INDORAYA – Universitas Diponegoro melalui Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) menggelar International Visiting Lecturer dengan tema “Media, Power, and Women’s Resilience in the Digital Age” pada Kamis, 2 Oktober 2025.
Kegiatan ini menghadirkan Lailatul Fitriyah, Assistant Professor of Interreligious Education dari Claremont School of Theology, Amerika Serikat, serta Nuriyatul Lailiyah, dosen Departemen Ilmu Komunikasi FISIP UNDIP.
Dalam sambutannya, Dekan FISIP UNDIP, Teguh Yuwono memberikan apresiasi tinggi atas terselenggaranya kuliah internasional ini. Dia berharap forum ini menjadi ruang berbagi pengetahuan dan pengalaman yang bermanfaat.
“Media and power saat ini memiliki pengaruh besar serta berdampak langsung pada masyarakat. Kehadiran narasumber internasional akan memperkaya perspektif akademik kita semua,” ujarnya.
Ketua Departemen Ilmu Komunikasi, Agus Naryoso berharap, kegiatan ini dapat menjadi pintu bagi kerja sama akademik maupun non-akademik dengan mitra internasional.
“Melalui program ini, kami ingin terus memperkuat jaringan global, sehingga Departemen Ilmu Komunikasi dapat menjadi bagian dari percakapan akademik internasional,” tegasnya.
Sementara itu, Ketua KBK (Kelompok Berbasis Kepakaran) Sosiologi Media, Nurul Hasfi, mengaitkan tema ini dengan isu yang menjadi fokus penelitiannya, yaitu ketidaksetaraan gender di ruang redaksi.
Dia menceritakan bahwa pernah mengikuti FGD dengan 18 jurnalis dari berbagai negara di Asia Tenggara dan menemukan bahwa jurnalis perempuan masih merasakan ketidakamanan di newsroom.
“Berbagai tindakan tidak menyenangkan masih dialami, seperti verbal (sexual) harassment, catcalling, job segregation, dan sebagainya. Diskusi dalam seminar ini akan meningkatkan pemahaman kita tentang berbagai isu serupa dalam kehidupan sehari-hari,” kata dia.
Dalam presentasinya, Lailatul Fitriyah menekankan keterkaitan erat antara agama, gerakan sosial, dan media. Ia menjelaskan bagaimana media memiliki peran ganda. Yakni sebagai instrumen kuasa yang kerap membatasi suara perempuan, sekaligus sebagai ruang perjuangan dan resistensi.
Ia mencontohkan gerakan #MosqueMeToo serta Kongres Ulama Perempuan Indonesia 2017, yang menunjukkan bagaimana media mampu mengartikulasikan pengalaman kolektif perempuan dan membangun solidaritas lintas negara.
Selanjutnya, Nuriyatul Lailiyah, yang membawakan materi “Women and Digital Resilience: Internet for Social Change”, mengangkat isu pentingnya literasi digital dalam menghadapi digital fatigue yang dialami banyak perempuan.
Nuriyatul menunjukkan bahwa meskipun internet sering melelahkan, media digital tetap dapat menjadi ruang solidaritas dan advokasi.
Ia juga menekankan bahwa perempuan harus dipandang bukan sekadar konsumen informasi, melainkan aktor sosial yang mampu membentuk perubahan melalui media digital.


