INDORAYA – Indonesia masih menghadapi persoalan serius dalam pemenuhan tenaga medis. Kekurangan dokter, baik dokter umum maupun dokter spesialis, menjadi tantangan besar yang berdampak langsung pada kualitas layanan kesehatan nasional.
Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin mengungkapkan bahwa rasio jumlah dokter dibandingkan populasi penduduk Indonesia masih tertinggal jauh dari standar internasional. Kondisi tersebut ia sampaikan saat berada di Magelang, Kamis (9/1/2025).
Pernyataan itu disampaikan Menkes Budi ketika menghadiri peluncuran studi kedokteran program Sarjana dan pendidikan profesi Dokter di kampus Universitas Muhammadiyah Magelang (Unimma).
Ia menjelaskan, merujuk indikator Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan Bank Dunia, negara dengan kategori lower middle income idealnya memiliki satu dokter untuk setiap 1.000 penduduk. Sementara itu, rata-rata global berada pada angka 1,76 dokter per 1.000 penduduk.
“Indonesia dengan jumlah penduduk sekitar 280 juta, idealnya membutuhkan sekitar 280 ribu dokter. Saat ini posisi kita masih di angka 0,5 dokter per 1.000 penduduk,” katanya.
Tak hanya tertinggal secara global, Menkes Budi juga menyoroti posisi Indonesia di tingkat regional dan internasional. Di kawasan ASEAN, Indonesia berada di peringkat kedelapan, di bawah Myanmar, Thailand, dan Filipina. Bahkan di antara negara G20, Indonesia menempati posisi paling bawah, masih tertinggal dari India dan China.
Kondisi tersebut, menurutnya, menjadi dasar pemerintah mendorong peningkatan jumlah fakultas kedokteran di berbagai perguruan tinggi. Ia mengapresiasi langkah Muhammadiyah yang telah membuka fakultas kedokteran ke-23.
“Saya titip jangan berhenti di 23, Muhammadiyah punya jaringan besar, kalau bisa sampai puluhan lagi dalam 10 tahun ke depan supaya manfaatnya lebih luas,” katanya.
Selain jumlah tenaga medis, persoalan distribusi dokter juga menjadi perhatian. Menkes Budi menilai pendidikan kedokteran masih terlalu terpusat di Pulau Jawa, sehingga lulusan dokter cenderung bertugas di wilayah yang sama.
“Ke depan, saya berharap pembukaan fakultas kedokteran lebih banyak dilakukan di luar Jawa, terutama di Maluku, Nusa Tenggara, dan wilayah timur lainnya,” katanya.
Saat ini, jumlah dokter umum di Indonesia diperkirakan sekitar 160 ribu orang, sementara dokter spesialis sekitar 40 ribu orang. Namun, kebutuhan ideal belum terpenuhi karena Indonesia masih kekurangan sekitar 70 ribu dokter umum dan 40 ribu dokter spesialis.
“Kita butuh dokter spesialis minimal satu di setiap kota. Itu pun sebenarnya belum ideal, karena dokter juga butuh waktu istirahat dan tidak mungkin selalu siaga,” katanya.
Ia menambahkan, kapasitas produksi dokter saat ini juga masih terbatas. Indonesia hanya mampu mencetak sekitar 12 ribu dokter umum dan 2.700 dokter spesialis setiap tahun. Dengan laju tersebut, penutupan kekurangan dokter diperkirakan membutuhkan waktu yang cukup panjang.


