Ad imageAd image

Gejala Kekeringan Muncul di Jateng, 50 Hektare Sawah di Rembang Gagal Panen

Athok Mahfud
By Athok Mahfud 916 Views
2 Min Read
Seorang petani di Dusun Seneng, Desa Jatirunggo, Kecamatan Pringapus, Kabupaten Semarang, sedang menjemur gabah pada musim panen tahun 2023 lalu. (Foto: Dok. Athok Mahfud/Indoraya)

INDORAYA – Berdasarkan prakiraan BMKG, sebagian wilayah di Jawa Tengah (Jateng) sudah memasuki musim kemarau pada awal bulan Mei 2024. Saat ini gejala kekeringan sudah mulai muncul dan berdampak pada sektor pertanian.

Kepala Balai Perlindungan Tanaman Pangan Hortikultura dan Perkebunan pada Dinas Pertanian dan Perkebunan (Distanbun) Jawa Tengah, Francisca Herawati mengatakan, saat ini sumber air permukaan untuk pengairan sawah petani mulai mengering.

Bahkan berdasarkan data petugas lapangan, sebanyak 50 hektare sawah di Kabupaten Rembang dilaporkan gagal panen atau puso karena terdampak kekeringan. Terkait hal ini, pihaknya akan memberikan bantuan benih pada musim tanam yang akan datang.

BACA JUGA:   Selang Kebocoran Usai Tangani Kebakaran TPA Jatibarang, Damkar Ajukan Anggaran BTT

“Iya bulan ini ada puso 50 hektare sawah, ini nanti kita monitor, kalau kekeringan kita carikan bantuan benih di musim tanam yang akan datang,” kata Herawati saat dihubungi Indoraya.news melalui panggilan WhatsApp, Jumat (24/5/2024).

Dia membenarkan bahwa faktor kekeringan di musim kemarau menjadi penyebab gagal panen pada 50 hektare lahan sawah tersebut. Menurutnya, sumber air permukaan yang biasa digunakan untuk irigasi petani di Rembang mulai mengering.

“(Penyebabnya) karena kekeringan, sumber air pemukaannya gak ada, itu dipompa pun gak bisa (gak keluar air). Kalau sepanjang masih ada sumber air permukaan sungai atau aliran waduk, itu mungkin bisa,” ujar Herawati.

BACA JUGA:   Target Investasi Jateng Rp79 Triliun, 97 Pabrik Industri Siap Relokasi

Selain Rembang, gejala kekeringan juga mulai dirasakan oleh petani di Kabupaten Pati. Pihaknya mendapat laporan bahwa warga harus menggunakan bantuan brigade alat mesin pertanian (alsintan) berupa pompa untuk bisa menyuplai air ke lahan pertanian.

“Terus kemudian di Pati kemarin sudah ada laporan, baru informasi, kalau data tertulis belum kami terima, cuma informasi dari petugas di lapangan sudah ada gejala kekeringan. Kekeringan itu yang utama sudah ada sumber air tapi tidak ada pompanya,” kata dia.

Mengatasi hal ini, pemerintah daerah bersama instansi lain seperti TNI/Polri telah meminjamkan pompa air untuk menyuplai kebutuhan air untuk produktivitas tanaman padi. Di samping itu, Distanbun Jateng juga berkomunikasi dengan pemerintah pusat.

BACA JUGA:   BPS Catat Wisatawan Penghuni Hotel di Jateng Meningkat Hingga 6,46 Persen

“Pusat (kementerian) rencananya juga akan memberi bantuan untuk solusi kekeringan, mungkin bantuan untuk pemberian air,” ungkap Herawati.

Share this Article