Ad imageAd image

Indosat Gandeng Undip Semarang untuk Pengendalian Abrasi di Pantai Utara Jawa Lewat Teknologi IoT

Dickri Tifani
By Dickri Tifani 849 Views
4 Min Read
Director and Chief Business Officer Indosat Ooredoo Hutchison, Muhammad Buldansyah ( tengah berbaju putih ) bersama Dekan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) - Prof. Ir. Tri Winarni Agustini, M.Sc., Ph.D. (paling kanan) dan Wakil Rektor II - Prof. Dr.rer.nat. Heru Susanto, S.T., M.M., M.T. (baju merah) melihat teknologi IoT, di Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB) Undip, Senin (27/5/2024). (Foto: Dickri Tifani Badi/Indoraya)

INDORAYA – Indosat Ooredoo Hutchison (Indosat atau IOH) menggandeng Global System for Mobile Communication Association (GSMA) dan Universitas Diponegoro (UNDIP) untuk melestarikan lingkungan melalui program “Digitalisasi Konservasi Mangrove”.

Hal itu sebagai salah satu wujud dukungan terhadap konservasi mangrove di wilayah pesisir dengan memanfaatkan teknologi IoT untuk mengantisipasi dampak abrasi di Pantai Utara Jawa.

Sebagai informasi, Digitalisasi Konservasi Mangrove merupakan kelanjutan dari program Tanam Oksigen yang telah diluncurkan perusahaan, yang didedikasikan untuk mencegah punahnya udara bersih akibat masifnya emisi karbon dioksida.

Indosat telah memulai inisiasi secara internal yang melibatkan kayawan perusahaan untuk berperan aktif dalam penanaman mangrove secara digital.

Director and Chief Business Officer Indosat Ooredoo Hutchison, Muhammad Buldansyah menyampaikan bahwa isu perubahan iklim itu menjadi perhatian global lantaran dampaknya sangat signifikan di seluruh dunia. Khusus di
daerah pantai utara Jawa, pihaknya melihat abrasi kini telah menyebabkan banyak wilayah pesisir terendam, termasuk lahan produktif.

BACA JUGA:   Ingin Kerja di Universitas Diponegoro? Cek Lowongannya Di Sini

Lewat program Digitalisasi Konservasi Mangrove di Semarang ini, pihaknya berkomitmen mendukung upaya pengendalian abrasi lewat pelestarian vegetasi pantai utara Jawa.

“Program ini turut melibatkan sivitas akademika dariUniversitas Diponegoro, dalam rangka mendorong kolaborasi antara pihak akademisi dengan praktisi bidang teknologi. Langkah ini sejalan dengan transformasi Indosat dari perusahaan telekomunikasi (TelCo) ke perusahaan teknologi (TechCo),” jelasnya.

Melalui kolaborasi ini, Indosat menghadirkan solusi Internet of Things (IoT) berupa teknologi Silvo-fishery. Teknologi ini merupakan pengembangan sistem akuakultur yang menggabungkan teknologi perikanan dengan penanaman mangrove, dan turut dilengkapi dengan sistem manajemen yang mampu mengurangi dampak pada lingkungan.

“Dengan teknologi Silvo-fishery, kami mengandalkan kekuatan IoT-nya untuk memonitor kualitas air dan produktivitas tambak perikanan, sekaligus melestarikan ekositem mangrove di dalamnya,” katanya.

Berdasarkan data dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Indonesia memegang peran kunci dalam pelestarian lingkungan sekitar 23% dari total tanaman mangrove dunia, atau setara dengan 3,5 juta hektar.

BACA JUGA:   Tingkatkan Pengalaman Pelanggan, Indosat dan Ericsson Garap Proyek Transformasi CS Core

Jika dilihat itu, Muhammad mengatakan ekosistem ini memberikan manfaat penting bagi kehidupan manusia dan lingkungan, di antaranya sebagai habitat bagi berbagai biota laut, perlindungan pantai dari abrasi, dan penyerapan karbon dengan potensial 4-5 kali lipat lebih besar dari hutan daratan.

“Maka dari itu, inisiatif Indosat ini menjadi penting sebagai upaya bersama dalam melindungi dan memanfaatkan ekosistem mangrove secara berkelanjutan,” sambungnya.

Setelah berjalan di Banda Aceh dan Semarang, pihaknya menargetkan program Digitalisasi Konservasi Mangrove akan dilanjutkan di Sulawesi Selatan dan Nusa Tenggara Barat di tahun ini. Kolaborasi dengan universitas setempat menjadi salah satu fokus utama Indosat dalam mendukung terciptanya pusat riset dan inovasi unggulan yang diperkuat oleh sumber daya manusia lokal berkualitas, tidak hanya memperkuat peran teknologi.

“Tetapi juga dipastikan solusi yang dikembangkan didukung oleh pengetahuan ilmiah dan pemahaman mendalam tentang lingkungan setempat. Ini sejalan dengan misi Indosat dalam menghubungkan dan memberdayakan masyarakat Indonesia,” paparnya.

BACA JUGA:   Gus Yasin Beri Arahan Kepada Peserta KKL Undip Untuk Mengedepankan Kearifan Lokal

Sementara itu, Dekan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Diponegoro,
Prof. Ir. Tri Winarni Agustini, M.Sc., Ph.D, menyambut baik kolaborasi dengan Indosat untuk melestarikan ekosistem mangrove di pesisir utara Pulau Jawa.

Menurutnya, topik ini memang menjadi salah satu fokus penelitian di Universitas Diponegoro, khususnya di FPIK.

“Kami memiliki sejumlah pakar terkait konservasi mangrove dan FPIK siap mendukung penerapan IoT Indosat, termasuk analisis data serta penentuan lokasi program di area tambak desa Morodemak seluas 1 hektar. Kami harap dengan kolaborasi ini, pelaksanaan program Digitalisasi Konservasi Mangrove dapat berjalan secara efektif dan optimal, sehingga memberikan dampak positif yang sebesar-besarnya, tidak hanya bagi pelestarian lingkungan, tapi juga bagi peningkatan perekonomian masyarakat pesisir utara Pulau Jawa,” beber Winarni.

Bagi masyarakat umum yang ingin berkontribusi, dapat berpartisipasi langsung melalui ioh.co.id/tanamoksigenhttp://ioh.co.id/tanamoksigen dengan melakukan pembelian bibit mangrove. Upaya bersama ini sejalan dengan tujuan besar perusahaan, dalam memberdayakan Indonesia melalui teknologi.

Share this Article