INDORAYA – Serangan Israel kembali menghantam wilayah Gaza di tengah gencatan senjata yang masih berlangsung. Badan pertahanan sipil Gaza melaporkan sedikitnya tujuh warga Palestina tewas akibat rangkaian serangan terbaru, dengan mayoritas korban merupakan warga sipil, termasuk anak-anak.
Juru bicara badan pertahanan sipil Gaza, Mahmud Bassal, menyebut serangan paling mematikan terjadi di Gaza selatan. Sebuah drone dilaporkan menghantam tenda yang digunakan sebagai tempat berlindung para pengungsi.
“Empat orang termasuk tiga anak tewas ketika sebuah drone menghantam tenda yang menampung pengungsi di Gaza selatan,” kata juru bicara badan pertahanan sipil Gaza, Mahmud Bassal, dilansir AFP, Kamis (8/1/2026).
Serangan juga dilaporkan terjadi di wilayah lain di Jalur Gaza. Di bagian utara, seorang anak perempuan berusia 11 tahun tewas akibat serangan di sekitar kamp pengungsi Jabalia. Selain itu, sebuah sekolah turut menjadi sasaran serangan yang menewaskan satu orang.
“Di utara Jalur Gaza, seorang gadis berusia 11 tahun tewas di dekat kamp pengungsi Jabalia dan serangan terhadap sebuah sekolah menewaskan satu orang, sementara sebuah drone di dekat Khan Yunis di selatan menewaskan seorang pria,” tambahnya.
Menanggapi laporan tersebut, militer Israel menyatakan tengah melakukan pemeriksaan terkait dugaan serangan di sejumlah lokasi di Gaza.
Serangan terbaru ini terjadi di tengah gencatan senjata rapuh yang disponsori Amerika Serikat (AS) dan mulai berlaku sejak 10 Oktober. Kesepakatan tersebut sebelumnya sempat menekan intensitas pertempuran antara pasukan Israel dan Hamas, meski kedua pihak kerap saling menuduh adanya pelanggaran.
Kementerian kesehatan Gaza mencatat bahwa sejak gencatan senjata diberlakukan, sedikitnya 425 warga Palestina tewas akibat serangan Israel. Sementara itu, militer Israel mengklaim bahwa kelompok militan telah membunuh tiga tentaranya dalam periode yang sama.
Berlanjutnya serangan ini kembali menimbulkan kekhawatiran internasional terkait keselamatan warga sipil di Gaza, khususnya perempuan dan anak-anak, di tengah situasi kemanusiaan yang masih kritis.


