temuan tersebut, Komisi D DPRD Jateng mendorong Pemprov Jateng melalui dinas terkait untuk meningkatkan edukasi dan pengawasan terhadap masyarakat.
Langkah ini diharapkan dapat meminimalisir perubahan penggunaan lahan di kawasan rawan bencana dan mencegah terulangnya kejadian serupa di masa depan.
“Intinya bahwa dinas terkait dalam hal ini Dinas Peternakan dan Pertanian juga Dinas Lingkungan Hidup itu bisa memberikan edukasi pada masyarakat bahwa alih fungsi lahan di Lereng Gunung itu sangat membahayakan untuk (menjadi pemicu) terjadinya longsor,” pungkas Nur Saadah.


