INDORAYA – Kolektif Hysteria, komunitas kesenian di Kota Semarang, kembali mendatangkan seniman dari luar kota melalui Program Seniman Residensi, Kandang//Tandang.
Pada perhelatan bertajuk “Hajatan” yang digelar di Jalan Stonen 29, Bendan Ngisor, Kecamatan Gajahmungkur, Kota Semarang, pada 25 Agustus 2025, Kolektif Hysteria menggaet seniman dari Malaysia, bernama Siti Gunong.
Siti Gunong ialah seniman yang fokus pada seni visual, khususnya sablon screen printing. Pemilihan Siti Gunong bukan tanpa alasan. Pasalnya dia dinilai memiliki metode yang menarik dalam bidang sablon.
“Kalau mayoritas screen printing itu pakai digital, si Siti ini justru pakai metode manual yang sederhana, DIY, kita menyebutnya. Itu yang membuat menarik,” kata Project Manager Program Residensi Seniman Kandang//Tandang Kolektif Hysteria, Sirril Wafa.
Selain metode yang ramah untuk pemula, Sirril juga menjelaskan jika karya-karya Siti cukup berbeda dari seniman dari Indonesia kebanyakan.
“Karya dia RAW gitu, bukan yang bersih gitu, kayak seniman visual biasanya. Terus juga yang diangkat lebih pada hal-hal yang dia temui saat itu. Itu yang bikin menarik,” ujar pemuda asal Demak tersebut.
Lebih dekat, Siti Gunong menjelaskan bahwa dirinya sudah lima tahun mendalami dunia sablon, sebelum akhirnya meniti karier sebagai seniman visual selama dua tahun.
Ia mengatakan bahwa selama menjadi seniman, perempuan asli Sarawak itu sudah seringkali menggelar pemaren di Malaysia. Meski begitu, agendanya bersama Kolektif Hysteria adalah pengalaman pertamanya berkarya di luar negeri.
“So, untuk aku ini pertama kali aku bikin pameran di luar Malaysia. Dan pertama kali juga aku bikin pameran, yang sebelum pameran itu ada workshop. So, sangat-sangat benar baru untuk aku,” ungkap Siti.
Diketahui program ini diisi dengan beberapa agenda. Yakni lokakarya/workshop dan pameran. Sehingga, para seniman yang diundang tidak hanya unjuk gigi memamerkan hasil karya mereka.
Tetapi memberikan ilmu kepada peserta, khususnya seniman internal dari Kolektif Hysteria. Setelah itu, barulah hasil dari lokakarya, dipamerkan.
Pada kesempatan kali ini, Siti membagikan pengalaman dan ilmunya terkait dunia sablon. Tepatnya, menyablon atau screen printing, melalui metode stensil.
Perihal tajuk acara, Siti menjelaskan bahwa “Hajatan” dipilih karena memiliki alasan tersendiri. Hal ini berkaitan dengan objek yang ia gunakan. Seperti makanan, piring, dan meja makan.
“Beberapa tahun ini, aku sangat banyak tertarik pada makanan. Soalnya, sebelum ini aku memang orang yang tidak peduli sama makanan,” ujar Siti.
“Orang yang memang nggak tahu apa yang aku makan. Kalau bisa, makan sekali sehari itu udah cukup,” lanjut dia.
Namun pada akhirnya, ia sadar, bahwa makanan menjadi objek yang penting baginya. Sebab makanan bisa menjadi medium seseorang untuk menyampaikan pesan, emosi dan nilai-nilai kehidupan, melalui visual.
“Saya percaya, bahwa ketika ketika kta memasak, kita secara tidak langsung meletakkan perasan kita ke dalamnya,” ujarnya.
“Seperti kejujuran, keikhlasan, kemarahan, rasa bersyukur dan lainnya. Namun, tergantung juga kepada siapa itu (makanan) diberikan (pada akhirnya,” lanjut perempuan 28 tahun tersebut.
Ia juga menegaskan bahwa kegiatan memasak, bisa menjadi bentuk meditasi. Memasak, bagi dia, ialah sebuah ruang untuk kita merenung dan menyelami diri sendiri.
Dalam praktiknya, lokakarya yang digelar di Grobak Art Kos, Jalan Stonen 29, Bendan Ngisor, Gajahmungkur, Kota Semarang, pada tanggal 25 Agustus 2025 tersebut diikuti setidaknya lima orang partisipan.
Program Seniman Residensi Kadang//Tandang sendiri masuk dalam rangkaian Penta Klabs 5, yang digelar oleh Kolektif Hysteria selama sebulan penuh pada Agustus 2025.
Agenda ini didukung oleh Event Strategis, Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia (RI), melalui Program Dana Indonesiana.


