INDORAYA – PT Identix Kopi Nusantara melihat potensi besar kopi asal Jawa Timur, khususnya dari Kabupaten Bondowoso, untuk menembus pasar global. Peluang tersebut diperkuat melalui kolaborasi dengan para petani kopi yang tergabung dalam KUB Doa Coffee Bondowoso.
Tahun ini, kopi Bondowoso mulai melangkah ke pasar internasional. Sebanyak 700 ton kopi perdana disiapkan untuk diekspor ke China dan Uni Emirat Arab (UEA), menandai babak baru bagi komoditas unggulan dari lereng Gunung Argopuro.
Kolaborasi strategis antara KUB Doa Coffee Bondowoso dan manajemen Identix Semarang, dengan dukungan pemerintah daerah, menumbuhkan optimisme petani terhadap keberlanjutan kemitraan jangka panjang.
Dimana PT Identix Kopi Nusantara berperan sebagai pembeli utama (buyer) yang menghubungkan kopi dari berbagai daerah di Indonesia, termasuk Jawa Timur dan Jawa Tengah, untuk memenuhi permintaan pasar ekspor.
Perwakilan KUB Doa Coffee Bondowoso, Dani Firsada, menyampaikan bahwa pengiriman 700 ton kopi ini merupakan tahap awal dari kerja sama yang lebih besar.
“Ini pemesanan awal. Nanti dalam waktu akan datang ada pengiriman yang sangat fantastis. Artinya kami siap mengumpulkan para petani kopi se-Jawa Timur. Jadi, kami akan menyamakan persepsi agar bisa mengeksplor kopi ke luar negeri,” kata Dani saat ditemui Indoraya.News di lokasi pameran bisnis yang diinisiasi Pemprov Jatim dan Pemprov Jateng di Hotel Po Semarang, Jumat (30/1/2026).
Menurut Dani, langkah ekspor ini diyakini mampu meningkatkan nilai jual kopi Bondowoso di pasar global. Kopi yang dikirim telah dilengkapi rekam jejak produksi yang jelas, mulai dari lokasi kebun hingga petani penghasilnya.
Ia menjelaskan, ratusan ton kopi tersebut dipanen langsung dari perkebunan di lereng Gunung Argopuro yang dikenal sebagai salah satu sentra kopi unggulan di Bondowoso. Seluruh proses, mulai dari pemetikan, pengolahan, hingga pengemasan, telah mengantongi sertifikasi resmi dari Direktorat Jenderal Hak Kekayaan Intelektual (HKI) Kementerian Perindustrian.
“Ini nanti akan menambah nilai jual produk kami, karena semua kopi diambil langsung dari perkebunan di Bondowoso. Kalau kita baca di kemasan dari kami, ada sertifikat dari Dirjen Hak Kekayaan Intelektual. Kita ada kejelasan, dari kopinya ditanam dimana oleh petani siapa rekam jejaknya jelas,” urainya.
Dani juga menuturkan bahwa Indonesia memiliki lebih dari 50 ragam kopi dengan karakter cita rasa berbeda. Bondowoso sendiri memiliki dua varietas unggulan yang menjadi kebanggaan daerah. Sementara dari Jawa Tengah, kopi robusta Ungaran dan Temanggung serta arabika Temanggung juga menjadi komoditas andalan yang diminati pasar internasional.
Sejalan dengan itu, Dinas Perindustrian Jawa Timur menyatakan dukungan penuh terhadap ekspor kopi Bondowoso ke UEA dan China. Keunikan cita rasa kopi Bondowoso dinilai mampu membuka peluang lebih luas bagi kopi lokal Indonesia untuk bersaing di pasar global.
Chief Executive Officer Identix Group, Irma Susanti, menegaskan komitmen perusahaan dalam mendukung pengembangan industri kopi nasional, sekaligus mendorong keterlibatan UMKM dalam kolaborasi bisnis ekspor.
“Hasil kesepakatan, target transaksi dalam setahun senilai Rp51 miliar,” kata anggota DPP Kadin.
Komitmen tersebut mengemuka dalam Forum Temu Bisnis Pelaku Usaha Antarprovinsi yang dihadiri Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen dan Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa.
Menurut Taj Yasin, misi dagang ini menjadi momentum penting bagi Industri Kecil dan Menengah (IKM) serta UMKM untuk memperluas jejaring usaha lintas daerah.
“Melalui misi dagang ini, kami berharap potensi unggulan Jawa Timur dapat semakin dikenal dan dimanfaatkan di Jawa Tengah sesuai kebutuhan daerah. Begitu pula produk unggulan Jawa Tengah diharapkan dapat menjadi referensi dan role model pengembangan di Jawa Timur,” ujar Gus Yasin.
Misi dagang ini melibatkan 218 pelaku usaha dari Jawa Timur dan Jawa Tengah. Sejumlah perusahaan telah mencatatkan transaksi bernilai signifikan di sektor-sektor strategis.
Sementara itu, Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menyebut misi dagang dan investasi ke Jawa Tengah sebagai langkah awal yang positif dalam memperkuat sinergi ekonomi antardaerah.
“Ini pertama kalinya kami melakukan misi dagang dan investasi ke Jawa Tengah. Hingga pukul 13.00 WIB, nilai transaksi yang terbangun tercatat mencapai Rp2,9 triliun,” kata Khofifah.
Ia merinci, transaksi tersebut mencakup komoditas kayu, telur, ikan, cengkeh, dan tembakau. Jawa Timur menjual beras, kopi, daging ayam, hingga fillet dori dengan total penjualan mencapai Rp2,658 triliun, serta membeli produk dari Jawa Tengah senilai Rp184 miliar. Selain itu, tercatat investasi Jawa Timur di Jawa Tengah sebesar Rp96 miliar.
“Investasi ini salah satunya untuk mendukung program nasional, karena di Jawa Timur lahan sawah yang dilindungi sebagai lahan pertanian pangan berkelanjutan sudah terbatas. Maka Jawa Timur melakukan investasi di Jawa Tengah,” jelasnya.


