INDORAYA – Harga emas batangan Antam pagi ini, Senin 10 November 2025, menguat Rp8.000 per gram menjadi Rp2.307.000, menurut data resmi Logam Mulia.
Kenaikan ini terjadi setelah harga stabil di Rp2.299.000 selama akhir pekan, didorong pemulihan spot XAU/USD ke USD 4.012 per ounce pasca-data PCE inflasi AS lebih rendah dari ekspektasi. Buyback emas Antam juga naik Rp8.000 menjadi Rp2.172.000 per gram, menjadikannya opsi menarik bagi investor yang ingin jual aset emas fisik.
Data BPS menunjukkan permintaan emas perhiasan di Jawa Tengah naik 8 persen, didorong musim pernikahan, meski rupiah lemah di Rp16.200/USD sedikit tekan daya beli domestik.
Kenaikan ini menjadi lanjutan tren bulanan di mana emas Antam naik 5,2 persen sejak Oktober, meski sempat koreksi 8,3 persen dari puncak Rp2.485.000 pada 21 Oktober.
Thendra Awak, Chief Analyst HRTA Gold, memprediksi harga bisa menyentuh Rp2.400.000 akhir November jika The Fed menunda rate cut ketiga akibat data tenaga kerja kuat.
“Emas tetap menjadi safe haven; dengan yield AS di 4,25 persen dan geopolitik Timur Tengah memanas, XAU/USD bisa menyentuh USD 4.200 sebelum akhir tahun,” katanya dalam update pagi ini.
Morgan Stanley memproyeksikan emas global USD 4.500 per ounce mid-2026, mendorong aliran dana ke ETF emas lokal yang naik 22 persen YoY. Impor emas naik 15 persen, tapi kebijakan Prabowo untuk mendorong tambang di Papua dan Sulawesi bisa menekan harga domestik jangka panjang.
Di ritel, toko emas di Glodok dan Pasar Baru Jakarta menawarkan buyback Rp2.172.000 per gram, naik Rp8.000 dari kemarin.
Investor disarankan melakukan akumulasi bertahap di level Rp2.280.000–2.320.000, terutama dengan premi 3-5 persen untuk emas fisik. Transaksi emas digital via Pegadaian naik 25 persen, populer di kalangan milenial di Bandung dan Semarang yang hindari biaya penyimpanan.
Kenaikan emas Antam menjadi peluang investasi: lindung nilai inflasi 2,5 persen dan rupiah fluktuatif, dengan fundamental global masih mendukung apresiasi lebih lanjut. [dm]


