INDORAYA — Realisasi investasi di Provinsi Jawa Tengah menunjukkan tren penguatan yang konsisten sepanjang tahun 2025. Namun begitu, Wakil Ketua DPRD Jawa Tengah Heri Pudyatmoko menilai bahwa momentum tersebut perlu diikuti dengan kebijakan yang memastikan dampak nyata bagi pembangunan daerah dan kesejahteraan masyarakat.
Data pemerintah provinsi mencatat bahwa realisasi investasi sepanjang tahun 2025 mencapai Rp88,50 triliun, meningkat sekitar 28,9 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Capaian ini berasal dari kombinasi investasi dalam negeri dan modal asing, serta menyerap puluhan ribu tenaga kerja.
Selain itu, dalam gelaran Central Java Investment Business Forum (CJIBF), sebanyak 34 investor menyatakan komitmen investasi senilai sekitar Rp5 triliun melalui nota kesepahaman dengan pemerintah daerah, dengan fokus sektor-sektor seperti energi terbarukan dan industri hilir.
Menanggapi kondisi ini, Heri Pudyatmoko menilai angka investasi yang terus meningkat merupakan sinyal positif bagi iklim usaha.
Namun ia menegaskan bahwa tantangan berikutnya adalah memastikan realisasi investasi itu memberikan manfaat langsung bagi masyarakat lokal, bukan hanya menjadi indikator kuantitatif.
“Angka investasi yang meningkat itu penting, tetapi kita harus melihat bagaimana investasi itu menyentuh ruang-ruang kehidupan masyarakat luas, dari akses pekerjaan, pengembangan UMKM, hingga peningkatan layanan publik,“ ujar Heri.
Menurutnya, pertumbuhan investasi tidak boleh dipisahkan dari kebutuhan daerah akan ketahanan ekonomi, pemulihan usaha lokal dan pemerataan manfaat pembangunan.
Ia menggarisbawahi pentingnya kebijakan daerah yang mengarahkan investor untuk berkontribusi pada penyerapan tenaga kerja lokal. Termasuk juga kontribusi terhadap transfer teknologi dan pengembangan keterampilan warga, terutama di wilayah-wilayah yang masih tertinggal.

Heri juga mencatat bahwa banyak proyek investasi menciptakan peluang kerja baru. Realisasi investasi di kuartal pertama 2025 saja telah menyerap hampir 97.550 tenaga kerja dari lebih 20 ribu proyek yang terealisasi.
“Jika investasi hanya terpusat pada kawasan tertentu atau industri tertentu, maka dampaknya hanya terasa di sebagian wilayah saja. Kita perlu strategi yang mendorong investasi menyentuh sektor-sektor strategis seperti agroindustri, energi baru terbarukan dan industri pengolahan lokal,“ katanya.
Heri menilai bahwa penguatan kawasan ekonomi khusus seperti Industropolis Batang dan kolaborasi dengan investor internasional dapat menjadi peluang strategis bagi Jawa Tengah.
Akan tetapi itu memerlukan dukungan kebijakan yang jelas dari pemerintah daerah dalam bentuk insentif yang tepat, dukungan infrastruktur dan kemudahan perizinan yang tetap memperhatikan aspek sosial dan lingkungan.
“Investasi harus menjadi alat untuk memperkuat struktur ekonomi daerah, bukan sekadar angka besar di laporan tahunan,” tegasnya.
“Kepastian kerja, peningkatan keterampilan dan sinergi antara investor dengan masyarakat lokal harus kita dorong bersama,” pungkas Heri.


